Salah Satu Masjid Tertua di Indonesia Ada di Banyumas

0
2117

Masjid Saka Tunggal Baitussalam atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal, adalah masjid yang diyakini sebagai bangunan masjid tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan prasasti yang terpahat pada tiang utama masjid dan merupakan satu-satunya tiang (saka tunggal) penyangga bangunan masjid Saka Tunggal.

Pahatan angka 1288 menggunakan tulisan arab pada tiang masjid ini menunjukan tahun pendirian masjid, yaitu pada tahun 1288 Masehi. Masjid berukuran 12 x 18 meter ini menjadi satu-satunya bangunan masjid di pulau jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Songo pada abad 15 – 16 Masehi. Alasan inilah yang menjadikan Masjid Saka Tunggal diyakini sebagai masjid tertua di Indonesia.

Masjid Saka Tunggal Baitussalam saat ini merupakan Benda Cagar Budaya atau Situs yang keberadaannya dilindungi undang-undang. Meski sebagian dinding masjid telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap dipertahankan seperti bentuk aslinya. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang.

Masyarakat pengikut tarekat Aboge

Masjid Saka Tunggal berlokasi di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Umat muslim di sekitar masjid adalah pengikut tarekat Aboge yang memiliki perhitungan sendiri dalam penetapan 1 syawal. Sehingga tidak pernah mengikuti penetapan 1 syawal dari pemerintah.

Menurut tradisi Aboge, Pedoman untuk menentukan 1 Syawal adalah ‘Waljiro yang merupakan kependekan kata dari ‘Syawal Siji Loro. Waljiro berarti Syawal yang jatuh pada hari pertama dari hari sabtu dan ‘pasaran loro (kedua) dari ‘pasaran Legi (manis, dalam perhitungan kalender jawa). Rumus perhitungan ini digunakan untuk menentukan tanggal, bulan dan tahun Jawa Hijriah.

Selain memiliki perhitungan sendiri dalam penetapan tanggal 1 syawal, pengikut tarekat Aboge di sekitar Masjid Saka Tunggal juga masih memegang erat tradisi yang diwariskan dan dilestarikan secara turun-temurun sampai sekarang. Tradisi ini sangat kental terasa pada setiap pelaksanaan shalat jumat, tradisi-tradisi itu adalah :

Zikir seperti melantunkan kidung Jawa

Kentalnya tradisi yang masih dipegang kuat masyarakat di sekitar Masjid Saka Tunggal sangat terasa dari cara berzikir dan bersholawat ketika hendak sholat dan setelah sholat. Jamaah Masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Tradisi Zikir seperti melantunkan kidung jawa ini disebut tradisi ura ura, yang dilakukan menggunakan bahasa campuran Arab dan Jawa.

Imam dan Muazin menggunakan udeng atau ikat kepala

Jika pada umumnya umat muslim mengenakan peci atau kopiah sebagai penutup kepala saat melaksanakan shalat. Imam dan muazin di Masjid Saka Tunggal mengenakan udeng atau ikat kepala bermotif batik. Udeng atau ikat kepala merupakan bagian dari pakaian khas yang biasa digunakan oleh masyarakat jawa.

Empat muazin dan tanpa pengeras suara

Shalat jumat di Masjid Saka Tunggal juga dilakukan dengan empat orang muazin. Keempat muazin ini mengumandangkan adzan secara bersamaan dan dilakukan tanpa menggunakan pengeras suara. Tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara dalam proses peribadahan di Masjid Saka Tunggal, menjadi bagian dari tradisi yang masih dipertahankan sampai saat ini.

Khotbah yang disampaikan pada shalat jumat disampaikan oleh khotib seperti melantunkan sebuah kidung. Bagi pengunjung yang berkesempatan ikut shalat jumat di Masjid Saka Tunggal akan terkagum-kagum dengan kentalnya tradisi ini.

Filosofi dari arsitektur Masjid Saka Tunggal

Salah satu keunikan Masjid Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka (tiang). Empat sayap yang menempel pada tiang tunggal melambangkan ‘papat kiblat lima pancer‘, yang bermakna empat mata angin dan satu pusat. ‘Papat kiblat lima pancer’ berarti manusia sebagai pancer (pusat) dikelilingi empat arah mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

Saka tunggal atau tiang tunggal adalah perlambang bahwa manusia hidup harus seperti alif (dalam huruf arab) yang berarti harus lurus. Seorang manusia yang hidup di dunia ini harus berada pada jalan yang lurus. Empat arah mata angin memiliki arti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak ingin masuk angin, jangan terlalu banyak bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh.

Salah satu keaslian yang masih terpelihara dari Masji Saka Tunggal adalah ornamen di ruang utama masjid, khususnya di mimbar khotbah dan tempat imam. Terdapat dua ukiran pada kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip dengan lempeng mandala. Gambar seperti ini juga banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era kerajaan Singasari dan Majapahit.

kera-kera yang hidup liar di sekitar masjid saka tunggal banyumas
kera-kera yang hidup liar di sekitar masjid saka tunggal banyumas

Di sekitar lokasi Masjid Saka Tunggal akan dengan mudah ditemui ratusan kera yang hidup liar di lingkungan masjid dan rumah-rumah penduduk. Walaupun hidup liar, kera-kera tidak akan mengganggu pengunjung yang datang ke Masjid Saka Tunggal. Kera-kera ini sudah biasa hidup berdampingan dengan masyarakat desa Cikakak.

Bagi pengunjung yang berbaik hati ingin memberi makan kera-kera liar ini, ada beberapa penjual makanan yang biasa berjualan di sekitar masjid. Walaupun tidak berbahaya, pengunjung yang datang tetap disarankan untuk berhati-hati ketika berinteraksi dengan kera-kera tersebut.

Berkunjung ke Masjid Saka Tunggal ibarat menyelami peradaban pada masa lampau. Menelusuri jejak penyebaran agama islam di nusantara pada masjid tertua di Indonesia. Tradisi kuat yang masih melekat pada masyarakat pengikut tarekat Aboge di sekitar masjid, mampu memberi pembelajaran tentang kearifan lokal yang menjadi budaya masyarakat.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here