Bagaimana Cara Agar Si Kecil Tak Mudah Melampiaskan Amarahnya?

6
1205
Bagaimana Cara Agar Si Kecil Tak Mudah Melampiaskan Amarahnya?

Mendidik anak sedari kecil bukan saja menjadi tugas ibu ataupun pengasuhnya. Akan tetapi adalah juga peran dari semua pihak di seputar lingkungan, utamanya adalah pihak orang tua, termasuk sosok seorang bapak.        Memberikan pendidikan sejak dini semacam ini memang bukan perkara mudah, namun bukan pula harus dikategorikan sebagai hal yang susah. Tujuannya pun serupa, agar si anak memiliki perilaku sesuai yang dikehendaki sang orangtua dan juga lingkungannya. Tentu saja adalah didikan yang mengarah kepada kepatuhan, keteraturan, dan tindakan yang tak menciderai serta merugikan pihak lain.

Perilaku Meniru

Didikan yang diterapkan kepada anak adalah satu sikap yang akan memberi pengaruh terhadap perilaku anak. Hal ini sebagaimana diketahui bahwa yang namanya semua makhluk hidup, begitu lahir dan lalu bertumbuh, maka hal yang dilakukan adalah hal yang tak jauh dari lingkungan yang dilihat dan didengarnya.

Hal-hal yang sumbernya dari lingkungan ini diserap dan lalu diamalkan. Ialah perilaku meniru.

Emosional

Lain dari perilaku meniru itu, ada pula perilaku yang memang merupakan bawaan dari diri sang anak. Bisa karena watak pribadi, bisa pula karena gen keturunan yang diperolehnya. Ialah sifat.

Sifat, meskipun memang bawaan dari orok, atau kalau orang Jawa bilang adalah ‘gawan bayi,’ hal itu bukan merupakan hal yang tak bisa diubah. Pasalnya tetap ada didikan yang bisa mempengaruhi mereka, khususnya didikan dalam hal mengatasi dan mengendalikan amarahnya. Perilaku buruk, sikap kurang hormat, konflik, dan agresif yang sering ditunjukkan si kecil sebetulnya dapat dikurangi. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan para orangtua untuk membantu Si Kecil mengatasi amarahnya.

  • Bicarakan, Bukan Lampiaskan

Dari seorang anak, ada banyak hal yang sejatinya tak bisa begitu mudah dipahami oleh orang-orang dewasa. Sebagai contoh adalah dalam hal membedakan perilaku agresif dan juga sifat emosionalnya. Oleh karenanya alangkah baiknya jika orangtua bisa memahami dan selanjutnya mampu membedakannya.

Yang paling mungkin dilakukan adalah menuntun si kecil untuk mau mengungkapkan perasaannya, sehingga hal itu secara tidak langsung mampu meminimalisir tindakan dan sikap buruk serta agresif dari si anak. Dengan menuntunnya, harapannya adalah timbulnya pemahaman dari si kecil bahwa memang tak ada yang salah dengan merasakan amarah, hanya saja jangan lantas melampiaskannya dengan sikap yang cenderung merugikan. Lain dari itu adalah berusaha selalu membicarakannya secara baik.

  • Mengajari dengan Contoh

Menjaga sikap dan perilaku buruk di hadapan sang anak adalah ajaran terbaik yang tak butuh energi pun waktu berlebih. Dan hal ini juga sangat efektif diserap oleh si kecil. Bagaimana tidak, coba bayangkan apabila sang orangtuan tidak dapat mengontrol amarah, tentu si kecil juga tak akan ada kemampuan mengendalikan amarahnya, pasalnya memang tidak mendapatkan contoh baik dari orang-orang terdekatnya.

  • Mengajari Mengontrol Amarah

Meskipun masih kecil, namun mereka juga sudah diharapkan bisa mengetahui tentang bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi amarah. Sebagai contoh adalah menunjukkannya tentang bagaimana cara untuk bisa lebih santai, entah dengan menghibur diri, mengalihkan konsentrasi pada pusat sumber amarah, dengan hal-hal menyenangkan lainnya.

  • Menetapkan Aturan

Ada banyak keluarga masa kini yang alih-alih hendak menjadi bebas merdeka dalam menjalani hidup, namun juga turut mencetak sang anak emnjadi bebas yang kebablasan. Artinya bebas bagi orangtua mungkin tetap memiliki batasan yang memang telah iketahui sedari masa kecilnya, namun kebebasan sang anak besar kemungkinan adalah kebebasan yang belum cukup dasar untuk mengejawantahkan apa yang diperolehnya atas nama “kemerdekaan” tersebut.

Berkaitan dengan hal di atas, meskipun hendak menjadi dan mencetak manusia bebas, namun alangkah baiknya apabila keluarga juga menerapkan peraturan tentang bagaimana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan khususnya bagi si kecil anak didiknya. Peraturan dan norma yang membatasi antara hal yang boleh dan tak boleh dilakukan si kecil akan lebih baik diterapkan. Bukan semata hendak membatasi kemerdekaannya, akan tetapi agar tahu kapan ia boleh marah dan kapan tidak. Selanjutnya akan memahami pula konsekuensi yang akan diperoleh sehubungan dengan sikap dan perilaku yang ditunjukkannya. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] 5 Cara Ajarkan Si Kecil Mengendalikan Amarah motherandbaby.co.id Diakses pada 28 Maret 2015
[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 28 Maret 2015

Berbagi dan Diskusi

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here