Penyimpangan Sosial Menurut Robert K. Merton

0
16687
sosiologi, teori sosiologi, penyimpangan sosial, pengantar sosiologi, Robert K. Merton
Ilustrasi: Pixabay.com

 

Robert K. Merton merupakan sosiolog imigran Yahudi, lahir 4 Juli 1910 di pemukiman kumuh Philadelphia selatan. Sejak kecil rajin membaca buku. Kuliah di universitas Temple, mendapatkan gelar B.A dan tertarik dengan sosiologi. Kemudian mendapatkan gelar MA dan PhD dari universitas Harvad.

Karir akademisnya dimulai menjadi asisten George E. Simpson di Temple University (1927-1931), sebagai asistennya Pitrim Sorokin (1931-1936). Kemudian menjadi pengajar di Havard sampai tahun 1938, profesor dan ketua departemen sosiologi di Tulane University. Tahun 1941 bergabung dengan Columbia University, Direktur Universitas biro penelitian sosial terapan 1942-1971. Tahun 1957, Merton terpilih sebagai presiden American Sociology Society.

[Baca Juga: Pemikiran Nobert Elias]

 

Merton adalah sosiolog pertama mendapatkan penghargaan National Medal of Science dari presiden Amerika tahun 1994. Lebih dari 20 universitas besar memberikan gelar kehormatan padanya. Robert K. Merton wafat 23 Febuari 2003 diusia 93 tahun.

Sebagai tokoh sosiolog beraliran fungsionalis struktural, Merton mengamati secara intens perubahan dalam masyarakat. Dari amatanya tersebut ia menyatakan bahwa ada perubahan dalam sebuah masyarakat memberikan hasil positif, dikatakan fungsional (fungsi), dan ada perubahan sosial membuahkan hasil negatif disebut disfungsional.

Kemudian Merton mengkaji hubungan antara kebudayaan, struktur, dan anomi (kondisi tanpa norma). Merton mendefinisikan kebudayaan dan struktur sosial sebagai serangkaian nilai normatif dan hubungan sosial yang mengendalikan perilaku dan mempengaruhi anggota masyarakat. Sedangkan anomi adalah kondisi relasi antara norma yang baik dari masyarakat dengan kemampuan anggota untuk mengikuti norma yang baik tersebut terjadi disfungsi.

[Baca juga: Pemikiran Karl Marx]

Konsep anomi diperkenalkan oleh Emile Durkheim, didefinisikan sebagai keadaan tanpa norma (deregulation) di dalam masyarakat. Keadaan deregulation atau normlessness tersebut kemudian menimbulkan perilaku deviasi (menyimpang). Seperti Durkheim, Merton berpendapat bahwa penyimpangan adalah aspek normal masyarakat, masyarakat tidak perlu terlalu represif, karena tindakan kriminal terkadang memberikan kemajuan sosial dan solidaritas sosial.

Perilaku menyimpang (deviasi sosial) menurut Merton merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu. Merton menyebutkan terdapat lima tipe deviasi sosial, penyimpangan sosial, yang itu sebenarnya bentuk adaptasi individu atau kelompok, yaitu;

Conformity/konformitas, terdapat pada masyarakat-masyarakat yang relatif stabil. Cara-cara yang telah melembaga memberikan peluang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk mencapai nilai-nilai sosial-budaya yang menjadi cita-citanya, atau perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut

[Baca Juga: Pemikiran Georg Simmel]

Innovation/inovasi, tekanan terlampau diletakkan pada nilai-nilai sosial-budaya yang pada suatu saat berlaku sedangkan warga masyarakat merasakan bahwa cara atau kaidah-kaidah untuk mencapai tujuan tersebut kurang memadai, atau perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat (dengan melakukan tindak kriminal). Contoh mas kawin untuk nikah nilainya terlalu mahal, maka kawin lari.

Ritualism, terjadi pada warga masyarakat yang berpegang teguh pada kaidah-kaidah yang berlaku walaupun harus mengorbankan nilai-nilai sosial budaya yang ada dan berlaku, atau perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya, namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat.

Retreatism/pengunduran atau pengasingan diri, terjadi apabila nilai-nilai sosial-budaya yang berlaku tak dapat tercapai melalui cara-cara yang telah ada/melembaga. Rebellion/pemberontakan, semua nilai-nilai sosial-budaya maupun kaidah-kaidah yang berlaku ingin diubah semua untuk diganti dengan hal-hal yang sama sekali baru. Contohnya rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

[Baca Juga: Pemikiran Max Weber]

Pemikiran sosial Robert K Merton dipengaruhi oleh pemikiran beberapa sosiolog; P.A. Sorokin, Talcott Parsons, Emile Durkheim dan Georg Simmel. Selama hidupnya banyak menghasilkan karya, diantaranya : Social Theory and Social Structure, 1968, Sociology Today: Problems and Prospect, 1967, On Theoretical Sociology: Five Essays, 1967, The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations,1973.

Sebagai kalangan fungsional struktural, Merton dikritik lebih menitikberatkan pada keteraturan (order) pada struktur yang ada di masyarakat, lebih mendukung elit penguasa.***

 

Sumber tulisan;

[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Prenada Media, 2004

[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here