Konstruksi Sosial Menurut Peter L Berger

0
5028
Foto Peringatan 9 Tahun Lumpur Lapindo
Foto Peringatan 9 Tahun Lumpur Lapindo ©-2015-Novik-Akhmad

Nama Peter L Berger kiranya tidak asing lagi bagi intelektual dan aktifis sosial di Indonesia. Sosiolog kelahiran Vienna, Austria, yang kemudian hijrah ke Amerika Serikat ini karyanya sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Diantaranya; bersama Thomas Luckman, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, 1966 (Tafsir Sosial atas Kenyataan Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan), The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion, 1967 (Langit Suci Agama sebagai Realitas Sosial).

[Baca Juga: Teori Penyimpangan Sosial]

Sebagai intelektual ia memang pernah membuat prediksi keliru, bahwa sekulerisasi akan terjadi di seluruh dunia, namun nyatanya orang beragama tetap khusyu’ dan tumbuh subur. Seperti halnya Karl Marx memprediksi kapitalisme runtuh komunisme jaya, tapi nyatanya belum terjadi jua. Dan sebagai profesor sosiologi di universitas Boston ia memang memberikan warna lain bagi sosiologi, yaitu, sentuhan filosofis.

Sebagai sosiolog kontemporer Peter L Berger terkenal dengan konsep konstruksi sosial. Konsep ini dikerjakanya bersama Thomas Luckman yang tertuang dalam buku berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, 1966. Konstruksi bisa diartikan pembuatan, pembangunan, pembentukan sekaligus pembaharuan. Maka realitas sosial itu adalah buatan, bangunan dan rekayasa manusia.

[Baca juga: Sosiologi Pedesaan]

Bagi Berger masyarakat adalah realitas obyektif sekaligus realitas subyektif. Masyarakat sebagai realitas obyektif, artinya masyarakat berada di luar diri manusia dan berhadap-hadapan dengannya. Sedangkan masyarakat sebagai realitas subyektif, individu berada di dalam masyarakat itu sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, bahwa individu adalah pembentuk masyarakat dan masyarakat adalah pembentuk individu.

Mengikuti jejak dialektika Hegel, yaitu tesis, antitesis dan sintesis, Berger menghubungkan antara yang subjektif dan obyektif itu melalui konsep dialektika. Konsep dialektika tersebut berisi; eksternalisasi, obyektifikasi dan internalisasi.

[Baca juga: Pengantar Sosiologi Pendidikan]

 

Eksternalisasi adalah usaha ekspresi diri manusia ke dalam dunia luar, baik kegiatan mental maupun fisik, kerja dan karya; meja dan lukisan. Ia selalu mencurahkan diri ke tempat di mana ia berada, ingin menemukan dirinya dalam suatu dunia. Selama hidup manusia selalu menemukan dirinya dengan jalan mencurahkan dirinya dalam dunia, dilakukan terus-menerus dalam rangka menemukan dan membentuk eksistensi diri.

Objektifikasi adalah hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia. Hasilnya berupa realitas objektif yang terpisah dari dirinya, berpotensi untuk berhadapan, bahkan terkadang bisa mengendalikan dengan si penghasilnya. Contoh dari obyektifikasi, hasil eksternalisasi, misalnya, manusia membuat laptop untuk meningkatkan kerjanya. Laptop memang lebih efektif dan efisien ketimbang mesin ketik, namun laptop bisa memaksa pembuatnya (manusia), manusia harus mengatur cara kerjanya (beradaptasi dengan laptop), manusia terkadang secara tidak sadar telah didikte oleh laptop yang diciptakannya sendiri.

[Baca juga: Memahami Pantun sebagai mekanisme pelestarian sistem sosial]

 

Internalisasi adalah penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran subjektif sedemikian rupa sehingga individu dipengaruhi oleh struktur sosial atau dunia sosial. Melalui internalisasi itu, manusia menjadi produk masyarakat. Wujud internalisasi adalah; sosialisasi, kesenian, pendidikan, cerita, suatu generasi menyampaikan nilai-nilai dan norma-norma sosial-budaya yang ada kepada generasi berikutnya. Generasi berikut diajar lewat berbagai kesempatan dan cara untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai budaya yang mewarnai struktur masyarakatnya.

Jadi konstruksi sosial Berger mengajak kita untuk melihat bahwa realitas sosial itu tidaklah tunggal, ajeg, statis, melainkan ganda, bahkan plural serta dinamis. Lebih jauh, dengan konstruksi sosialnya tersebut mengajak kita untuk terus berproses, membuat realitas yang lebih baik dan lebih baik lagi. Inilah kiranya yang membedakan kita manusia dengan binatang.

Karya sosiologi Peter L Berger cenderung filisofis, tak heran kalau ia disebut sebagai sosiolog yang mengembalikan sosiologi yang kini begitu kering ke filsafat. Karya sosiologinya juga meneruskan sosiologi pengetahuan yang dimulai oleh Karl Manheim.***

Referensi

[1] George Ritzer, Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda, PT Rajawali Press, Jakarta, 2002

[2] Masnur Muslich, Kekuasaan Media Massa Mengonstruksi Realitas, Jurnal Bahasa Dan Seni, Tahun 36, Nomor 2, Agustus 2008

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here