Universitas Adelaide: Lumpur Lapindo tidak Disebabkan Gempa Bumi

0
1846
Foto Peringatan 9 Tahun Lumpur Lapindo
Foto Peringatan 9 Tahun Lumpur Lapindo ©-2015-Novik-Akhmad

Universitas Adelaide memunculkan hasil penelitian terbaru yang membahas tentang penyebab lumpur Lapindo di kawasan Sidoarjo. Perdebatan soal penyebab lumpur ini memang cukup banyak dan menjadi salah satu topik politik yang hangat di Indonesia. Bagaimana pun, Lapindo dimiliki oleh Abu Rizal Bakrie yang juga menjadi salah satu politisi di pentas politik Indonesia.

Dua teori terbesar dalam bencana lumpur Lapindo. Teori pertama menyebutkan bahwa Lumpur Lapindo disebabkan oleh gempa bumi di Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006. Gempa tersebutlah yang menyebabkan semburan lumpur pada tanggal 29 Mei, tepat 2 hari setelah gempa bumi. Teori kedua menyebutkan bahwa lumpur Lapindo disebabkan oleh kegagalan atau kesalahan dalam proses pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo.

Lumpur Lapindo telah menggenangi lebih dari 6,5KM2 wilayah Sidoarjo. Kedalaman beberapa bagian genangan lumpur diperkirakan ada yang mencapai 40m. Diperkirakan 40.000 orang menjadi korban dari luapan lumpur ini dengan taksiran kerugian mencapai 2,7 Milliar Dollar.

Dr. Mark Tingay dari Universitas Adelaide menjelaskan temuan terbaru terkait dengan bukti bahwa lumpur Lapindo lebih disebabkan oleh kesalahan dalam proses pengeboran minyak dan bukan akibat dari gempa bumi di Yogyakarta.

“Ada perdebatan yang intens selama penyebab semburan lumpur sejak itu meletus,” kata Ajun, Associate Professor Tingay, seperti dikutip sicencedaily.com.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Tingay ini menggunakan data fisik dari sekitar wilayah dan kawasan letusan. Sebagai model perbandingan, penelitian ini menggunakan data fisik sebelum dan sesudah terjadinya gempa sebagai perbandingan. Penelitian ini mencoba memastikan apakah gempa bumi yang berjarak 250KM dari pusat semburan lumpur adalah penyebab terjadinya semburan lumpur.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pelepasan gas setelah terjadinya gempa bumi. Proses penelitian mencoba menguji apakah kemungkinan adanya semburan gas selepas terjadinya gempa bumi di Yogyakarta yang menjadi kambing hitam penyebab semburan lumpur. Gempa bumi dikaitkan dengan pelepasan gas ke permukaan tanah. Goncangan akibat gempa dinilai sebagai salah satu penyebab mengalirnya lumpur ke permukaan tanah.

“The earthquake-trigger theory proposes that seismic shaking induced liquefaction of a clay layer at the disaster location. Clay liquefaction is always associated with extensive gas release, and it is this large gas release that has been argued to have helped the mud flow upwards and erupt on the surface. However, we examined precise and continuous subsurface gas measurements from the adjacent well and show that there was no gas release following the earthquake,”

(Dr. Mark Tingay, Adelaide University).

Bebatuan di sekitar sumber lumpur tidak bereaksi terhadap guncangan gempa. Hal tersebut menunjukkan bahwa gempa bumi tidak bisa dinyatakan sebagai penyebab dari semburan lumpur yang menelan korban masyarakat di sekitarnya sejak 2006 tersebut. UPaya untuk memeriksa bukti fisik tersebut juga menunjukkan bahwa aktivitas bawah tanah baru terjadi ketika pengeboran dilakukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengeboran minya merupakan penyebab dari lumpur tersebut.

“The rocks showed no response to the earthquake, indicating that the earthquake could not have been responsible for the mud flow disaster. Furthermore, the measurements highlight that the onset of underground activity preceding the mud eruption only started when the drilling ‘kick’ occurred, strongly suggesting that the disaster was initiated by a drilling accident.

(Dr. Mark Tingay, Adelaide University).

Sumber Rujukan:

[1] Earthquake not to blame for Indonesian mud volcano, Adelaide University, diakses pada 22 Agustus 2015.

 

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here