“Cegah Dhahar lan Guling” Menjadi Prinsip sebelum Tren Diet & Food Combining Muncul

0
2156

GAYA hidup manusia masa kini memang mengarah pada keanekaragaman. Ada yang glamour, ada yang sederhana dan secukupnya, ada yang ingin modis, ada yang tetap mempertahankan gaya tradisi lokalnya, dan masih banyak lagi.

Dari bermacam gaya hidup itu, tentu ada banyak pula tingkah dan selera yang terkandung di salamnya. Ada yang hendak merasakan nikmatnya dunia sebagai satu karunia Illahi, ada yang sekedarnya, ada pula yang tak ingin memanjakan keinginannya. Bentuknya pun banyak jenisnya, ada yang sering berkelana kuliner, berbelanja busana, dan mencari kegembiraan. Tak sedikit yang gemar berpuasa, berhemat, dan enggan bergaya hidup mewah. Dan ada pula yang acap melakukan olahraga, terapi, diet, dan kegiatan lain yang bertujuan menyehatkan badan namun juga mengikuti trend yang sedang ada. [Baca juga: Mengenal Kemoterapi dan Efek Samping yang Ditimbulkan]

Telah Tertanam Perilaku Pendahulu

Berkaitan dengan gaya hidup sehat, sejatinya para pendahulu ataupun leluhur kita, khususnya di tanah Jawa, telah memiliki patokan untuk melakukannya. Sebagai salah satu contoh adalah perlakuan hidup prihatin bersemboyankan “Cegah dhahar lan guling,” yang memiliki padanan kata “Mencegah makan dan tidur.”

Semboyan di atas adalah sebagaimana telah lama dijadikan salah satu bagian lirik dari “tembang jawa” (lagu jawa) yang isinya juga memuat pesan kepada manusia. Agar manusia selalu ingat meski dalam kesenangan (menyanyi) sekalipun.

  • Prinsip Keseharian

Semboyan yang berhubungan dengan kesehatan dan kehidupan bahagia (bagi orang Jawa) tersebut bukan saja sebatas pada jasmani. Lain dari itu adalah juga menyangkut kesehatan mental, kesehatan jiwa, serta kesehatan spiritual. Oleh karenanya akan emnjadi baik sekiranya hal itu dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pasa Ngrowot, Food Combining ala Jawa

Hal itu harus dipahami, karena kebenarannya kita telah memulainya. Sedangkan manusia modern baru memulai setelah dijadikan “gaya” yang justru arahnya lebih pada komersialisais, atau kalau tidak ya propaganda gaya. Sebut saja contohnya adalah perilaku diet, ataupun food combining. Mau beralasan “hal ini berbeda” sekalipun, toh kenyataannya leluhur Jawa juga telah lama mengenalnya dengan istilah “cegah dhahar” dan juga “pasa ngrowot.”      Cegah dhahar adalah istilah untuk membatasi makan, sedangkan “pasa ngrowot” adalah hanya konsumsi makan ubi-ubian.

[Baca juga: Puasa dan Diet? Hindari Jenis Makanan Yang Merangsang]

Selain “pasa ngrowot,” ada pula ‘laku prihatin’ yang juga dilakukan leluhur Jawa masa lalu, misalnya hanya memakan sayuran saja, konsumsi buah saja, ataupun menghindari makanan yang bernyawa. Ini tentu memberikan efek luar biasa bagi tubuh.

  • Mengendalikan Tubuh

Dengan perilaku “cegah dhahar lawan guling” yang artinya mencegah makan dan tidur, maka secara otomatis kita harus mengendalikan semuanya. Tak terlalu memanjakan lidah, mulut, dan mata. Sehingga ketika kesehatan diperoleh, dengan tidur yang terkendali kita pun bisa lebih banyak menghasilkan karya, lebih produktif.

Terhindar dari Perilaku Kecanduan

Keteraturan hidup bisa terwujud jika kita bisa mengendalikan tubuh, sebagaimana banyak dialami orang-orang masa lalu yang jarang terserang penyakit berat. Semua berawal dari perilaku. Sebagai contoh adalah waktu makan, pada malam hari orang-orang dahulu membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan hanya sekitar pukul 19.00, dan baru akan kembali memberikan jatah makan pada perut di –sarapan– keesokan paginya.

[Baca juga: Ada Banyak Keuntungan Jika Kita Melakukan Rutinitas Sarapan]

Selain mendapatkan nilai keharmonisan karena seringnya kebersamaan di meja makan, hal ini memberikan efek lebih pada keteraturan sejati. Berbeda dengan masa-masa sekarang, di mana banyak orang susah meninggalkan kebiasaan “ngemil.”   Ya, aktivitas ini bisa dimaklumi, karena kegiatan di malam hari orang-orang dahulu tak sepadan manusia zaman sekarang. Namun kita pun musti paham pula terhadap konsekuensi penyakit yang bakal timbul, bukan?

Efek dari kebiasaan –makan camilan– yang jika tak dikendalikan ini, tak lain adalah menjadi ketagihan. Contoh sederhananya adalah tentang konsumsi kopi, maka ada banyak orang yang memaparkan bahwa kalau tidak ngopi pasti akan ngantuk,” kenapa hal itu tak diubah dalam mindset kita? Misalnya, tiada kopi pun bukan satu masalah, semua baik-baik saja! [Baca juga: Efek Baik dan Buruk Konsumi Kopi bagi Kesehatan]

Tatkala setiap pribadi bisa mengendalikan diri dan mengontrol tubuhnya, maka besar kemungkinan dampak yang akan timbul adalah pengendalian pada hal lain. Ada ketelitian yang bakal muncul, ada pula arah dan ukuran yang pada akhirnya bisa membedakan tempat dan waktu. Empan nggo papan istilah orang Jawa. [uth]

Rujukan:
[1] Gambar ilustrasi; pixabay.com, Diakses pada 30 Agustus 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here