Memahami Teori Pertukaran Sosial

0
3997
Pezibear / Pixabay

Teori pertukaran sosial adalah teori yang berkaitan dengan tindakan sosial yang saling memberi atau menukar objek-objek yang mengandung nilai antar-individu berdasarkan tatanan sosial tertentu. Adapun objek yang dipertukarkan bukanlah benda nyata, melainkan hal-hal yang tidak nyata, menyangkut perasaan sakit, beban hidup, harapan, pencapaian sesuatu.

Empat konsep pokok teori ini yakni ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan; Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang menghabiskan sumber kekayaan individu atau efek yang tidak menyenangkan.

Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran standar yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.  

Setiap individu menjalin pertemanan tentunya mempunyai tujuan. Individu tersebut pasti diharapkan membantu jikalau dibutuhkan, dan memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi mempertahankan hubungan persahabatan itu juga membutuhkan biaya tertentu, seperti waktu dan energi. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri.

Asumsi teori pertukaran ini adalah :  Manusia pada dasarnya dalam berinteraksi senantiasa mencari keuntungan. Walau senantiasa berusaha mendapatkan keuntungan dari interaksinya, tetapi mereka dibatasi oleh sumber-sumber yang tersedia. Walau senantiasa berusaha mendapatkan keuntungan material, tetapi mereka melibatkan dan menghasilkan hal-hal yang bersifat non-material seperti emosi, perasaan suka, sentimen.

Kemunculan teori pertukaran sosial sebagai respon atas aliran fungsional struktural yang terlalu memperhatikan struktur sosial dan melupakan manusia sebagai individu. Tidak heran kalau teori berkaitan dan mengambil psikologi eksperimental. Selain itu teori juga berhubungan dengan filsafat hedonisma, ekonomi dari pemikiran Adam Smith. Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964).

Teori pertukaran sosial George Homans, perhatian utamanya lebih tertuju pada pola-pola penguatan, sejarah imbalan, dan biaya yang menyebabkan orang melakukan apa-apa yang mereka lakukan. Homans menyatakan bahwa orang terus mengerjakan apa-apa yang di masa lalu mendapat imbalan. Sebaliknya, orang akan berhenti melakukan sesuatu yang telah terbukti menimbulkan kerugian individual.

Thibaut dan Kelley, mendefinisikan pertukaran sosial sebagai hubungan sukarela yang terjadi antara dua orang dan saling memuaskan kedua belah pihak (ada ganjaran dan biaya), pertukaran sosial didasarkan untung rugi.

Peter Blau menyatakan tindakan orang tergantung reaksi dan penghargaan orang lain, bahwa pertukaran sosial merupakan proses pertukaran atau transaksi antarindividu yang meningkat ke diferensiasi status dan kekuasaan yang mengarah ke legitimasi dan pengorganisasian yang menyebarkan bibit dari oposisi dan perubahan (pertukaran antarindividu dan kelompok dalam struktur sosial).

Tatanan sosial menurut teori pertukaran sosial sangat berkaitan dengan: siapa yang berhubungan secara tetap, siapa yang memperoleh ganjaran, siapa yang perlu ganjaran, bagaimana mereka melakukan interaksi, dan bagaimana membina derajat pertukaran dalam interaksi itu. Dalam suatu kelompok yang memiliki hirarki, urutan tatanan ditandai dengan kepatuhan pada siapa, siapa yang duduk di meja utama, dan indikasi-indikasi lainnya.  

Teori ini kiranya bisa dipakai untuk menganalisa fenomena keberadaan pelacuran, peredaran narkoba di perkotaan, dan politik uang sewaktu pemilihan umum atau pilkada. Meski begitu, teori ini dikritik karena cenderung psikologis dan ekonomis, yang dalam beberapa hal mengabaikan nilai esensial manusia dan struktur sosial.

 

Referensi

[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern. Jakarta, Prenada Media, 2004

[2] Kelley, H. H. & Thibaut, J. W. (1978). Interpersonal relations: A theory of interdependence. New York: Wiley.

 

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here