Sejarah dan Perkembangan Sosiologi

0
1787
Snufkin / Pixabay

Sejarah dan perkembangan sosiologi dapat disederhanakan dalam beberapa tahap; pertama masa sebelum tercetus istilah sosiologi, kedua masa tercetusnya sosiologi/masa awal sosiologi atau sosiologi klasik, ketiga masa sosiologi modern, dan keempat masa sosiologi post modern.

Masa sebelum tercetusnya istilah sosiologi, para filsuf, sejarawan, kalangan bangsawan sudah memperhatikan masalah manusia dan masyarakat. Saat itu kepercayaan pada tuhan lebih kuat, negara berbentuk teokrasi-monarki/kerajaan, pertanian, peternakan serta perdagangan menjadi mata pencaharian utama. Bisa dikatakan industri sebagai penyebab migrasi, urbanisasi dan masalah sosial lain belum begitu terasa.

Plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), mengamati sistem-sistem sosial, lembaga-lembaga politik, ekonomi. Mereka berdua menghubungkan negara, politik dengan hukum, moral, keadilan, etika.

Ibnu Khaldun (1332-1406), menuliskan kehidupan sosial-budaya, tipe-tipe sosial dan perubahan sosial masyarakat gurun pasir. Thomas More dan Campanella, mengangankan adanya masyarakat ideal. Machiavelli menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan, politik dipisahkan dari moral.

Lalu muncullah Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), J.J, Rousseau (1712-1778) mengupas kontrak sosial. Mereka bertiga menyebutkan kebanyakan manusia menginginkan perdamaian, dan bisa terwujud melalui kontrak sosial, terutama dengan pihak berkuasa. Saint Simon (1760-1825), menyatakan manusia hendaknya dipejalajari dalam kehidupan berkelompok. Masyarakat berinteraksi, bertindak ada sebabnya, dan melakukan fungsinya.

Masa terbentuknya istilah sosiologi pada abad 19, kondisi sosial mulai berubah, terjadi revolusi sosial, revolusi industri, pergolakan politik, perkembangan teknologi, penemuan, kolonialisasi, perdagangan begitu marak, melanda terutama benua eropa. Dan tokoh Auguste Comte, mencetuskan istilah sosiologi. Comte menyebutkan masyarakat berkembang melalui tiga tahap menurut cara berpikir dominan, yaitu: (1) tahap teologis, ditandai oleh kekuatan tuhan;  (2) tahap metafisik, ditandai oleh kekuatan pikiran dan ide-ide abstrak; (3) tahap positif ditandai dengan kemajuan ilmu-ilmu positivistik. Jadi sosiologi lahir tahun 1839.

Tokoh Inggris Herbert Spencer (1820-1830), menulis masyarakat dengan data empiris, kunci memahami gejala sosial adalah hukum evolusi universal. Emile Durkheim (1858-1917), mengemukakan dalil keberadaan fakta sosial. Bahwa fakta sosial tidak dapat direduksikan ke fakta individu, sosiologi terlepas dari psikologi. Max Weber (1864-1920) sosiolog Jerman menyatakan, memunculkan istilah verstehen (memahami) tingkah laku manusia. Kenyataan sosial itu didasarkan motivasi individu dan tindakan sosial berarti, dan interaksi.

Sejak itulah sosiologi berkembang, masuk jaman sosiologi modern. Kolonialisasi mendapatkan perlawanan di berbagai belahan negara, dan kemudian muncul nasionalisme di berbagai dunia. Sosiologi berkembang pesat abad ke-20 di benua Eropa dan Amerika. Di Eropa berkembang pesat di Perancis dan Jerman, sementara Inggris dan Italia kurang berpengaruh. Berkembang paling pesat adalah Amerika Serikat. Dari benua Eropa dan Amerika inilah sosiologi menyebar ke benua dan negara lain, termasuk Indonesia.

Perkembangan sosiologi selanjutnya menjadi kompleks, menjangkau dan menyerap berbagai aspek. Sosiologi mempunyai berbagai paradigma, teori, madzhab dan kelompoknya. Mereka mewakili paradigma-paradigmanya masing dan saling bertentangan. Pengaruh filsafat fenomenologi dan hermeneutik, muncul  Berger dan Luckman, Alfred Schutz. Muncul Etnometodologi dari Harold Garfinkel, Giddens dengan teori strukturasi (1976).

Masa inilah sebagian kalangan menyebutnya sebagai masa sosiologi postmodern. Sosiologi lebih cenderung menolak narasi besar yang biasa dilakukan sosiologi modern. Bekas negara jajahan mulai mencurigai ilmu-ilmu dari eropa dan barat sebagai bentuk penjajahan baru, termasuk sosiologi, beberapa kalangan intelektual menyatakan ilmu sosiologi barat mengalami kebangkrutan, mati suri atau tidak relevan lagi, muncul kajian-kajian cultural studies, oksidentalisme maupun postkolonial. Pengaruh dari teoritisi kritis, Theodor W. Adorno dan Max Horkheimer, antropologi dan semiotik dari Levi-Strauss dan Roland Barthes, filsafat pengetahuan Mitchel Foucault, dekontruksi Jaques Derrida. ***

 

Referensi

[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

[2] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Prenada Media, 2004

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here