Memahami Teori Konflik Sosial

0
5792
teori konflik sosial
Ilustrasi: Pixabay.com

Memahami teori konflik bisa dilakukan berbagai cara, memahami gagasan para pemikirnya, pelajari sejarahnya, kuasai teori dan metodenya. Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokohnya seperti Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1864-1920), George Simmel (1858-1918). Dan dikembangkan oleh analisis konflik kontemporer, Lewis a. Coser, Ralph Dahrendorf. Berikut pendapat sekilas mereka tentang konflik;

Karl Marx melihat hakikat konflik berkaitan dengan kelas sosial dan ekonomi. Marx menggambarkan aspek-aspek dalam konflik, penyebab konflik, pelaku konflik, ceritanya konflik, dan penyelesaian konflik tersebut.

Sementara Max Weber melihat konflik bukan hanya bersumber pada masalah ekonomi, tetapi ada faktor dan tipe konflik lain juga terjadi. Yaitu bahwa konflik terjadi dan berdasar dalam arena politik. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidaklah terbatas pada organisasi-organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam organisasi keagamaan dan pendidikan.

Lalu, konflik terjadi dan berdasar pada gagasan dan cita-cita. Ia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu berupa doktrin keagamaan, filsafat sosial, konsepsi tentang bentuk gaya hidup kultural terbaik.

Menurut George Simmel konflik tunduk pada perubahan. Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Sementara Ralph Dahrendorf melihat wajah masyarakat tidak selalu dalam kondisi terintegrasi, harmonis, tetapi ada wajah lain yang memperlihatkan konflik.

Lewis A. Coser menguraikan tema konflik, baik konflik tingkat eksternal maupun internal. Coser membedakan konflik yang realistis dan tidak realistis. Konflik realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Konflik non-realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Bagi Coser, konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya.

Sementara itu, Charles Wright Mills, sebagai salah satu kelompok kritis juga memberikan perhatian dan mengembangkan teori konflik sosial. C. W. Mills dalam risetnya tentang struktur kekuasaan di Amerika (The Power Elite, 1956), melihat suatu hubungan dominatif, dimana stukrur sosial dikuasai elit (militer, politisi dan pengusaha) dan rakyat adalah pihak ada di bawah kontrol politisnya. Hubungan dominatif itu muncul karena elit-elit berusaha memperoleh dukungan politis rakyat demi kepentingan mobilitas vertikal mereka secara ekonomi dan politik. Media massa yang mempunyai posisi dan peran strategis dalam menyampaikan isu-isu nasional merupakan alat bagi elit kekuasaan untuk meraih dukungan itu, yaitu melalui proses komunikasi informasi satu arah bukan dialog.

Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya damai dan teratur. Teori konflik menilai bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Para teoritisi konflik menilai, orang yang memiliki pandangan bahwa masyarakat layaknya damai, teratur dan seimbang, sebagai tukang khayal dan orang yang tidak tahu ada penindasan, pembungkaman, eksploitasi dari kelompok dominan pada sebuah masyarakat.

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak, setelah sekian lama diabaikan oleh para sosiolog, lalu dibangkitkan kembali oleh C. Wright Mills, Lewis Coser, Dahrendorf. Teori konflik yang muncul pada abad ke 19 dan 20 sebagai respon dari lahirnya demokratisasi dan industrialisasi, memunculkan sosiologi konflik modern, khususnya di Amerika. ***

 

Sumber Rujukan

[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Prenada Media, 2004

[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

 

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here