Jumlah Pengakuan Dosa pada Sunatan di Timor Ternyata Sesuai Jumlah Batu

0
1710
Sifon adalah Prosesi Sunatan di Pulau Timor NTT
Sifon adalah Prosesi Sunatan di Pulau Timor NTT

SUNAT alias khitan selain merupakan prosesi yang diharuskan di suatu daerah sebagai bagian dari adat, adalah juga merupakan bagian dari ritual agama. Dalam bidang kesehatan, sunat juga menjadi satu tindakan yang boleh dan atau bahkan sangat disarankan dengan berbagai alasan kesehatan. [Baca juga: Apa Manfaat Khitan atau Sunat Bagi Kesehatan?]

Jika merujuk pada usia, ada berbagai macam umur yang melaksanakannya, namun semuanya lebih pada kebiasaan ataupun tradisi masyarakat setempat. Ada yang melaksanakan sunat pada saat bayi sedang berumur harian, ada yang setelah anak berumur balita, namun ada anak yang telah menginjak bangku sekolah dasar, bahkan ada pula mereka yang jelang usia remaja. [Baca juga: Apa Saja Yang Akan Dialami Remaja Pada Masa Perkembangannya?]

Tradisi Sifon

Tradisi sunat di nusantara, salah satunya yang menarik diperhatikan adalah masyarakat yang tinggal di Pulau Timor, bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Timor mengenal yang namanya tradisi “Sifon,” ialah satu kebiasaan turun-temurun yang dilakukan pada anak-anak menjelang memasuki usia dewasa, biasanya berkisar pada umur 18 tahun. Yaitu satu ritual sunat yang pelaksanaannya adalah pada masa panen raya.

  • Kenapa Usia 18 Tahun?

Tradisi sunat bernama Sifon di Timor ini dilaksanakan pada mereka para lelaki yang usianya sekitar 18 tahun, alasannya adalah karena pada usia 18 tahun tersebut, mereka telah dianggap mampu berhubungan badan dengan lawan jenis. Hubungan badan ini “seolah” menjadi bagian syaratnya.

  • Pelaksana Sunat Bernama Ahelet

Proses sunat pada sifon ini dilakukan oleh seseorang yang memang memiliki keahlian khusus, sehingga oleh suku setempat ia diberi nama julukan sebagai Ahelet. Ialah sosok yang memiliki peran penting dalam jalannya prosesi sunatan tersebut.

Prosesi Sunatan Sifon

Proses Sifon sebagai tradisi sunatan yang dilakukan masyarakat Timor, yaitu sesuai tradisi Atoni Meto ini dilaksanakan oleh Ahelet. Oleh Ahelet, pemuda yang hendak disunat akan dibawa menuju sungai sebagai tempat dilangsungkannya penyunatan.

Langkah awal sesampainya di sungai, si pemuda calon sunat diberikan kesempatan untuk menghitung jumlah batu, prosesi ini dikenal dengan nama Nain fatu.    Jumlah batu yang diambil dan dihitung pemuda inilah yang nantinya dianggap sebagai pernyataan tentang jumlah lawan jenis yang telah disetubuhinya. Jadi, dengan kata lain, hal ini bisa dikatakan sebagai “semacam” pengakuan dosa demi mendapatkan kelancaran dalam proses penyunatan. Sebailiknya, dipercaya oleh masyarakat setempat apabila sang pemuda itu bohong, maka luka sunatnya pun tak akan segera kunjung sembuh.

Selepas terjadinya “pengakuan” tersebut, selanjutnya jumlah batu yang ada di pemuda itu harus dibuang kembali ke sungai. Tindakan itu memiliki tujuan agar pemuda tersebut melupakan para wanita yang pernah disetubuhinya. Bahkan pasca sunat, terdapat larangan untuk bergaul ataupun melakukan hubungan badan kembali. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Pengakuan Dosa Sebelum Sunat, Harian Cetak Minggu Pagi; Edisi Minggu ke-4 Juli 2015. Diakses pada 18 Agustus 2015
[2] Gambar ilustrasi pixabay.com Diakses pada 15 Juni 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here