Sumbangan Pemikiran Gabriel Tarde Bagi Sosiologi

0
5455
Pemikiran Gabriel tarde
ilustrasi manusia: Pixabay.com

Gabriel Tarde merupakan seorang filsuf, kriminolog, sosiolog, sekaligus psikolog terkemuka dari Perancis. Lahir pada 12 Maret 1843 di Sarlat, Dordogne, Perancis. Dia anak pejabat hukum di pedalaman, dibesarkan di lingkungan keluarga penganut ordo jesuit.

Pemikiran Gabriel Tarde
Gabriel Tarde

Dia mendapatkan pendidikan klasik Jesuit di Sarlat, pelajaran hukum di Toulouse dan dilanjutkan di Paris. Tahun 1876 dia ditunjuk sebagai hakim karena keahliannya. Hasil kerja dan karyanya begitu dihargai menjadikan dirinya segera terpilih sebagai Direksi Statistik Pengadilan pada Kementrian Keadilan ditahun 1894. Kemudian ditahun 1900 ia terpilih masuk ke College de France pada bidang perkuliahan filsafat modern yang dijabatnya sampai meninggal dunia.

[Baca Juga: Tindakan Sosial Menurut Weber dan Talcot Parsons]

Sebagai tokoh sosiolog ia berbeda dengan Durkheim. Emile Durkheim lebih melihat kajian sosiologi dengan teori dan narasi besar, sementara G. Tarde kebalikanya, melihat kajian sosiologi dengan narasi kecil, memperhatikan perilaku individu dan interkasi sosial.

Ada tiga hal pokok pemikiran G. Tarde bagi sosilogi, yaitu, invension, peniruan dan oposisi. G. Tarde melihat invension sebagai sumber dari kemajuan manusia. Tarde menekankan bahwa invension/penemuan atau penciptaan memberikan pengaruh sosial. Ia mencontohkan penemuan ilmu pengetahuan dari para saintis memberikan perubahan signifikan bagi masyarakat.

[Baca: Pengantar Sosiologi Perkotaan]

Pemikiran G. Tarde yang kedua adalah imitasi, peniruan. Penemuan memang memberi manfaat di masyarakat, namun tanpa peniruan, pemapanan perubahan atas penemuan tersebut hasilnya tidak signifikan. Penemuan ilmu pengetahuan kemudian disebarkan melalui peniruan. Contoh lainya, peniruan bentuk pemerintahan, bentuk Undang-Undang pemerintahan, bentuk pendidikan.

Sumbangan ketiga adalah oposisi. Bagi Tarde, oposisi sangat penting bagi perubahan dan kemajuan sosial di masyarakat. Karena oposisi memunculkan sesuatu yang baru, perlawanan atas kekuasaan yang terlalu lama dan menindas. G. Tarde menilai oposisi adalah sebuah keniscayaan dari sebuah masyarakat.

Dari ketiga teori tersebut, teori imitasi yang menjadikan Gabriel Tarde dikenal sebagai sosiolog. Menurut Tarde setiap individu mengimitasi individu yang lain dan sebaliknya. Misalnya bagaimana seorang anak belajar bicara. Tidak hanya berbicara, tetapi juga cara-cara lainnya untuk menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya, tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih, cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara.

[Baca Juga: Pemikiran Karl Manheim]

Peranan imitasi dalam interaksi sosial tentunya memiliki segi positif dan negatif, tergantung apa yang ditiru itu hal baik atau jelek. Pendapat Tarde yang demikian mendapat kritikan, karena dianggap teori ini berat sebelah. Walaupun pendapat Tarde ini tidak diterima secara mutlak, namun ia telah mengemukakan suatu faktor penting tentang interaksi sosial.

Sebagai sosiolog, pengaruhnya ketika ia masih hidup lebih dihargai ketimbang Durkheim. Namun setelah meninggal dunia, penelitianya dan pengaruhnya dikalahkan oleh Durkheim. Pengaruhnya kurang signifikan bagi sosiologi Perancis, kecuali untuk kalangan kriminolog. Namun ia cukup mempengaruhi sosiolog, psikolog dan antropolog Amerika Serikat.

Bisa dikatakan sumbangsihnya bagi sosiologi hanya berkaitan dengan teori imitasi. Namun begitu ia seorang penulis penting, memberikan konstribusi bagi ilmu kemanusiaan, sosiologi terlepas dari ilmu biologi, menunjukan arti penting kesadaran serta efektivitas dalam perilaku.

Sumbangan pemikirannya bukan hanya untuk sosiologi, melainkan juga psikologi, ekonomi dan kriminologi. Tentang masalah kriminal ia menentang paradigma lama yang memandang para kriminal dari sisi biologis. Tarde berpendapat bahwa kejahatan itu memiliki penyebab psikologis dan sosial karena bisa dibuktikan secara statistik.

Pemikirannya tentang perilaku ekonominya berbeda pandangan dengan kaum utilitarianisme, dengan teori homo economicus, yang menyebutkan kebutuhan manusia berdasar untung rugi. Sebaliknya Tarde menilai kebutuhan merupakan hasil dari keinginan dan keyakinan yang terpisah dari suatu masyarakat atau sub-kelompok dalam masyarakat. Ia membuat pemetaan psiko-sosiologi tentang kegemaran dan kebiasaan konsumsi. Sayangnya ia tidak melanjutkan penjelasan secara menyeluruh dengan hukum-hukum imitasinya.

Ia meninggal di Paris, Prancis pada 12 Mei 1904.  Selama hidupnya telah menghasilkan berbagai karya, antara lain; La Psychology Economique, 1902, le Lois de i’Imitation (1890; the Laws of Imitation).***

Sumber Rujukan:
[1] Gariel Tarde, Wikipedia. Diakses pada 2 Agustus 2015.
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here