Memahami Keragaman dan Tipologi Desa

1
2651
Ragam dan Jenis TIpologi Desa
Proses pemetaan aset dan potensi desa Kucur [Dok. Pendampingan Infest Yogyakarta]

Desa memiliki keragaman tersendiri. Keragaman desa tersebut bisa terjadi karena perbedaan mata pencaharianya, pola pemukiman, sejarah perkembanganya. Istilah yang digunalan untuk mengenali hal ini disebut dengan tipologi desa.

Kebanyakan penduduk desa yang bermata pencaharian sebagai petani memunculkan istilah  tipologi desa pertanian. Namun dalam pertanian tersebut, penyesuaian jenis tanaman, jenis tanah, pola pengairan dan jenis tanaman terjadi. Karena tidak semua memiliki desa tanah datar, ada desa yang diklasifikasikan desa persawahan, yang memiliki pengairan baik, seperti desa-desa di Jawa. Desa dengan pengairan yang mengandalkan air hujan, daerah pegunungan, dikategorikan desa perladangan, seperti petani di Gunung Kidul, Nusa Tenggara.

[Baca Juga: Sosiologi Pedesaan]

Tidak semua desa menanam padi dan sayuran. Terdapat desa yang memiliki tanah yang lebih cocok untuk penanaman sawit, karet, kopi. Desa seperti inilah dikategorikan sebagai desa perkebunan yang kebanyakan terdapat di Kalimantan dan Sulawesi.

Tidak semua desa pula mengandalkan pertanian atau perkebunan. Terdapat desa peternakan dengan mata pencaharian utama penduduknya sebagai peternak, baik kambing, sapi, ayam atau hewan tenak lainnya. Ada pula desa dengan mata pencaharian utamanya sebagai pengrajin seperti, perajin gerabah di Kasongan, perajin bambu di Kecamatan Minggir.

[Baca Juga: UU Desa]

Terdapat pula desa sebagai pusat industri, perdagangan, penyedia jasa, pelabuhan ataupun dekat sungai besar. Begitu pula ada desa dekat laut, mata pencaharian mencari ikan di laut dan disebut desa nelayan.

Keragaman desa juga ditentukan pola pemukimanya. Soekandar Wiriaatmadja (1972) membagi empat pola pemukiman desa; Pertama, Pola desa Melingkar, yaitu rumah penduduknya melingkar mengikuti tepi jalan, sementara pertanianya di luar lingkaran utama atau berada di belakangnya. Pola lokasi desa seperti ini terdapat di Bali sebelum modernisasi menyentuhnya.

Kedua, Pola Permukiman Menyebar, rumah-rumah para petani tersebar berjauhan satu sama lain. Pola ini terjadi karena belum adanya jalan-jalan besar, sedangkan orang-orang harus mengerjakan tanahnya secara terus menerus.

 

[Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Sosiologi Pedesaan]

Ketiga, Pola desa Konsentris/Mengumpul, yaitu pola lokasi desa-desa dimana pemukiman penduduk mengumpul di suatu lokasi, misalnya dusun atau kampung dan lahan pertanian diantara dusun-dusun tersebut atau di luarnya. Pola ini memungkinkan memiliki hubungan erat dan akrab.

Keempat, Pola desa Memanjang jalur sungai/jalan, yaitu pola lokasi desa dimana pemukiman penduduknya berada di sekitar sungai atau jalan raya dan pertaniannya dibelakang pemukiman mereka. Pola lokasi desa seperti ini terdapat di Kalimantan dan Sumatra.

Penggolongan tipe desa juga dilakukan dengan melihat tingkat perkembangan masyarakatnya. Berdasarkan perkembangan masyarakatnya desa-desa di Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa, yaitu:

Desa Tradisionil (pra desa), desa ini dijumpai pada masyarakat suku-suku pedalaman yang kehidupan masyarakatnya masih tergantung alam, misalnya; suku badui dalam, suku dayak. Desa Swadaya, yaitu desa yang kondisinya relatif statis tradisional dalam arti masyarakatnya tergantung ketrampilan dan kemampuan pimpinannya, misalnya; desa badui luar. Susunan kelas dalam masyarakat masih bersifat vertikal dan statis, serta kedudukan seseorang dinilai menurut keturunan dan luasnya kepemilikan tanah.

Desa Swakarya (desa peralihan), desa yang mulai disentuh anasir-anasir dari luar berupa pembaharuan, mobilitas sosial dan vertikal mulai ada, misalnya; desa-desa di Jawa di pelosok. Desa Swasembada, yaitu desa dimana masyarakatnya telah maju, ditandai dengan sudah mengenal dan menggunakan mekanisasi pertanian dan teknologi ilmiah dan selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan. Norma-norma penilaian sosial selalu dihubungkan dengan kemampuan dan ketrampilan seseorang.

Keragaman desa masih bisa diuraikan lagi dengan sudut pandang kekerabatan, ada yang matrilineal (ibu, perempuan), patrilineal (ayah, laki-laki) maupun campuran. Kemudian, dari sejarah, ada desa yang sudah ada sebelum kemerdekaan, sehingga ada istilah desa perdikan. Keragaman tersebut tentunya mempengaruhi interaksi, struktur, budaya desa itu sendiri. Begitulah keragaman desa merupakan identitas, kekayaan, tantangan dan peluang.

Sumber Rujukan

[1] Eko Murdiyanto, Sosiologi Perdesaan, UPN “Veteran”, Yogyakarta, 2008.

[2] Asnawi Nasution. Tipologi Desa, diakses pada 18 Agustus 2015. 

[3] Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here