Kuasa Elit Sosial Menurut C Wright Mills

0
7576
Pemikiran Wright Milss
tpsdave / Pixabay

 

Charles Wright Mills merupakan sosiolog yang digolongkan beraliran fungsionalisme konflik, berasal dari kelas menengah, ayahnya seorang pialang asuransi. Lahir di sebuah daerah di Waco, Texas 26 Agustus 1916. Ia menempuh pendidikan di Universitas Texas tahun 1939 dan mendapat ijazah sarjana dan masternya. Ia juga menempuh pendidikan di program doktoral dan mendapat gelar doktor dari  Universitas Wisconsin. Ia menghabiskan karirnya di Universitas Colombia hingga wafat di tahun 1962. Ia mengagumi Max Weber dan Karl Marx.

Mills termasuk penulis produktif yang mati muda. Tulisanya dalam beberapa topik; birokrasi, kekuasaan dan otoritas, elit sosial, pekerja kerah putih, rasionalisasi, komunisme, perang dingin, ideologi, ilmu-ilmu sosial dan sosiologi itu sendiri. Beberapa karya, antara lain The Power Elite (1956); The Causes of World War III (1958); The Sociological Imagination (1959). Mills meninggal waktu tidur karena serangan jantung, usia 45 tahun.

[Baca juga: Teori Pertukaran Sosial]

Mills bersama dengan Hans Gerht membawa gagasan-gagasan sosiologi Eropa, Max Weber dan Karl Marx, ke Amerika. Bersama Gerth, menghasilkan dua buku yaitu, from Max Weber: Essays in Sociology (1946), Character and Social Structure (1953). Mills dipengaruhi oleh Veblen, Pareto, John Dewey, dan George H. Mead.

Mills mempunyai kehidupan pribadi penuh gejolak, petualangan asmara, tiga kali perkawinan. Kehidupan profesionalnya penuh pertempuran. Bertikai dengan siapa saja dan dengan segala hal. Saat Mills masih mahasiswa di Wisconsin kerap berselisih dengan banyak profesornya. Mills terisolasi dan diasingkan oleh kolega-koleganya, meski ia profesor ternama di Columbia. Ia selalu bertentangan dengan orang, dengan masyarakat Amerika dan menantangnya dalam berbagai front.

[Baca Juga: Teori Sistem Sosial]

 

Dalam The Power Elite (1956) Mills menunjukan bagaimana kondisi masyarakat Amerika sebagai bangsa besar di dunia didominasi sekelompok elit yang berkuasa yang terdiri dari orang-orang yang menduduki posisi dominan dalam bidang politik, militer, dan ekonomi, mereka adalah pengusaha, penguasa dan petinggi militer. Tiga kelompok elit ini saling bekerjasama, mempertahankan dan menguatkan satu sama lain. Tak heran kalau seorang pejabat tinggi militer bisa menjadi kapitalis dan seorang kepala pemerintah dari sipil bisa menerapkan gaya pemerintahan seperti tentara.

Mills menjelaskan kekuasaan elit dengan bentuk pramida kekuasaan. Bagian paling puncak diduduki elit berkuasa yakni elit yang menguasai tiga sektor: pengusaha, penguasa dan militer. Kemudian lapis kedua adalah pemimpin opini lokal, cabang legislatif pemerintah, dan beragam kelompok berkepentingan. Kemudian lapis ketiga adalah orang tidak memiliki kekuasaan dan orang yang tidak terorganisasi baik secara ekonomi dan politik.

Ada dua faktor  yang memunculkan kekuasaan elit: pertama, alat kekuasaan dan kekerasan yang sudah melebur. Kedua, sifat yang saling tergantung antara elit yang dikontrol kaum elit yang diatas. Kesadaran kohesif elit sosial bisa bersatu karena tiga faktor: kesamaan psikologis, kesamaan kepentingan, interaksi sosial.

[Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Sosiologi]

Dominasi dan mengguritanya kelas elit di Amerika ini menurut Mills merupakan perkembangan ini cukup baru, pada era sebelumnya belum ditemukan. Ini bisa dilihat bagaimana beberapa keputusan penting di negara adi daya seringnya tidak menggambarkan apa yang menjadi kesadaran kolektif masyarakat, lebih mementingkan kepentingan elit sosial, seperti mengalihkan isu nasional menjadi isu internasional.

Salah bentuk dominasi kelas elit itu bagaimana mereka berusaha memperoleh dukungan politis rakyat demi kepentingan mobilitas vertikal mereka secara ekonomi dan politik, mereka memakai media massa sebagai alatnya. Media massa yang mempunyai posisi dan peran strategis dalam menyampaikan isu-isu nasional mereka kuasai sebagai alat bagi elit kekuasaan untuk meraih dukungan itu, yaitu melalui menghujani informasi dan berita yang sudah digoreng, proses komunikasi informasi satu arah bukan dialog, menggiring opini.

Kajian Mills tentang kuasa elit sosial itu dilakukan di Amerika dijaman perang dingin. Tentunya sedikit banyak ada perbedaan dengan bangsa kita dan konteks saat ini, meski barangkali tidak sedikit kesamaannya. Tergantung siapa dan kepentingan kita menilainya.***

Referensi:

George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here