Pengantar Sosiologi Kesehatan

0
4604
Schmid-Reportagen / Pixabay

Sosiologi kesehatan merupakan cabang sosiologi yang relatif baru, dulunya dikenal sebagai sosiologi medis. Perbedaannya, kalau sosiologi kesehatan mempelajari kesehatan dan keadaan sakit berkaitan dengan institusi sosial seperti keluarga, pekerjaan, dan sekolah. Sosiologi medis terbatas pada hubungan pasien-praktisi dan peran pakar kesehatan dalam masyarakat.

Sosiologi kesehatan adalah studi tentang perawatan kesehatan sebagai suatu sistem yang telah terlembaga dalam masyarakat, kesehatan dan kondisi rasa sakit hubungannya dengan faktor-faktor sosial.

Termasuk dalam kajian bidang ini antara lain; deskripsi dan penjelasan teoritis yang berhubungan dengan distribusi penyakit dalam berbagai kelompok masyarakat, perilaku atau tindakan yang diambil oleh individu dalam upaya menjaga atau meningkatkan serta menanggulangi keluhan sakit, nilai-nilai budaya dan masyarakat kaitannya dengan kesehatan.

Sejarah kemunculan sosiologi kesehatan dimulai dari Rudolf Virchow (1847) mengidentifikasi faktor sosial dan ekonomi sebagai penyebab penyebaran typhus. Dilanjutkan Alfred Grotjan (1915) mendokumentasikan peran faktor sosial terhadap health dan illness. Tahun 1930 dan 1940 banyak sosiolog yang menekuni studi di bidang kesehatan. Pada tahun 1950 dan 1960 dinilai sebagai perkembangan sosiologi kesehatan secara formal.

Ada beberapa peristiwa yang menyebabkan meningkatnya keterkaitan antara sosiologi dan bidang medis atau kesehatan. Diantaranya berkaitan dengan : terjadinya perubahan, dari penyakit bersifat akut dan infeksi ke bersifat kronis. Perkembangan pengobatan bersifat preventif, setelah tahun 1900 fokus lebih pada upaya proteksi kesehatan publik.  Perkembangan bidang psikiatri, interaksi yang efektif antara pasien dan dokter. Pengorganisasian dan pengadministrasian kesehatan serta fasilitas kesehatan kian berkembang.

Adanya legitimasi eksternal, sekolah kedokteran kian banyak memasukan sosiolog dalam fakultas atau universitas, menyertakan sosiologi dalam kurikulum pendidikan kedokteran. Banyak kebijakan agen pemerintah dan yayasan khusus yang memperhatikan bidang sosiologi kesehatan. Pengakuan secara kelembagaan medical sociology, tahun 1959 secara formal sosiologi kesehatan diakui sebagai seksi di American Sociological Association (ASA).

Terdapat empat kategori topik besar dalam melakukan analisis di bidang sosiologi kesehatan: 1. Hubungan antara lingkungan sosial dengan kesehatan dan kondisi sakit. 2. Perilaku sehat dan sakit.3. Praktisi perawatan kesehatan dan hubungan antara praktisi kesehatan dengan pasien. Kepuasan, pendidikan, sosialisasi, praktek tenaga kesehatan. 4. Sistem Perawatan Kesehatan.

Metode dan teori sosiologi kesehatan meliputi; Survey Research, sangat membantu dalam studi tentang sikap dan nilai serta mendapatkan data pribadi tentang kesehatan dan respon terhadap illness. Experimental Research; melakukan pengujian materi-materi pendidikan kesehatan;  inovasi dalam pola pengajaran para medical student; mekanisme pembayaran yang baru.

Observational Research, untuk mengetahui masyarakat di lingkungan asli mereka. Memanfaatkan Data Statistik yang ada, mempelajari masalah kesehatan dan reaksi sosial terhadap problem kesehatan melalui pencatatan data statistik. Critical reflection, memberikan komentar kritis berkaitan dengan masalah kesehatan dan ketidakadilan dalam sistem pelayanan kesehatan dan melontarkan kritik guna perbaikan atau fungsionalisasi sistem. 

Setidaknya ada tiga pendekatan yang dipakai dalam sosiologi kesehatan, yaitu; 1. Fungsionalism Struktural; Masyarakat sebagai suatu sistem saling bergantung antara keluarga, ekonomi, dan kesehatan, bekerja secara bersama-sama. 2. Teori Konflik, mengindentifikasi potensi konflik antara tenaga medis dan si sakit dan masyarakat secara umum. 3. Interaksionism, menguatkan interaksi tenaga medis dengan si sakit dan masyarakat umum.

Sosiologi kesehatan bermanfaat untuk mempelajari cara orang mencari pertolongan medis. Memberikan pemahaman penduduk mengenai gejala penyakit serta tindakan yang dianggap tepat menurut tata nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Setidaknya melalui pemahaman sosiologi kesehatan yang baik, kendala birokratis dan ekonomis rakyat mengakses kesehatan bisa diperbaiki lebih apik. Rakyat dengan kesederhananya, praktisi kesehatan dengan profesionalnya, pemerintah sebagai jembatanya.***

 

Referensi

[1] Fauzi Muzaman; Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan; Jakarta : Unversitas Indonesia, 1995.

[2] Soekidjo Notoatmojo; Pendidikan dan Perilaku Kesehatan; Jakarta: Rineka Cipta; 2003.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here