Konsep Ideologi dalam Perpektif Louis Althusser

1
8925
Pemikiran Louis Althusser, idiologi
Ilustrasi: Pixabay.com

Louis Althusser adalah filsuf Perancis yang lahir di Birmendries, Aljazair, 16 Oktober 1918. Studi filsafat di École Normale Supérieure di Paris. Ia merupakan intelektual bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Semasa hidupnya lebih dikenal sebagai kritikus marxis berpengaruh dekade 1960-an dan 1970-an. Karyanya berjudul Pour Marx (For Marx, Untuk Marx) dan Lire le Capital (Reading Capital, Membaca Kapital) membuatnya terkenal di kalangan intelektual Perancis, terutama ketika sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Althusser menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan mengajar di Perancis. Pemikiranya dipengaruhi Karl Marx, Freud, Lacan, dan beberapa filsuf politik. Althusser wafat usia 72 tahun, 1990 dengan predikat filsuf diabad 20.

[Baca juga: Teori Pilihan Rasional]

 

Althusser punya dua tesis tentang ideologi. Tesis pertamanya mengatakan bahwa ideologi itu adalah representasi dari hubungan imajiner antara individu dengan kondisi eksistensi nyatanya. Apa yang direpresentasikan di situ bukan relasi riil, tapi relasi imajiner antara individu dengan suatu keadaan di mana mereka hidup didalamnya. Tesis kedua mengatakan bahwa representasi gagasan yang membentuk ideologi itu tidak hanya mempunyai eksistensi spiritual, tapi juga eksistensi material.

Althusser menyatakan bahwa sejarah ideologi ada sejak manusia lahir. Bentuk ideologi adalah harapan, cita-cita, ilusi, mimpi, atau muncul dari alam bawah sadar. Di sini Althusser memakai teori alam bawah sadar Freudian. Oleh karena itulah ideologi bersifat imajiner berkaitan dengan kondisi riil manusianya.

[Baca Juga: Pengantar Sosiologi Hukum]

Kemudian Althusser memakai pendekatan ideologi dari sisi sosial manusia. Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat hidup sendiri, berinteraksi, berkelompok. Disinilah ideologi memiliki eksistensi material.

Ideologi selalu bersifat menginterpelasi (memanggil) individu menjadi subjek (individu yang melakukan pekerjaan) kongkrit dalam kesehariannya. Individu karena pengaruh ideologinya, mewujudkan diri sebagai subjek kongkrit mengikuti apa yang diinginkan oleh ideologi. Dalam situasi demikian, semua individu atau subjek tenggelam pada ideologi.

Konsep ideologi Althusser menjadi terkenal dan menarik ketika dikaitkan dengan negara, relasi penguasa dengan yang dikuasai. Althusser menyebutkan dua mekanisme utama penguasa menguasai dan memungkinkan warga sebuah negara tunduk dengan aturan-aturan yang berlaku, yakni represif dan ideologis. Kedua dimensi ini erat dengan eksistensi negara sebagai alat menguasai.

[Baca Juga: Teori Konflik Sosial]

 

Althusser membedakan antara perangkat negara yang represif dengan sebutan RSA (repressive state apparatus) dan ISA (ideological state apparatus) sebagai perangkat yang ideologis. RSA mekanisme kerjanya memaksa, bentuknya seperti pengadilan, penjara ataupun militer. ISA mekanisme kerjanya halus, bentuknya seperti pendidikan, keluarga, media, ormas, parpol. Kedua perangkat ini mempunyai fungsi yang sama yaitu melanggengkan kekuasaan penguasa terhadap warga yang dikuasainya.

Althusser tidak berniat untuk membebaskan manusia dari ideologi. Baginya, setiap orang berperan menyebarkan ideologi dan menjadikan masyarakat ideologis. Ideologi-ideologi itu terbina lewat banyak hal seperti, mitos, agama, interaksi sosial. Ideologi merupakan semacam perekat bagi bersatunya anggota-anggota masyarakat. Inilah sisi positif dari ideologi, di samping itu ideologi juga merupakan reaksi terhadap suatu dominasi.

Pemikiran Althusser tak dapat dilepaskan dari konteks gerakan kiri Eropa pertengahan abad ke-20, paska perang dunia II, perang dingin dan konflik gerakan kiri internasional. Pandangannya berpengaruh dalam pemikiran kiri kontemporer dan filsafat postmodern. Foucault adalah salah satu filsuf besar yang disebut terpengaruh oleh pemikiran Althusser. Ide-idenya juga terus dikembangkan lewat jurnal Rethinking Marxism dan Décalages.

[Baca Juga: Sosiologi Industri]

Terlepas kritik yang menyebutkan Althusser terperangkap pada semangat idealisme modern yang sebenarnya justru ingin dilawan oleh Marxisme. Gagasanya tentang ideologi sebagai medan peperangan antar kelas menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.***

Referensi

George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here