Tahukah Anda Memuji dan Memperbandingkan Anak Itu Tak Selalu Menjadi Hal Baik?

2
2120
Memuji dan Memperbandingkan Anak Itu Tak Selalu Menghasilakn Hal Baik

Setiap anak terlahir dengan berbagai kemampuan yang beragam dan sama sekali tidak sama persis. Namun masih banyak orangtua yang belum sepenuhnya menyadari akan keberagaman itu. Sehingga tak sedikit dari mereka yang menuntut sang anak agar bisa memiliki kemampuan pun keterampilan yang serupa, bahkan melebihi.   Awalnya hanya dilakukan dengan melihat, lalu memperbandiungkan, dan pada akhirnya berusaha dan menekan mati-matian kepada sang anak dmei mendapatkan hal yang dikehendaki sang orangtua.

Lebih dari itu, demi memiliki kemampuan dan memperoleh prestasi sebagaimana teman lainnya, banyak orangtua juga sangat giat menempuh berbagai cara, baik dengan mendaftarkan anak kepada sebuah lembaga bimbingan ataupun tempat, ataupun memaksakan kehendak tanpa harus peduli passion yang ada padanya.

Tujuan Baik Orangtua Tak Selalu baik Bagi Anak

Memang ada kegiatan anak yang mendapatkan hasil bagus seperti yang diinginkan sang orangtua. Namun ada yang harus diketahui bahwa tak semua hal yang dilakukan dengan tujuan (yang menurut orangtua) baik, tak selamanya menjadi hal baik bagi sang anak. Oleh karenanya tak selayaknya orangtua memaksakan kehendak kepada anak demi mendapatkan hasil sebagaimana kemauan orangtua. Karena jika hal yang tak disukai anak tetap dipaksakan pada akhirnya bukan tidak mungkin hal itu hanya akan menjadikan anak tidak nyaman, bahkan bisa pula mempengaruhi kondisi psikologisnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, ada baiknya orangtua tidak menjadikan anak sebagai patung dan miniatur mereka. Melihat, membandingkan, lalu mencetak sesuai kehendak diri orangtua.  Dalam hal membandiungkan, bukans aja dibandingkan dengan anak-anak teman, anak-anak tetangga, pun anak-anak orang lain, namun juga jangan dibandingkan dengan anak sendiri, baik itu kakanya ataupun adiknya.

Melihat Anak Secara Utuh

Hal yang harus diperhatikan adalah, tatkala anak acap dibanding-bandingkan, artinya orangtua tak memerhatikan sosok anak secara utuh. Pasalnya sudah seharusnya orangtua itu dalam melihat anak ya disesuaikan dengan passion dan kemampuannya. Minimalkan memaksakan kehendak padanya apabila sang orangtua masih mau melihat perkembangan kreativitasnya. baru setelah mengetahui apa yang dikehendaki, tugas orangtua adalah mengarahkannya sesuai minat, bakat, dan kemampuan.

Berikan Motovasi

Langkah terbaik bagi orangtua yang juga masik dalam parenting adalah melihat potensinya dan kemudian memberikan motivasi kepada sang anak.  Sebagai contoh adalah mengamati kegemaran dan ketrampilan pada anak, selanjutnya memberikan dukungan, baik secara moral pun material.    Dengan begitu orangtua dalam mengawalnya pun tak begitu kesulitan, karena justru dalam perjalanannya bukan tidak mungkin akan menemukan potensi berlebih pada anak yang bukan tidak mungkin bisa digali demi mendapatkan hasil lebih di kemudian hari.

Hal di atas tentu sangat berbeda dengan perlakuaan orangtua yang sering mengedepankan pendapat diri, dan lalu membandingkannya. Karena dengan menempuh langkah itu belum tentu anak akan memiliki motivasi untuk lebih baik atau mencapai prestasi.

Kurangi Pula Membangga-Banggakannya!

Bukan sebatras membadingkan, ada hal sebaliknya yang juga butuh dihindari oeh orangtua. Yaitu sikap dan sifat membangga-banggakannya di depan anak pun orangtua lainnya. Memang sikap membanggakan anak sendiri merupakan tanda syukur dan membesarkan hati anak, namun ketahuilah bahwa itu semua ternyata hanya berlaku dipermulaan dan permukaan.  Sebaliknya, justru akan timbul beberapa dampak negatif yang wajib diwaspadi, berikut ini beberapa contoh dampak negatifnya;

  • Membanggakan Diri Adalah Meremehkan Pihak Lain

Dengan membangga-banggakan anak, tak disadari justru secara tak langsung orangtua juga telah membanding-bandingkannya terhadap pihak lain. Artinya, ketika sang orangtua membanggakan kemampuan satu anak (apalagi di depan anak lain), maka secara otomatis ia juga memiliki sifat yang cenderung menganggap remeh pihak lain yang menjadi pembandingnya.    Sikap membandingkan yang membawa nuansa meremehkan ini tentu saja bakal menumbuhkan ketidaknyamanan pihak lain, utamanya lawan bicara. Akhirnya bukan tidak mungkin pertengkaran akan terjadi.

  • Membanggakan Diri Mengakibatkan Rendah Diri Pihak Lain

Bagi orangtua yang dibandingkan, besar kemungkinan juga akan dirugikan. Karena sikap rendah diri adakalanya akan menghinggapi pada mereka, mereka akan merasakan bahwa anaknya bukanlah sosok istimewa. Sifat dan sikap tertekan pun akan menghinggapi baik pada anak pun pihak orangtua. Dengan kondisi seperti ini tentu saja sangat merugikan, sebagai contoh adalah mencetaknya sebagai anak yang minder dan murung.

  • Membanggakan Diri, Melukai Perasaan Pihak Lain

Lain dari itu, sikap membandingkan anak dengan teman lain, tidak hanya menjadikan anak minder, murung, dan rendah diri. Namun juga melukai perasaannya. Padahal tak selalu anak yang murung itu tak berprestasi, justru tak sedikit dari mereka yang awalnya murung namun dibalik kemurungannya itu banyak tersimpan prestasi lebih.

Selalu menghargai dan memotivasi adalah tindakan yang lebih baik dilakukan dibanding membangga-banggakan dan menghakimi anak.  Artinya memberikan nasihat atau pendampingan demi mendapatkan anak-anak yang berprestasi sangat disarankan. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Jika Dibanding-bandingkan Anak Jadi Pribadi Peragu krjogja.com Diakses pada 11 April 2015
[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 11 April 2015
Berbagi dan Diskusi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here