Memahami Sosiologi Industri

0
18457
Sosiologi industri
Ilustrasi: Pixabay.com

Industri dan masyarakat mempunyai hubungan dan saling mempengaruhi. Industri menimbulkan berbagai perubahan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Industri sendiri harus beradaptasi dengan latar belakang pekerjanya, memahami karakter masyarakat tempat industri berada. Kita tentunya pernah membaca berita bagaimana pendirian perusahaan industri, seperti nuklir atau semen mendapat resistensi dari masyarakat

Sosiologi industri adalah cabang ilmu sosiologi yang mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan industri. Materi yang dipelajari dalam kajian ini meliputi; peranan industri dalam perubahan sosial, aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi, hubungan industri dengan berbagai struktur masyarakat.

[Baca: Pengantar Sosiologi Keluarga]

Secara historis dan sosiologis, kemunculan sosiologi industri tidak bisa dilepaskan dari terjadinya revolusi industri, revolusi sosial, penemuan teknologi. Sosiologi Industri mempunyai pengalaman historis tiga negara besar di eropa (Inggris, Perancis dan Jerman) abad ke 17.

Akibat revolusi sosial dan politik adalah tergantinya struktur sosial-politik lama dengan struktur baru, berpindahnya kekuasaan politik ke tangan kalangan progresif yang beraliansi dengan kaum kapitalis dan borjuis yang populis.

Terjadinya revolusi industri, secara umum dikaitkan dengan penemuan mesin uap, penemuan dibidang komunikasi, mesin cetak. Akibat revolusi industri dan teknologi; perkembangan sporadis sektor ekonomi, perubahan sosial, migrasi, urbanisasi, dan perubahan kebijakan sosial.

[Baca: Sosiologi Pedesaan]

Kajian sosiologi industri tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikaran Marx, Durkheim, dan Weber. Memang secara formal sosiologi industri lahir waktu antara Perang Dunia-I dan II, namun matangnya di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.

Cakupan teori sosiologi industri termasuk luas. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor. Pertama, substansi yang dibahas di dalam sosiologi industri itu sendiri cukup luas. Kedua, adanya perbedaan tingkat analisis yang menghasilkan keragaman teori. Ketiga, teori-teori yang digunakan dalam sosiologi industri memiliki keragaman asal pemikirannya.

Kemudian, ada tiga teori kategori pendekatan dalam sosiologi industri; pendekatan non-sosiologis, pendekatan sosiologis, pendekatan hubungan industrial.

Pendekatan non-sosiologis di pelopori oleh kehadiran teori yang mempunyai basis analisis psikologis; teori manajemen ilmiah atau Taylorisme dan psikologi-manajerial. Sementara itu, teori yang berbasis pendekatan sosiologis dilihat dari teori Max Weber, Karl Marx, Durkheim, Elton Mayo, Dunlop. Sedangkan teori berpendekatan hubungan industrial, terbagi ke dalam kelompok pemikiran unitaris, pluralis, dan radikalis.

[Baca: Sosiologi Perkotaan]

Ruang lingkup sosiologi industri, secara internal, analisis tingkah laku manusia dalam hubungan kerja di perusahaan atau industri; hubungan kerja dalam industri, organisasi industri, manajemen industri, kepemimpinan dalam industri.

Secara eksternal, analisis kegiatan manusia dengan latar belakang sosial ekonomi dan kutural yang berbeda-beda. Hal tersebut meliputi; tipologi masyarakat industri, perkembangan masyarakat, birokrasi, analisis dampak lingkungan, CSR (coorporate social responsibility).

Tokoh-tokoh sosiologi industri, Karl Marx, Emile Durkheim dan Max Weber. Pemikiran Marx tentang alienasi, kesadaran kelas dan kapital. Gagasan Durkheim tentang norma, solidaritas organik dan mekanik. Sedangkan dari pemikiran Weber, berkaitan dengan etika kerja Protestan.

Dalam perkembangannya, sosiologi industri sejak tahun 1980-an terdapat empat tema baru yang muncul. Pertama, sosiologi industri menekankan gaya tradisional cenderung patriarkhal. Kedua, runtuhnya komunisme di Eropa Timur, adanya globalisasi industri, perkembangan teknologi pengawasan dan bangkitnya individualisme tahun 1980-an, berkaitan dengan gagasan Foucault dan tokoh pasca modernis lainnya.

Ketiga, perkembangan teknologi informasi dan aplikasi-aplikasinya di bidang manufaktur serta perdagangan, gagasan-gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu pengetahuan serta teknologi ke sosiologi kerja dan industri. Keempat, asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang argumen-argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individual.***

 

Sumber rujukan:

 

[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

[2] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Prenada Media, 2004

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here