Pengantar Sosiologi Agama

0
3706
Sosiologi agama
Ilustrasi: Pixabay.com

Sosiologi agama memandang agama sebagai fenomena sosial. Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat. Inilah membedakan antara sosiologi agama dengan teologi.

Hendropuspito mengatakan bahwa sosiologi agama merupakan cabang dari sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya. Sedangkan, J.Wach merumuskan sosiologi agama secara luas suatu studi tentang interelasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka.

Sudah jelas agama memberikan pengaruh signifikan atas perjalanan sejarah dan peradaban manusia dari dulu hingga kini, perkembangan pengetahuan, terbentuknya sebuah bangsa, peperangan, pesatnya perdagangan. Hal ini tentunya memberikan faktor penting para sosiolog mempelajari fenomena orang beragama, seberapa besar pengaruh ketuhanan mereka dalam kehidupan keseharian mereka, membentuk keluarga, komunitas, bangsa, berdagang, bertani, menuntut ilmu maupun berperang.

Sosiologi agama menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak munculnya karya Weber dan Durkheim. Sedangkan minat mempelajari fenomena agama dalam masyarakat mulai tumbuh sekitar pertengahan abad ke-19 oleh sejumlah intelektual barat seperti Edward B.Taylor (1832-1917), Herbert Spencer (1820-1903), Frederick H.Muller (1823-1917).

Periode klasik ini dikuasai oleh dua orang sosiolog yang terkenal yaitu Emile Durkheim dari Prancis (1858-1917) dengan karyanya antara lain The Elementary Forms of Religious Life dan Max Webber dari Jerman (1864-1920) dengan karyanya yaitu The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism dan Ancient Judaism. Ini kemudian dilanjutkan oleh sosok seperti Peter L. Berger, Robert Bellah dan yang lainya.

Menurut Keith A. Roberts, objek kajian sosiologi agama ada beberapa hal, yaitu: 1) Kelompok-kelompok dan lembaga keagamaan, meliputi pembentukannya, kegiatan demi kelangsungan hidupnya, pemeliharaannya dan pembaharuannya. 2) Perilaku individu dalam kelompok-kelompok tersebut atau proses sosial yang mempengaruhi status keagamaan dan perilaku ritual. 3) Konflik antar kelompok keagamaan, misalnya Katolik lawan Protestan.

Tujuan yang dicapai dari sosiologi agama, diantaranya, memberikan pengetahuan tentang pola-pola interaksi sosial keberagamaan yang terjadi dalam masyarakat, membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku keberagamaan kita dalam kehidupan bermasyarakat, memahami nilai-nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain.

Djamari menambahkan  bahwa ada keuntungan mempelajari sosiologi agama bagi orang beragama, yaitu: 1) Menambah pengertian tentang hakikat fenomena agama di berbagai kelompok masyarakat, maupun pada tingkat individu; 2) Dapat membantu kita untuk menentukan masalah teologi yang mana yang paling berguna bagi masyarakat, baik dalam arti sekuler maupun relegius.  

Kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survai sampling dan content analisis/analisis isi.

Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan menelusuri sumber di masa lampau sebelum tercampuri tradisi lain. Dengan membandingkan pola-pola sosioreligius di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran mengenai korelasi unsur budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.

Metode eksperimen, misalnya untuk mengevaluasi hasil pebedaan belajar dari beberapa model pendidikan agama. Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks relegius.  

Riset Survei dan Analisis Statistik, peneliti menyusun kuesioner, melakukan interview dengan sampel dari suatu populasi. Sampel dan populasi bisa berupa oganisasi keagamaan atau penduduk suatu kota atau desa. Analisis Isi, peneliti mencoba mencari keterangan dari teman-teman relegius; baik berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin, deklarasi teks dan lain-lain.

Talcott Parsons memberikan nasehat, jika seorang sosiolog agama akan melakukan suatu analisis tentang sosiologi terhadap agama, maka ia harus memahami: sistem fisiologis organisme, sistem kepribadian individu, sistem sosial kelompok, sistem budaya.***

Sumber tulisan;

[1] Sosiologi Agama. Wikipedia, diakses pada 16 Agustus 2015.

[2] Anthony Giddens, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya-Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber, Jakarta: UI-Press, 1986

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here