Sejarah dan Perkembangan Sosiologi Pedesaan

0
10371
Sosiologi pedesaan
Ilustrasi: Pixabay.com

 

Latar belakang sosiologi pedesaan di dunia tidak terlepas dari sejarah Amerika Serikat. Sebelum terjadi industrialisasi, masyarakat Amerika adalah agraris dengan kepemilikan lahan pertanian luas. Namun hal itu berubah ketika terjadi industrialisasi pada abad 19.

Industrialisasi menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, desa berubah menjadi kota, penduduk desa pergi ke kota, daerah pedesaan menjadi terbengkalai, bahkan beberapa daerah pedesaan di Amerika Serikat sempat mengalami depopulasi (tidak ada penduduknya). Hal ini berlangsung beberapa lama menjadi keprihatinan meluas yang kemudian menyebabkan munculnya isu kemanusiaan dan ujungnya perlu perbaikan kehidupan di pedesaan.

[Baca Juga: UU Desa dan Mengenal Sosiologi Pedesaan]

Boleh dikatakan dengan masalah tersebutlah yang melahirkan mata kuliah mengenai masalah sosial pedesaan di Amerika, terutama di Universitas Chicago, Michigan dan North Carolina. Karena akibat masalah tersebut, presiden Amerika Serikat saat itu, Roosevelt, membentuk Komisi Tentang Kehidupan Desa (Commision on Rural Life).

Keputusan membentuk komisi ini juga dipengaruhi studi Sir Horace Plunkett di Irlandia mengenai rusaknya kehidupan desa di Irlandia. Jadi permasalahan desa saat itu memang dialami oleh benua Eropa dan Amerika, yang saat itu memang tengah dilanda revolusi industri dan revolusi sosial.

[Baca Juga: Sosiologi Pendidikan]

Laporan Komisi Tentang Kehidupan Desa telah menarik perhatian para sosiolog Amerika Serikat. Dalam pertemuan para sosiolog yang tergabung dalam American Sociological Society tahun 1912, kehidupan desa menjadi topik utama.

Pada tahun 1937 muncullah kelompok ahli sosiologi Amerika yang mengkhususkan diri pada kajian masyarakat pedesaan, dikenal sebagai Rural Sociology Society. Namun begitu, awalnya mereka mengalami kesulitan, pembangunan begitu pesat di Amerika Serikat menghilangkan desa-desa, menyebabkan para sosiolog Amerika sulit menemukan obyek kajianya. Karena sebab itu akhirnya mereka melakukan penelitian di Amerika Selatan (Peru, Meksiko, Cuba, Brasil) yang masih memiliki masyarakat pedesaan.

Pada tahun 1957 muncullah asosiasi sosiologi pedesaan di Eropa (European Society for Rural Sociology) dan Jepang yang mengkhususkan kajianya pada masyarakat pedesaan. Di Amerika Serikat sendiri semakin berkembang menjadi bidang akademik terpandang dan profesional, seperti pada tulisan Smith & Zopf (1970), Galeski (1972).

Di Indonesia sendiri sejarah perkembangan sosiologi pedesaan tidak terlepas dari sentuhan Prof Dr Sajogyo. Ia mulai memperkenalkan sosiologi, mulanya sosiologi pertanian, sekitar tahun 1957 mulai di Universitas Indonesia kemudian berlanjut di IPB. Dalam usahanya memperkenalkan sosiologi pedesaan, Sajogyo mengajak dan merujuk pemikiran beberapa tokoh yang mempunyai latar belakang ilmu yang berbeda, seperti DH. Penny yang banyak menulis tentang masalah pertanian di Sumatra Utara, AT. Mosher yang ahli di bidang ekonomi pertanian dan lama mengajar di India.

Kalangan kritikus menyebutkan, sosiologi pedesaan sebagai disiplin ilmu dalam perkembangannya lamban. Dalam sejarahnya sosiologi pedesaan kurang bisa mengembangkan analsis sistematis, terutama desa graris, tentang produksi pertanian, pada tingkat perusahaan maupun struktur agraria. Sehingga nasib sosiologi pedesaan saat ini terperangkap dalam sejumlah kontroversi dan harapan. Sepanjang sejarahnya, sosiologi pedesaan tidak pernah dapat secara efektif dan mantab menyatakan statusnya sebagai disiplin ilmu tersendiri yang memiliki obyek penyelidikan dan metode penjelasan yang khusus.

Begitu pula perkembangan sosiologi pedesaan di  Indonesia tidak luput dari kritik, salah satunya dari White (2003) mengkritik menyorot sosiologi pedesaan Indonesia yang dinilai ketinggalan, kurang mendalami transformasi agraria, kurang terisi critical discourse dan bersifat apologia, membenarkan kondisi masyarakat menurut kebijakan politik orde baru. Semua itu mungkin bisa dimaklumi karena warisan kolonial dan politik orde baru cukup lama mendominasi warna pengetahuan dan sikap intelektualnya.***

 

Sumber tulisan

[1] Eko Murdiyanto, Sosiologi Perdesaan, UPN “Veteran”, Yogyakarta, 2008.

[2] Zainuddin,.S. Sosiologi Pedesaan sebagai Ilmu Pengetahuan. Portal Garuda, diakses 15 Agustus 2015.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here