Suku (Orang) Laut Kepulauan Riau Telah Eksis di Atas Perahu Sejak Abad Ke-7

3
2712
Orang Laut Kepulauan Riau Telah Eksis Tinggal di Atas Perahu Sejak Abad Ke-7

Berbicara tentang “orang laut,” mungkin kita akan teringat sebuah lagu dengan syair berbunyi “nenek moyangku seorang pelaut.” Satu lagu yang bisa jadi awalnya terinspirasi dari asal-muasal nenek moyang kita ini, yang melaut dari Yunan dan juga melalui Mekong. Akan tetapi jika kita membuka mata, untuk saat ini keberadaan pelaut di negeri kita kenyataannya sudah tak sekuat dan sesejahtera orang-orang terdahulu. Bagaimana tidak, pelaut-pelaut kita yang berprofesi sebagai nelayan, perawat rumput laut, petani garam, dan lain-lain, makin tergerus kekuatannya akibat belum sepenuhnya didukung oleh penguasa.

Kembali lagi ke bahasan orang laut, jika di sebelah timur ada Suku Bajo, maka di wilayah Indonesia bagian barat juga terdapat orang laut yang acap disebut Suku Laut, yaitu tersebar di Kepulauan Riau. Di tempat inilah laut menjadi tempat esensial karena selain digunakan untuk mencari ikan, ada pula kegiatan berdagang di sana. Secara umum bisa diartikan bahwa Orang Laut ataupun Suku Laut adalah bermacam suku dan kelompok yang menghuni pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur serta sisi selatan Semenanjung Malaya.

Dikenal Ulung

Sebagaimana lagu “nenek moyangku seorang pelaut,” Suku Laut di wilayah Kepri ini juga dikenal ulung dalam dunia kemaritiman. Bahkan ada yang memaparkan bahwa Suku Laut termasuk dalam usia tua, karena justru tidak ada bangsa lain yang memiliki kebudayaan maritim lebih tinggi darinya.

  • Disegani

Keberadaan suku laut di amsa lampau cukup disegani. Karena kiprahnya bukan saja bak nelayan yang sekadar mencari ikan, lalu pulang – menjual hasil tangkapannya, dan melaut lagi. Lain dari itu, orang laut juga berperan aktif dalam eksistensi kerajaan-kerajaan besar masa lampau, baik Kerajaan Sriwijaya, Kasultanan Johor, ataupun Kasultanan Malaka.

Walaupun memilii histori sebagai perompak, namun suku laut masa lampau juga memiliki tugas untuk menjaga selat-selat dari penjarahan para bajak laut, dan juga memandu kapal-kapal yang hendak datang dan bersandar di pelabuhan-pelabuhan wilayah kerajaan.

  • Ratusan tahun Mengarungi Lautan

Keberadaan laut yang mengelilingi wilayah Kepulauan Riau menjadi medan yang membuat orang-orang lau dituntut untuk bisa menguasai wilayah lautan. Oleh karenanya tak heran jika telah ratusan tahun para leluhur suku laut menguasai dalam mengarungi lautan.

Tempat Tinggal Perahu

Mengingat aktivitasnya memang berada di atas lautan luas, maka sudah tentu tempat yang ditinggali suku laut di kepulauan Riau ini sejak masa lampau adalah perahu-perahunya. Selain sebagai tempat tinggal, perahu ini pulalah yang dijadikan alat transportasi jika hendak bermigrasi dari pulau satu menuju pulau yang lainnya. [Baca juga: Mengenal Dokumen Manifes Perjalanan Maskapai dan Kapal Laut]

Suku laut ini disinyalir telah mendiami kepulauan Riau dan tinggal di atas perahu sejak abad VII Masehi. Atau lebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang dari suku Melayu.    Hanya saja sejak masa pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto, kebiasaan ini mulai dihilangkan. Pasalnya sekitar tahun 1980an pihak pemerintah justru mengharuskan mereka untuk pindah dan tinggal di wilayah daratan.

  • Alasan Ketertinggalan

Ketertinggalan ekonomi menjadi salah satu alasan pemerintah untuk mengharuskan tempat tinggal di darat itu. Dengan tujuan hendak memodern-kan yang tertinggal itu, maka saran merumahkan orang perahu dilakukan. Memang ada yang sudah merapat ke pinggiran, akan tetapi mereka juga masih banyak yang memilih tinggal di rumah-rumah panggung wilayah pesisir pantai. [Baca juga: Daftar Pantai Tujuan Wisata di Gunung Kidul [1]]

  • Perubahan Hidup

Perubahan tradisi akibat pengharusan “pindah tempat tinggal” yang dilakukan pemerintah masa orde baru akhirnya membuat hampir segalanya turut berubah pula. Pertama, perahu bukan lagi sebagai tempat tinggal. Kedua, selain tingggal di rumah-rumah panggung, sebagian lainnya juga ada yang telah memilih tinggal di darat dengan tanpa harus membangun rumah panggung, cukup dengan lantai bersentuhan langsung dengan tanah.

Wisata Laut dan Pantai

Pada perkembangannya, perubahan yang terjadi dari suku laut adalah ke arah modernisasi. Keindahan alam maritim ada banyak sekali, sehingga banyak muncul tempat-tempat indah yang dijadikan sarana rekreasi. Spot menyelam ada di seputar Pantai Trikora – Bintan yang berlokasi 5okm sebelah selatan Tanjungpinang dan juga Pasir Panjang – Pulau Rupat yang lokasinya menghadap ke Selat Malaka.

Selain pulau Batam, ada pula pantai-pantai indah lain di Terkulai dan Pulau Soreh. Untuk Batam snediri, banyak orang tahu bahwa pulau ini posisinya sangat strategis, yaitu berdekatan dengan negeri Singapura. Dari Pantai Nongsa – Batam, negeri Singapura hanya berjarak 20 kimlometer dan itu bisa ditempuh menggunakan kapal feri selama 20 menit.  [uth]

Rujukan:
[1] Mengenal Orang laut di Kepulauan Riau. Kompas Cetak 11 Juni 2015. Diakses pada 11 Juni 2015
[2] Gambar ilustrasi id.wikipedia.org Diakses pada 11 Juni 2015

Berbagi dan Diskusi

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here