Inilah Burung-Burung Manyar Sebagai Refleksi Kisah Cinta Pada Masa Revolusi Indonesia

7
3729
Novel Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwidjaja

Untuk anak yang normal, kehidupan brandal anak kolong Inlander jauh lebih haibat daripada menjadi sinyo Londo1 yang harus pakai sepatu, baju musti harus putih bersih dan segala macam basa-basi yang membuatnya menjadi marmut dalam kurungan. [Burung-Burung Manyar, halaman 4]

Kutipan di atas merupakan narasi yang diucapkan oleh Setadewa atau dikenal dengan nama panggilan Teto, narator dalam novel Burung-Burung Manyar karangan Y.B. Mangunwijaya. Burung-Burung Manyar adalah sebuah roman percintaan berlatar sejarah, yaitu pada masa revolusi Indonesia hingga masa peralihan saat pendudukan Jepang dan bahkan sampai masa Orde Baru. Mengangkat tipe cinta yang platonik, adalah dua karakter kuat yang menggerakkan cerita, yaitu, Setadewa atau dipanggil Teto dengan Den Rara Larasati atau dipanggil Atik. [Baca juga: Beberapa Novel Indonesia yang Diangkat ke Layar Lebar]

Kenapa Burung Manyar?

YB Mangunwijaya mengambil judul Burung-Burung Manyar tentu bukan tanpa alasan. Pada awal bab, karakter Atik diceritakan sebagai seorang gadis kecil yang mengenal betul berbagai jenis burung. Karena kesepian dan bosan terus-menerus, Atik meminta wijen dan segera pergi ke halaman belakang ruma. Di sana ia menyebar biji wijen untuk memanggil teman-temannya, yaitu emprit, ketilang, gelatik, kepodang, srigunting, dan juga burung gereja. Bahkan Atik sendiri memiliki sebutan khusus untunya, burung prenjak.

Sedangkan, burung Manyar disebutkan pada adegan Atik yang melanjutkan studi di bidang Biologi maju mempertahankan disertasi doktoral. Larasari atau Atik mengambil judul untuk disertasinya sebagai berikut “Jatidiri dan Bahasa Citra dalam Strktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar”. Ya, burung Manyar ini dikenal di Indonesia sebagai burung yang pandai menirukan berbagai macam bunyi, variasi jenis kicauannya pun tak kalah dengan jenis burung lain.

  • Thomas Horsfied

Merujuk pada klasifikasi Thomas Horsfied, burung Manyar memiliki nama latin Ploceus manyar. Ada berbagai jenis manyar berdasar genus dan familianya. Sementara itu di Indonesia dapat dengan mudah ditemukan burung Manyar jenis Manyar Tempua (Ploceus philippinus), Manyar Jambul (Ploceus manyaei), dan Manyar Emas (Ploceus hypoxanthus).

Burung Manyar lebih menyukai kondisi alam seperti pada rumput atau persawahan sebagai habitat atau tempatnya tinggalnya. Jenis makanan yang disukainya adalah berbagai jenis biji-bijian, yang juga tidak menutup kemungkinan mengonsumsi berbagai jenis serangga. Fase ini memilih makanan dari jenis serangga terjadi bila burung Manyar ada pada masa kawin atau berkembang biak.

Jenis sarang burung Manyar yang unik inilah yang dibicarakan Larasari atau Atik dalam disertasinya. Disebutkan, bahwa Manyar jantan akan membangun sarang untuk menarik perhatian Manyar betina saat musim kawin. Namun, ketika Manyar betina tidak menyukai sarang yang telah dibangun oleh Manyar jantan, Manyar jantan akan membongkar sarang tersebut dengan marah, meski kemudian setelah itu ia akan menyusun lagi sarang baru dengan indah.

  • Burung Penganyam

Burung Manyar sendiri memiliki julukan khusus karena tabiat tersebut, yaitu weaver bird atau “burung pengayam”. Sarang yang dibangun oleh burung Manyar ini memiliki bentuk yang sangat rumit, karena sengaja disusun selain untuk menarik Manyar betina juga untuk mengelabui musuh. Pintu masuk tipuan untuk burung pemangsa ini sengaja didirikan untuk melindungi tempat telur sebelum menetas dan juga untuk melindungi lokasi anak burung bersemayam.

Novel Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwijaya

Novel Burung-Burung Manyar yang pertama kali terbit pada tahun 1983 dan terus dicetak ulang hingga kali kelima belas pada tahun 2007, disebut sebagai novel revolusi Indonesia. Dan, berhasil meraih penghargaan South East Asia Write Award dari pemerintah Thailand pada tahun 1984.

Selain terbit dalam bahasa Indonesia, novel Burung-Burung Manyar ini terbit pula dalam bahasa asing, yaitu Arasi no Naka no Manyar (bahasa Jepang, 1987), Het boek van de Wevervogel (bahasa Belanda, 1987), dan The Weaverbirds (bahasa Inggris, 1989).

Sebagai sebuah novel bildungsroman (menceritakan tokoh semenjak muda hingga dewasa atau malah sampai ia mati), latar sejarah yang dipergunakan dalam novel ini sangatlah panjang, yaitu mulai tahun 1934 – 1978. Secara runut diceritakan kisah hidup Teto dan Atik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, kemudian perang kemerdekaan sampai pada masa Orde Baru.

Tidak seperti novel roman-sejarah pada umumnya, yaitu perjuangan orang Indonesia yang membela negaranya dengan memusuhi Belanda, YB Mangunwijaya mengambil langkah berkebalikan. Ia menyajikan karakter dengan penyajian kisah yang telah ‘diputarbalikkan’, yaitu Setadewa atau dikenal pula dengan Teto, seorang Indonesia yang malah membenci negaranya sendiri dan karena itu pula dengan kesadaran penuh memilih bergabung dengan tentara KNIL.

  • Teto dan Atik dalam Burung-Burung Manyar

Setadewa atau Teto merasa dirinya anak Jawa Inlander, padahal ia seorang anak peranakan. Papi Teto adalah seorang loitenant 2 keluaran Akademi Breda Holland yang bertugas di Garnisun divisi II Magelang. Papi Teto tidak menyukai segala hal yang ada hubungannya dengan peraturan dan adat Jawa, ia lebih memilih hidup bebas model Eropa dan sangat menghormati Ratu Wilhelmina. Itu sebabnya tidak mengherankan bila kemudian ibu kandung Teto adalah seorang nyonya, yang menurut babu pengasuh Teto, totok Belanda Vaderland. 3. Itu pula sebabnya, semenjak kecil Teto telah diajarkan untuk mencintai belanda.

Teto memiliki kegemaran bermain dengan anak pribumi lainnya, yaitu anak sersan, kopral, dan sepadri4 yang kulitnya hitam dan memiliki borok di segala tempat. Mereka menghabiskan waktu bermain dengan berenang di selokan tangsi yang airnya berwaran cokelat, lalu membonceng motor tai yakni mobil tangki kotapraja yang memiliki fungsi untuk menyedot tinja dari tangki-tangki septik WC umum.

Meski Papi adalah seorang Raden Mas dari keluarga raja Mangkunegara yang menjabat sebagai loitenant, ia tak keberatan bila Teto bergaul dengan anak-anak sepandri atau serdadu krocuk. Laki-laki itu sungguh-sungguh tak berkeberatan bila anaknya memiliki banyak kawan main dari kalangan proletar tangsi.

Kisah hidup pahit Teto dimulai pada masa kemerdekaan. Sebagai seorang anak keturunan tapi lebih bangga dengan sebutan Jawa Inlander, Teto tetap menyebut dirinya sebagai anak kolong pun juga bangga sebagai anak kumpeni. Dan ia tak setuju dengan ide dan peristiwa kemerdekaan Indonesia. Itulah akhirnya yang mendorongnya bergabung NICA, dan masuk NICA baginya tidak sama dengan menjadi budak Belanda.

Menurut Teto. Kemerdekaan hanyalah slogan omong kosong yang menipu. Orang desa dan orang kampung dianggapnya tidak lebih merdeka dibanding saat berada di bawah penjajahan Belanda. Orang-orang nasionalis itu terlalu terburu-buru karena sebenarnya bangsa Indonesia ini belum matang untuk merdeka.

Dan sakit hati dan rasa benci Teto semakin bertambah ketika menyadari bahwa kaum Soekarno malah menghimpun rakyat untuk menurut dan membongkok pada Si Cebol Kuning atau para penjajah Jepang. Belum lagi ketika beribu-ribu rakyat diserahkan untuk menjadi romusha pada kaum sadis made in Japan tersebut. Belum lagi ketika Papinya mati dan ibunya menjadi sakit jiwa karena dipaksa menjadi gundik tentara Jepang. [Baca juga: Seikerei adalah Penghormatan dengan Cara Membungkukkan Badan kearah Matahari Terbit]

  • Atik –Raden Rara Larasati

Atik bernama lengkap Raden Rara Larasati atau lebih sering dipanggil Atik. Bila Larasati dalam tokoh wayang adalah nama adik dari tokoh Kresna yang berperanagi lembut, Larasati dalam Burung-Burung Manyar adalah kebalikannya. Atik adalah seorang tokoh perempuan yang berwatak pemberani, cerdas, dan aktif.

Atik adalah seorang pribum asli. Ayahnya yang bekerja di Kebun Raya Bogor dan Cagar Alam di Ujung Kulon bernama Antana. Sementara Ibu Atik adalah seorang perempuan desa yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Keraton Mangkunegaran.

Pada pertengahan Desember 1949, saat Belanda menyerang Yogyakarta, ayah Atik mati ditembak di pinggir jalan. Oleh karena memiliki rasa nasionalis yang tinggi dan menginginkan negaranya merdeka penuh, pada mulanya Atik membantu di dapur umum yang berugas menyiapkan bahan makanan untuk para gerilyawan Republik, hingga kemudian ia bekerja sebagai sekretaris Sutan Syahrir.

Atik teringat betul perkataan bosnya yang waktu itu masih menjabat menjadi perdana menteri, bahwa setiap kekerasan dari Belanda adalah lubang jebakan. Sehingga satu-satunya jalan untuk merdeka adalah dengan bersikap good will secara budaya berperikemanusiaan. Karena langkah itulah yang dicari oleh seluruh pihak yang sudah remuk dan muka oleh kekerasan perang.

Sikap Teto yang tak menginginkan kemerdekaan dan membenci bangsanya karena dianggap tunduk pada Jepang (yang secara pribadi ‘membunuh’ kedua orangtuanya) dan ‘membelot’ dengan bergabung dengan tentara NICA, sangat berseberangan dengan pilihan Atik yang mendukung penuh kemerdekaan bangsanya. Perbedaan inilah yang tak bisa menyatukan keduanya.

***

Kecerdasan Y.B. Mangunwijaya tergambarkan dari cara ia menampilkan revolusi Indonesia secara obyektif dengan menggunakan sudut pandang dari segi Belanda dan dengan memasang protagonist orang Indonesia yang justru anti republik.

Tidak dapat dipungkiri, melalui Burung-Burung Manyar ini, dapat kita lihat bahwa Y.B. Mangunwijaya memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman sehubungan dengan perihal kemanusiaan secara mendalam. Menggunakan lelucon dan bahasa jawa, gaya tuturnya menjadi gurih dan segar sekaligus kontemporer. Terbukti, meski novel ini terbit pada tahun 1983, tak akan kesulitan bagi kita saat membacanya di zaman sekarang.

Catatan kaki:

1 Belanda
2 Dari kata luitenant (Bld): letnan
3 Nederland.
4 Dari kata Vaandrig (Bld): serdadu klas I, belum kopral
Rujukan:
[1]Novel Burung-Burung Manyar – YB. Mangunwijaya
[2] Gambar ilustrasi, Foto koleski pribadi
Berbagi dan Diskusi

7 COMMENTS

  1. […] Untuk anak yang normal, kehidupan brandal anak kolong Inlander jauh lebih haibat daripada menjadi sinyo Londo1 yang harus pakai sepatu, baju musti harus putih bersih dan segala macam basa-basi yang membuatnya menjadi marmut dalam kurungan. Kutipan di atas merupakan narasi yang diucapkan oleh Setadewa atau dikenal dengan nama panggilan Teto, narator dalam novel Burung-Burung Manyar karangan Y.B. Mangunwijaya. Burung-Burung Manyar adalah sebuah roman percintaan berlatar sejarah, yaitu pada masa revolusi Indonesia hingga masa peralihan saat pendudukan Jepang dan bahkan sampai masa Orde Baru. Mengangkat tipe cinta yang platonik, adalah dua karakter kuat yang menggerakkan cerita, yaitu, Setadewa atau dipanggil Teto dengan Den Rara Larasati atau dipanggil Atik. Kenapa Burung Manyar? YB Mangunwijaya mengambil judul Burung-Burung Manyar tentu bukan tanpa alasan. Pada awal bab, karakter Atik diceritakan sebagai seorang gadis kecil yang mengenal betul berbagai jenis burung. Karena kesepian  […]

  2. […] Daftar Isi1 Kenapa Burung Manyar? 1.1 Thomas Horsfied1.2 Burung Penganyam2 Novel Burung-Burung Manyar karya YB Mangunwijaya2.1 Teto dan Atik dalam Burung-Burung Manyar2.2 Atik –Raden Rara Larasati Untuk anak yang normal, kehidupan brandal anak kolong Inlander jauh lebih haibat daripada menjadi sinyo Londo1 yang harus pakai sepatu, baju musti harus putih bersih dan segala macam basa-basi …  […]

  3. […] Ada banyak kata yang memiliki kemiripan, dan apabila diberikan imbuhan –utamanya awalan, maka akan memiliki arti yang tak jauh berbeda. Oleh karenanya dibutuhkan tanda hubung yang memiliki fungsi guna memperjelas arti dari bagian kata pun ungkapan tersebut. Be-rekor tentu tak sama dengan ber-ekor, ber-evolusi tentu juga beda dengan be-revolusi, dan lain sebagainya. [Baca juga: Inilah Burung-Burung Manyar Sebagai Refleksi Kisah Cinta Pada Masa Revolusi Indonesia] […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here