Penanggalan Saka Bali Merupakan Bagian Tradisi Indah di Nusantara

4
2591
Inilah Perbedaan Menarik Dalam Penanggalan Saka Bali

“Desa mawa cara, negara mawa tata.” Begitulah kalimat ungkapan berbahasa Jawa yang kurang lebih memiliki padanan bahwa setiap desa memiliki cara dan tradisi, sedangkan setiap negara pun memiliki tatanan sendiri-sendiri.

Jika kita mengamati beragam tradisi dan kebudayaan pada setiap kultur di nusantara ini, maka ungkapan berbahasa Jawa di atas sangat bisa dibenarkan. Meskipun ada beberapa hal kesamaannya, namun perbedaan menjadi identitas yang dianut dan dikelola oleh masyarakat pada masing-masing daerah. Masyarakat Jawa tentu saja tak akan sama persis dengan warga Sunda. Orang-orang Batak tentu saja akan memiliki kebiasaan berbeda dengan penduduk Makassar. Tradisi yang dilakukan penduduk Manado jelas tidak sama dengan tradisinya orang-orang Papua. Dan seterusnya.

Penanggalan

  • Penanggalan Masehi

Sebagaimana biasa, banyak orang lebih lazim menggunakan kalendar Masehi dalam keseharianya. Hal itu bisa dipahami, karena ada banyak contoh bisa dilihat secara mudah. Antara lain adanya banyak orang yang seolah telah menyepakati bahwa hari Senin merupakan hari dimulainya sebuah aktivitas pada awal minggu.

Dalam hal penanggalan ini, ada yang berbeda pada masyarakat Bali dibanding penduduk lain. Jika penduduk Jawa menggunakan penanggalan Jawa dan juga penanggalan Hijriah, maka selain menggunakan penanggalan Masehi, masyarakat Bali juga menerapkan Penanggalan Saka Bali.

  • Penanggalan Saka Bali

Pada kenyataannya, bukan saja masyarakat di Pulau Dewata. Sistem kalendar bernama Penanggalan Saka Bali ini juga diterapkan oleh sebagian masyarakat di Pulau Lombok, utamanya adalah mereka yang menganut kepercayaan Hindu. Bahkan juga diterapkan oleh masyarakat Hindu di Nusantara ini. Penerapan itu salah satunya adalah dalam hal perayaan Nyepi.

Penanggalan Hindu Bali

Dalam hal perhitungan, penanggalan Hindu Bali ini bisa dibilang sangat unik, karena dalam praktinya penanggalan ini merupakan sebuah konvensi, yaitu semacam kesepakatan. Oleh karena itu perhitungannya tak berlaku mutlak menggunakan perhitungan astronomi seperti pada penanggalan Jawa, Hijriah, ataupun Masehi.

Perhitungan pada penanggalan Hindu Bali ini boleh dikatakan berada di antara penanggalan Masehi dan Hijriah ataupun Jawa, yaitu di antara dasar perhitungan surya dan candra. Gabungan perhitungan penanggalan samsiyah dan komariyah.

Berbeda dengan Saka India

Di negeri India yang juga memiliki banyak penganut Hindu menerapkan penanggalan Saka. Namun penanggalan ini tak sama dengan Penanggalan Saka Bali. Pasalnya selain tak kaku menentukan perhitungan hanya berdasar pada peredaran matahari ataupun peredaran bulan, kalender Hindu Bali ini juga lebih merupakan kalendar Saka yang disesuaikan dengan budaya lokal.

Perhitungan Warige

Penanggalan Hindu Bali yang mendasarkan perhitungan di tengah komariyah dan samsiyah ini dinamakan sebagai perhitungan Warige.

Dalam perhitungan warige, ada kesepakatan perhitungan bahwa satu hari candra sama dengan satu hari surya. Dan meski pada kenyataannya durasi waktu dalam satu candra tak selalu sama dengan satu surya, namun dalam satu bulan (sasih), tetap disepakati berjumlah 30 hari.

  • Suklapaksa dan Kresnapaksa

Satu sasih yang berjumlah 30 hari dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah Suklapaksa, yaitu 15 hari menjelang hari purnama. Artinya adalah dari hari pertama hingga pertengahan bulan.      Sedangkan limabelas hari berikutnya, yaitu pasca hari purnama pada pertengahan bulan hingga akhir bulan jelang pergantian bulan berikutnya, disebut sebagai Kresnapaksa ataupun Panglong.

  • Purnama dan Tilem

Purnama adalah munculnya penampakan bulan secara bulat penuh, biasa ada pada hari ke empat belas malam lima belas. Sedangkan pergantian bulan baru dinamakan sebagai tilem.

Tradisi masyarakat Hindu Bali sangat mengenal dengan ritual yang dilaksanakan setiap purnama dan setiap tilem, yaitu ritual puasa. Sehingga dalam satu bulan sejatinya masyaralat Bali ini ada dua kali puasa, puasa Purnama dan puasa Tilem.

Keistimewaan Penanggalan

Selalu ada yang istimewa dalam perbedaan, dan selalu ada yang berbeda dalam keitimewaan. Kalimat itu sepertinya masih sangat layak diungkapkan dalam melihat penanggalan Hindu Bali. Pasalnya dalam Penanggalan Saka Bali ini ada perayaan unik terkait upacara keagamaan. Yaitu perayaan Saraswati yang selalu diperingati pada hari Sabtu umanis wuku Watugunung, perayaan Galungan, dan juga Siwaratri.           Semua perayaan tersebut periodiknya adalah 7 bulan 10 hari. Ini menjadi berbeda dan hampir tak dilakukan masyarakat lain dalam perhitungan dan tradisinya. Namun bukan itu, pada kenyataannya ada juga yang tetap dirayakan setahun satu kali, ialah hari raya Nyepi.

Itulah salah satu budaya indah yang menjadi kekayaan dari keragaman nusantara. Tak mudah membuat perhitungannya, namun tak susah jika ada kemauan mempelajarinya. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Penanggalan Hindu Bali, Antara Perhitungan Samsiah dan Komariah. Surat kabar mingguan “Minggu Pagi.” Diakses pada 25 Maret 2015
[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 25 Maret 2015

Berbagi dan Diskusi

4 COMMENTS

  1. […] Sejatinya memang nusantara ini kaya akan khasanahnya, termasuk dalam hal makanan pokok keseharian, oleh karenanya pada zaman dulu kita mengenal makanan pokok pada masing-masing daerah. Ada sagu, ada jagung, dan masih banyak lagi.   Namun itu dulu. Karena kini, hal itu seolah telah diseragamkan dan seperti sudah menjadi kekompakan bahwa setiap orang di Indonesia ini berkewajiban memakan nasi, bahkan 3 kali dalam sehari, dengan porsi minimal 3 piring tentunya. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here