Butet Kertaredjasa: Monolog Sebagai Bentuk Kemandirian Pelaku Seni Peran

1
3797
Membincangkan Monolog, Forum Umar Kayam PKKH -UGM bersama Butet Kartaredjasa
Membincangkan Monolog, Forum Umar Kayam PKKH -UGM bersama Butet Kartaredjasa

BUTET Kertaredjasa yang kita kenal sebagai seorang aktor tetap memilih memproklamirkan diri sebagai “seorang pengecer jasa akting.” Ia lebih memilih nama itu dengan alasan kepemilikan makna yang lebih ringan dan tanpa beban dibanding menggunakan istilah aktor itu sendiri.

Namun khalayak tetap menjulukinya sebagai aktor bukan tanpa alasan, karena selain sebagai salah satu penggerak dalam kelompok teater Gandrik, Butet juga dikenal sebagai Raja Monolog. Keberhasilannya dalam menirukan suara Soeharto, –sang mantan–  presiden Republik Indonesia dalam sebuah pementasan teaternya tahun 1995, menjadi bukti kuat kemampuan Butet tersebut.

Bambang Ekologo Butet Kertaredjasa

Terlahir di Yogyakarta, 21 November 1961, dengan nama lengkap Bambang Ekologo Butet Kertaredjasa , Butet adalah putera dari Bagong Kussudiardjo yang juga merupakan seorang seniman ternama; koreografer (penata tari), pelukis senior, pegiat seni Indonesia. Butet adalah juga kakak kandung dari seniman musik Djaduk Ferianto.

Pentas Monolog Sebagai Jalan Keaktoran

  • Pementasan Realis

Dalam seni peran terdapat bermacam-macam gaya pementasan, yang di antaranya adalah pementasan realis. Yaitu pertunjukan yang pengucapan dialognya dilakukan sama persis seperti yang ada di dalam naskah dan sama sekali tidak boleh melakukan improvisasi sebagai pengembangan atau penambahan dialog serta adegan di dalam pentas. Bisa dikatakan, tata ruang dan setting di dalam pementasan realis sangat menduplikasi dengan tata ruang dan setting di kehidupan nyata. [Baca juga: Konser Mata Cangkem: Saatnya Musik Teater Menjadi Pertunjukan Utama, Bukan Pengiring]

  • Pementasan Absurd

Selain realis, ada pula pementasan teater absurd.      Yang disebut absurd dalam pementasan ini biasanya terletak pada jalan cerita naskah drama atau bisa pula pada posisi para aktor dalam membawakan cerita. Sebagai contoh naskah absurd yang paling dikenal adalah “Menunggu Godot” karya Samuel Becket.

Pada karya “Menunggu Godot,” diceritakan terdapat beberapa tokoh yang bercakap dalam waktu lama demi menunggu sang Godot. Godot sendiri  bisa diartikan sebagai harapan, kesedihan, masa depan, ketakutan, kecemasan, rasa bahagia, dan apapun cenderung merujuk pada hal yang tak pasti.

  • Pementasan Teater Tubuh

elanjutnya ada pula pementasan teater tubuh yang biasanya diunculkan sebagai pertunjukan pada era modern. Dalam pementasan tubuh ada hal yang sangat diminimalisir, yaitu mengenai penggunaan kata-kata ataupun pengucapan kalimat, baik itu berupa narasi ataupun yang berujud dialog.

Seiring perkembangannya, teater tubuh kemudian mengadaptasi gerakan tari, hanya saja tetap merunut pada pakem tangga dramatik penyusun cerita dalam teater.

Teater Monolog

Teater monolog adalah satu pertunjukan yang bisa merujuk pada pementasan realis, namun bisa juga masuk dalam pementasan absurd. Dan namanya juga “monolog,” maka iapun dilakukan hanya oleh seorang aktor sebagai pembawa cerita secara utuh.   Artinya, sendirian pula ia berada di atas panggung selama beberapa waktu, yang adakalanya penampilannya juga didukung dengan permainan lampu serta musik.

Dinyatakan “adakalanya,” karena bisa saja pementasan itu utuh sebagai pementasan yang mau tidak mau penonton hanya disuguhi penampilan sang aktor terlepas piawai ataupun tidak, karena musik dan lampu tak selalu ada dan melengkapinya. Yang paling penting pada pementasan teater monolog ini adalah kekuatan sang aktor dalam menjaga para penonton supaya betah mendengarkan sekaligus meyakinkan bahwa cerita yang disampaikan ‘benar-benar terjadi’. [Baca juga: Alex Komang a.k.a Syaiful Nuha: Dari Seni Sastra ke Seni Peran]

Tiada Pernah Lelah Dalam Proses Kreatif

Butet Kertaredjasa menjadi seorang pelaku seni yang pengalamannya tak bisa diragukan lagi. Jam terbangnya yang telah melampaui batas hitungan tentu membuat ia menjadi seorang pementas yang bejibun pengalaman. Dimulai dari tahun 1986, Butet mementaskan monolog berjudul Racun Tembakau, kemudian monolog Lidah Pingsan yang ia perankan pada tahun 1997, hingga selanjutnya ia pun mulai memperoleh banyak perhatian pada tahun 2006 ketika mementaskan pertunjukan “Matinya Toekang Kritik.”  Dan seolah tak memiliki rasa capek dan bosan dalam berkarya, ia tetap dan terus berproses kreatif, hingga pada tahun 2007 hadirlah pementasan Sarimin, dan tiga tahun setelah itu (2010) juga mempertunjukkan kepiawaiannya dalam monolog Kucing.

  • Tak Mau Dikatakan Malas-Malasan

Dalam menjalankan karirndi bidang seni, jalan monolog yang dipilih Butet sejatinya lebih ingin menunjukkan bahwa ia bukanlah pribadi pemalas.  Jalan monolog itu dilakoninya karena ia tak ingin terkesan dengan cara kerja teman-teman komunitasnya yang kadang gemar bermalas-malasan.     Sebagai contoh, jika saat latihan hanya akan ada segelintir anggota yang datang, ia pun tak mempermasalahkan hal itu. Namun ia lebih memilih untuk mengembangkan diri, sehingga harus terus bekerja keras.

Ketika hanya tedapat segelintir dua gelintir orang yang datang pada jam latihan,  Butet bersikeras ‘meninggalkan’ teman-temannya untuk selanjutnya memilih jalan pentas monolog. Sendirian.     Pada akhirnya hasil kerja kerjas tersebut memberikan pengalaman baginya untuk melakukan banyak kerjasama dengan sastrawan dan dramawan lain, seperti Putu Wijaya, Indra Tranggono, Agus Noor, dan lain-lain.

  • Nilai Lebih dari Pentas Monolog

Bagi Butet Kertaradjasa ada banyak kelebihan dari pentas mmonolog. Yang pertama adalah dalam hal meminimalisir biaya.     Hal ini mudah dipahami, karena dalam satu pertunjukan monolog tak membutuhkan banyak properti serta tak memerlukan persiapan lebih. Ini serupa dengan sebuah pertunjukan realis yang komplet. Model pertunjukan monolog hanya membutuhkan sebuah tempat, satu aktor, dan juga cerita. Tak lebih.

Meskipun begitu, dalam pertunjukan yang minimalis itu (dalam hal ini teater) kenyataannya justru sang aktor mendapatkan keuntungan berlipat, salah satunya bisa lebih percaya diri, yakin pada kemampuan dirinya sendiri.   Tantangan aktor dalam hal meyakinkan penonton melalui aktingnya adalah kesulitan, namun akan menjadi bahagia ketika sukses melakoninya.

Gandrik: Proses Justru Menjadi Media Belajar

Butet Kertaredjasa yang juga pentolan Teater Gandrik sangat diuntungkan. Karena di dalam Gandrik, meski masih dalam tahap mempersiapkan sebuah pertunjukan, namun para aktor diwajibkan memunculkan improvisasi. Imbasnya, naskah drama yang bisa dikatakan “telah matang,” tidak menutup kemungkinan akan mengalami banyak sekali revisi.Dan hal itu bisa saja dilakukan berulang-ulang.     Sehingga  selama proses hingga  hasil akhir, akan menghasilkan revisi naskah yang tak terhitung jumlahnya.

  • Spontanitas yang Dipersiapkan

Yang menjadi rahasia adalah, dalam improvisasi yang terkesan spontan dan menghadirkan tawa, sesungguhnya semua itu telah dipersiapkan dengan matang. Seperti misalnya pada bagian tertentu, maka kemungkinan melawak macam apa saja yang bisa digunakan. Sifat dan sikap luwes serta terbuka dari para aktor sangat dibutuhkan di sini.

Butet sendiri mengatakan; proses belajar keaktoran di Gandrik atau saat bersamanya adalah aku (Butet) melakukan, tonton atau perhatikan dengan baik, dan kemudian rumuskanlah. Setiap mengamati aktor senior (seperti misalnya bagaimana Susilo Nugroho – Den Baguse Ngarso, Whani Darmawan, dan yang lain memperlakukan teks dan melakukan improvisasi) adalah proses belajar yang berisi banyak muatan ilmu untuk diserap.

  • Kelompok Dengan Pribadi Mandiri

Bagi Butet di dalam proses kreatif berkesenian adalah mari sama-sama berkeringat. Prinsip ‘aku berkeringat sementara kamu bersandar’ sangat dihindari olehnya. Dalam proses penciptaan memang sebaiknya masing-masing aktor saling bekerja keras dan tak bergantung pada orang lain. Karena, hidup ini ditentukan oleh diri sendiri. Jalan ini ditempuh Butet Kertaredjasa oleh kesadaran bahwa ketika mati ia ingin meninggalkan sistem atau proses belajar yang ‘cair.   Sesuai dengan yang diterapkan Butet seperti ini, sehingga nantinya masing-masing anggota bisa mandiri, mampu bertahan, dan terus berproses kreatif meski tanpa dirinya. [Baca juga: Tangis – Teater Gandrik 2015: Menghadirkan Dalang Dalam Pementasan]

Di kondisi inilah Butet memberikan pelajaran, bahwa Gandrik sebagai kelompok memang harus hidup dan dihidupi oleh kebersamaan dan kemampuan para anggota yang harus saling menopang dan menutupi kekurangan. Namun siapapun –sebagai person yang bersentuhan dengannya– juga harus bisa berdiri sendiri, sehingga kelak tak harus bergantung kepada pihak lain.         Pola yang Butet terapkan ini sebagai hasil setelah ia pelajari dari Rendra dan dramawan lain yang besar dan berhenti hanya pada masanya.    Ketika Rendra sebagai aktor dan penggerak dengan energi besar meninggal dunia, maka tak ada yang bisa melanjutkan jejaknya dalam berkesenian karena tak ada sistem atau proses belajar yang ditinggalkannya.

Tentang Pentas Tunggal Stand Up Comedy

Berbicara pentas tunggal di atas panggung tak lengkap jika tak menyinggung fenomena yang sedang menjadi trend khususnya bagi generasi muda saat ini. Ialah Stand Up Comedy. Lalu bagaimana dengan pentas tunggal ini?

Butet memaparkan bahwa proses stand up comedy dan juga meme yang sekarang banyak beredar sebagai trend anak muda itu bisa saja dikatakan monolog. Akan tetapi nilainya sangat dangkal. Bagaimana tidak, karena persiapan materi stand up bisa dilakukan sebatas durasi jam sebelum tampil di atas panggung, kurang luas dalam hal uji coba. Sehingga, punch-punch atau gimmick yang dilontarkan kepada pemirsa bisa jadi hanya itu-itu saja. Monoton.       Sementara pada monolog yang dilakoni Butet sendiri, persiapan dilakukan minimal tiga bulan. Itupun harus melibatkan orang lain, bisa patner diskusi, ataupun sang penulis naskah. Dari sini, pada proses awal bisa jadi satu naskah tersebut berangat dari ide Butet, atau bisa pula muncul dari idenya sang penulis. Yang pasti, tatkala berproses, dua pemikiran itu sudah dibicarakan dan melebur menjadi satu untuk menghasilkan naskah fixed.

Begitupun selanjutnya segala kemungkinan juga telah dipetakan arahnya. Karena setiap kemungkinan bagaimana naskah dipentaskan, selalu diujicobakan terlebih dahulu. Pas atau tidak, improvisasi mana yang dipertahankan atau dibuang, juga penentuanan jeda, dan banyak lagi pertimbangan lainnya. Sehingga saat tampil, materinya sudah terukur baik.

Yang dimaksud pada “penentuan jeda” ini, misalnya adalah ketika adegan monolog dengan dialog/narasi berat berisi pemikiran, namun penonton berkemungkinan kelelahan, maka akan diselingi humor. Nah humor ataupun pemberian ruang dalam  menanggapi penonton itu sudah diperhitungkan, bahkan perhitungan ini tak lepas dari catatan. Baru setelah cair, monolog dikembalikan pada arah yang serius.   Hal ini dilakukan karena ketika tak diukur, bukan tidak mungkin akan membikin penonton merasa enggan dan bahkan bosan, lantaran terlalu banyak dijejali hal-hal yang sifatnya serius.

Bagaimana Masa Depan Aktor?

Adanya sebuah pertanyaan yang muncul, “Apakah aktor memiliki masa depan yang baik?”   Butet menjawabnya dengan singkat, “Sangat baik.!”    Kemudian iapun menjelaskan bahwa dalam perkembangannya, sekarang ini Butet melatih tak hanya bagi mereka yang memiliki passion belajar di bidang teater. Namun Butet juga menerima  marketer, petugas asuransi, presenter televisi, dan juga PNS.

Butet memang selalu ingin bekerja keras dan menciptakan peluang dari apa yang dimilikinya, yakni seni olah peran. Ia melakukan banyak pendekatan pada berbagai hal yang memiliki latar belakang seni.    Hal ini diyakininya bisa terus berjalan dan berkembang karena masa sekarang dasar-dasar keaktoran sangat dibutuhkan dan digunakan. Dasar-dasar keaktoran itu misalnya seperti olah vokal, ekspresi, timing, olah tubuh, dan masih banyak hal lainnya. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Dilaporkan oleh Puspitadesi  usai acara; “Membincangkan Monolog”, Forum Umar Kayam PKKH -UGM bersama Butet Kartaredjasa, pada 25 Agustus 2015
[2] Gambar ilustrasi diambil oleh puspitadesi, pada 25 Agustus 2015

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here