Inilah Beberapa Fakta Bekerja di Bidang Perhotelan

4
20682
The Luxury Hotel Jakarta - Exceptionally Yours

Menekuni profesi di bidang perhotelan mungkin akan nampak keren bagi sebagian orang, namun bisa pula dikategorikan sebagai profesi remeh-temeh karena toh pekerjaannya tak jauh berbeda dengan pembantu pun pelayan. Ya ngosek WC, nyapu, ngepel, nyuci piring, nyetrika, dan masih seabreg pekerjaan domestik lainnya.

Memang terlihat keren karena banyak anak perhotelan yang selalu dandan rapih sehingga nampak cantik pun tampan serta terjaga penampilannya. Namun kembaliu lagi, karena pekerjaan yang digelutinya sebatas berkutat pada urusan domestik yang tak jauh beda dengan kerjanya para pembantu di rumah, maka banyak pertanyaan sinis yang harus dihadapi anak-anak perhotelan ini. Di bawah ini adalah fakta-fakta pertanyaan yang sering ditujukan pada anak perhotelan.

Buat Apa Kuliah Perhotelan?

“Untuk apoa kuliah di bidang perhotelan?”     Itu adalah kalimat tanya yang tak asing lagi bagi mereka para pembelajar ilmu perhotelan. Ya, bisa dimaklumi. Karena meskipun tingkat pendidikan yang ditempuh setara dengan pendidikan sarjana, namun kuliah di perhotelan ini memanglah bukan satu tempat pemberi gelar kesarjanaan. Dan walaupun belakangan ini telah ada institusi yang menyematkan gelar sarjana pariwisata, akan tetapi menempuh kuliah perhotelan masih lazim ddilakukan dengan alasan utama karena memang hendak mempelajari ilmu perhotelan. Ilmu pembantu.

Dari keberadaannya itu, sangat wajar apabila ada banyak teman, saudara, sampai juga orang tua yang mempertanyakan hal serupa. Untuk apa kuliah perhotelan, mempelajari ilmu pembantu?

[Baca juga: Perbedaan Hotel, Resort, Villa, Apartement, dan Penginapan Lainnya]

STPB –Sekolah Tinggi Pembantu Bersertifikat

ENHAI yang kini menjadi Sekolah Tinggi Perhotelan di Indonesia ini ada beberapa, namun yang terkenal adalah di Bandung dan di Bali, sehingga singakatannya adalah STPB, yang memiliki kepanjangan Sekolah Tinggi Perhotelan Bandung (ataupun Bali). Karena ada banyak anak luar daerah yang kuliah di tempat ini, otomatis butuh tambahan uang saku untuk bisa melanjutkan belajarnya. Tak pelak kuliah di tempat itu juga dikatakan sebagai kuliah yang mahal, padahal hanya mau jadi orang susah karena berprofesi sebagai “babu.”

Babu sebagai kata lain dari pembantu pun pelayan ternyata masih dipandang sebelah mata bagi banyak orang Indonesia ini. Padahal kalau kita mau menyadari, bahkan Presiden pun sejatinya adalah pembantu dan pelayan, bukan? Mereka yang membantu presiden, baik menteri, jaksa, hakim, sebenarnya memiliki profesi yang tak jauh dari anak-anak perhotelan. Membantu, melayani dan meladeni!

Dari sini jika kita bisa membuka mata, sebenarnya dari birokrasi militer, berupa tentara pun polisi, hingga aparat sipil tingkat pedesaan, toh semuanya juga serupa dengan anak perhotelan, memberikan pelayanan. Justru belajar di bidang perhotelanlah maka akan memperoleh banyak ilmu pelayanan, baik itu tentang psikologi pelayanan, ilmu komunikasi, hingga bahasa untuk bisa memberikan pelayanan terbaik. Semuanya bisa ditimba dan lalu diamalkan kepada khalayak tentu saja jika dalam mempelajarinya tetap menggunakan otak dan juga hati.

Pekerja Hotel Dekat Dengan Urusan Kotor Dan Negatif

Karena citra hotel di negeri ini masih dikonotasikan dengan hal-hal yang berbau negatif, tempat menginap dengan pasangan gelap, tempat pergi dari kenyataan rumah tangga, dan masih banyak lagi alasan lainnya, maka tak sedikit orang mengasumsikan secara sempit terhadap keadaan seputar perhotelan. Menganggap bahwa perhotelan adalah sesuatu yang berhubungan dengan hal negatif.

Padahal itu tak benar adanya. Sesekali buka mata dan buka telinga. Baik dengan cara menonton film, mendengarikan banyak cerita (bukan satu cerita saja) pengalaman orang lain, lalu simpulkan tentang keberadaan dan fungsi hotel sesungguhnya. Pelajari pula jenis dan macam-macam hotel.  Jangan terlalu cepat menyimpulkan secara negatif, pasalnya jika otak memang sudah negatif bukan tidak mungkin semua pekerjaan orang lain akan begitu mudahnya dianggap negatif pula. Satu hal yang harus dipahami, bahwa apapun pekerjaannya, pastilah ada sisi negatif yang bisa dilakukan di balik sisi positifnya. Buktinya kerja di Departemen Agama yang mengurusi “kebajikan” juga tak bisa lepas dari tindak korupsi, bukan?

Kerjanya Keren, Pakai Jas!

Pepatah manca yang berbunyi “Don’t Judge a Book By Its Cover!” sepertinya harus tetap dibaca di setiap kondisi. Termasuk tatkala melihat seputar perhotelan. Jadi, sekiranya mengamati orang-orang yang bekerja di hotel, jangan lantas hanya melihatnya dari bagian luar saja. Pasalnya tak jauh beda dengan keadaan rumah tangga kita, di depan tentu saja akan dipajang dan diperlihatkan hal-hal yang enak dipandang mata. Petugas berpakaian rapih dan berjas, atau mengenakan kebaya yang eksotik. Ruangannya pun berpendingin AC, dan masih banyak lagi kemewahan lainnya. Padahal sejatinya di bagian sebaliknya tetap saja terdapat sisi berantakannya.

Mau Jadi Juru Masak Handal?

Alih-alih mau berpikiran positif namun terlalu dangkal menyimpulkannya. Itu juga bukan hal yang benar. Sebagaimana pertanyaan di atas, belajar ilmu perhotelan tak melulu bisa disimpulkan karena berkehendak menjadi tukang masak handal.

Ada yang harus dipahami bahwa di sebuah hotel itu, minimal terdapat tujuh departemen. Sementara tak semua orang bisa seenaknya memborong pelajaran di tujuh departemen itu. Ada jusrusan yang menjadi pusat konsentrasi sesuai minat dan spesialisasi, yaitu: Room Division yang meliputi jurusan Front Office dan juga jurusan House Keeping, bahkan juga Laundry. Divisi Food and Beverage yang terdiri atas jurusan F&B Product dan F&B Service. Ada pulal departement Marketing, Acounting, HRD, dan juga Sport Club.

Dari bidang masak-memasak yaitu yang mengambil spesialisasi F&B product, itu saja masih di bagi lagi ke dalam bagian Hot and Cold Kitchen, atau Pastry and Bakery. Jadi tak bisa dangkal dalam menyimpulkan bahwa belajar perhotelan pasti bakal menjadi chef handal.

Kerjanya Hanya Membersihkan Toilet dan Tempat Tidur

Serupa dengan pertanyaan sebelumnya, tak bisa dangkal dalam menyimpulkan profesi bidang perhotelan. Karena pekerjaannya ada banyak, maka bukan pula hanya sekadar membersihkan tempat tidur, mengepel lantai restoran, lantai loby, dan ngosek WC. Lain dari itu, ada banyak pekerjaan di bidang perhotelan yang bisa dilakukan. Hotel tak hanya menjual kamar saja, namun ia juga memasarkan makanan baik di restoran ataupun melalui pelayanan Room Service yang keduanya adalah produk F&B. Ruang meeting untuk kegiatan MICE, atau hiburan juga dihadirkan sebagai bentuk kekuatan hotel lainnya. Jadi, hotel tidak sebatas identik dengan kamar dan tempat tidur, bukan?

Mau jadi Babu Saja Biayanya Mahal

Mahal dan murah itu sejatinya relatif. Karena bukan cuma di bidang perhotelan saja yang bisa dibilang seperti itu. Mau belajar apa saja, pasti membutuhkan biaya, itu tak bisa dipungkiri. Mau jadi dokter saja juga butuh mengeluarkan biaya untuk praktek lho. Belum lagi kalau harus mengadakan penelitian atas organ tubuh manusia. Tak semua orang mau dengan mudah menjual tubuh dan mayatnya, bukan?        Di bidang tekhnik juga seperti itu, mau praktek juga butuh alat, butuh media. Dan itu wajib beli.

Serupa dengan kedua contoh di atas, praktek di bidang perhotelan, di dapur memotong daging ayam atau sapi itu bukan imitasi dagingnya. Praktek membersihkan kamar juga tak seperti main game di komputer. Semua dilakukan dengan media dan pada tempat yang menyerupainya. Minimal ada miniatur pun laboratorium lengkap dengan peralatan-peralatannya.

Belajar Begitu Gampang Ah!

Karena profesi perhotelan tak jauh beda dengan pekerjaan para pembantu, bisa jadi akan dianggap sebagai hal gampang untuk dilakukan.

Bisa benar, bisa pula tidak, Karena gampang dan susah itu kan kembali pada kemauan diri untuk belajar atau tidak, bukan? Yang pasti dalam mempelajari ilmu perhotelan, ada pelajaran tentang Ilmu Komunikasi, psikologi pelayanan, belajar manajemen perhotelan, belajar hitung hitungan untuk anak acounting, bahkan juga belajar marketing. Tentang belajar beberapa bahasa –dan budaya, itu adalah wajib. Sedangkan untuk bagian Food and Beverage tentu juga akan dipelajari banyak hal di area dapur, mulai dari tehnik knifing, atau menggunakan pisau, mempelajari jenis dan macam-macam rempah, bumbu dan terminologinya, seni meracik makanan, dan masih banyak lagi.

Jika hendak menekuni jurusan FB Product dan fokus pada pastry and bakery, tentu tak sedikit bahan dan juga teorinya. Semua itu hanya bisa dilakukan bagi yang memiliki kemauan. Sehingga soal mudah dan susah, sekali lagi itu kembali kepada pelakunya.

Istirahat dan Merokok Menjadi Surga Kecil

Bekerja dalam keadaan ramai, tiada waktu senggang, penuh complain, demanding, dan lain sebagainya, tak pelak membuat otak harus fokus dan konsentrasi dengan pekerjaan yang sedang ditangani. Bahkan adakalanya terjadi perang urat syaraf ketika bekerja dengan tuntutan hasil yang harus perfect. Itu semua akan menjadi reda adalah tatkala bisa menjumpai kembali waktu istirahat dan juga menghisap asap rokok. Ada kenikmatan yang tiada terhitung rasanya. Dan surga kecil adalah padanan katanya.

Siap Memeras Otak dan keringat

Ruang Hotel lebih banyak bakteri dibanding kamar mandi dan toilet
Ruang Hotel

Bekerja di hotel, mau di departemen mana saja, hampir tak ada pekerjaan yang enteng dan bisa dikerjakan sambil membaca komik. Ia adalah pekerjaan yang tak jauh dari peluh dan juga keringat.

Memeras otak karena ada komunikasi yang harus dijalin baik antar pekerja ataupun dengan tamunya. Dan itu butuh kemampuan lebih dalam hal berkomunikasi. Memeras keringat karena profesi perhotelan bukan sebatas duduk diam saja.

Tak berhenti di situ, meski harus berlumur peluh dan keluh, bekerja di hotel tetap dituntut selalu tersenyum, tetap segar, ceria, dan wajib menjawab setiap pertanyaan tamu. Memenuhi keinginan tamu yang kadang aneh (selagi tak melanggar batasan) adalah keharusan.            Bagian Front Office harus sabar meladeni dan mengantar tamu, anak marketing musti kejar target penjualan kamar, sedangkan orang-orang F&B dan kitchen harus bekerja dengan konsentrasi tinggi. Pun dengan bidang House Keeping, harus tahan dalam bekejar-kejaran dengan waktu. Semua juga dituntut untuk bisa multi tasking.

Cepat Dan Multi tasking

Musim ramai atau peak season adalah masa yang membutuhkan energi ekstra bagi anak perhotelan, karena untuk sekadar bernafas seperti biasanya saja kadang susah dilakukan. Sebagai contoh adalah bagian Front OPffice (FO) yang musti menjawab dan menanggapi semua kemauan tamu meski suara sudah habis. Juga musti menerima telepon yang masuk. Selain itu pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan adalah berkoordinasi dengan House Keeping dalam hal memenuhi kelengkapan kamar yang harus dibersihkan dan yang sudah bisa dijual.   Begitupun yang ada di bagian dapur, harus kerja cepat menyediakan breakfast. Maka manajemen waktu itu harus sangat dikuasai demi menghindari terjadinya  miss komunikasi. karena jika itu terjadi, tamatlah riwayat hotel dalam hal pelayanan terhadap tamu-tamunya.

Tetap Menyajikan Senyuman

Sebagai manusia apapun pekerjaannya, tetap saja memiliki keterbatasan. Namun bagi pekerja hotel, soal senyuman tak bisa ditolerir lagi. Karena dalam kondisi apapun, termasuk sedang capek, galau, bahkan susah move on akibat urusan dengan pasangan, semua itu tak bisa dijadikan alasan untuk absen memberikan senyuman. Jadi hati boleh rapuh, tapi casing tak bisa terlihat benjol!

Karena bisnis perhotelan tak jauh dari bisnis jasa dan pelayanan, maka prinsip tetap tersenyum dalam keadaan apapun ini serupa dengan pepatah tiongkok, “orang susah tersenyum dilarang buka toko.” Bahwa hotelier  yang hidupnya berada di land of hospitality tentu saja pekerajaannya penuh dengan keramah-tamahan, yang mengharuskan selalu memancarkan aura positif, dengan indikator paling sederhana dan wajib adalah menyajikan senyuman, Keep Smile.

Tahan Terhadap Cobaan

Karena profesinya adalah meladeni tamu dengan karakter bermacam-macam, tak pelak ada juga tabiat tamu yang kurangajar. Bukan saja sekadar menggoda, namun ada pula yang melecehkan. Hal ini bisa dipahami, karena tuntutan tetap memiliki badan segar dan menarik adalah bagian dari syarat bekerja di hotel. Akan tetapi ketika menerima perlakuan jahil dari tamu, bukan lantas itu tak ada kekuatan untuk melawannya. Begitulah bagian dari cobaan dari perlakuan buruk tamu yang musti dihadapi, namun tak bisa dipandang remeh untuk dimaklumi.

Memakan Dengan Lahap Menu “Guest Complain”

Jika tamu akan lahap dalam hal menikmati asupan makanan yang ia pesan, maka pekerja hotel tak seperti itu. Mereka yang sudah mantab menjalani profesi sebagai hotelier harus juga siap melahap menu berujud ‘Guest Complain.’ Orang Rusia marah pakai bahasa mereka juga musti kita dengar, orang Jawa mencak-mencak dengan bahasa Jawa ngoko-nya juga harus diladeni, orang Manado teriak-teriak makanannya kurang pedas, juga harus disimak.

Namun tak sebatas di telan, disimak, dan didengarkan saja. Mmelainkan harus ada tanggapan dan juga solusi dalam menangani setiap komplain yang dilontarkan oleh sang tamu. Pasalnya, pepatah yang berbunyi “tamu adalah raja” masih tetap berlaku di perhotelan. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Hanya Anak Perhotelan yang Merasakan Beberapa Hal ini. bersabda.com Diakses pada 21 Maret 2015
[2] Gambar ‘Hotel Borobudur Jakarta’ www.hotelborobudur.com Diakses pada 14 September 2014

Berbagi dan Diskusi

4 COMMENTS

  1. […] Dunia makanan dan obat-obatan mungkin tak akan diragukan lagi keberadaannya bagi masyarakat sekitar kita. Namun dunia kebersihan alias cleaning service masih menjadi profesi yang dianggap remeh dan dipandnag sebelah mata. Padahal jika kita mau mengamati, justru profesi tukang bersih-bersih inilah yang menjadi  tulang-punggung keberlangsungan hospitality industri pun dunia perhotelan. [Baca juga: Inilah Beberapa Fakta Bekerja di Bidang Perhotelan] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here