Konsep Ketertinggalan Kebudayaan Menurut W.F. Ogburn

0
5069
Pemikiran William Fielding Ogburn
Ilustrasi: pixabay.com

 

William Fielding Ogburn lahir di Butler, Georgia, 29 Juni 1886. Ogburn memulai studinya bidang sosiologi. Ia seorang profesor sosiologi di Perguruan Tinggi di Portland, Oregon, selama 4 tahun. Tahun 1927, Ogburn dipanggil ke Chicago untuk mengajar pada sebuah Perguruan Tinggi. Ia terkenal dengan teori perubahan sosial dalam masyarakat yaitu Cultural Lag (ketertinggalan kebudayaan). Ogburn meninggal di Tallahassee, Florida 27 April 1959.

Menurut William F. Ogburn, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik bersifat materiil maupun immaterial. Kebudayaan material merupakan hasil karya, kerja dan karsa manusia, seperti traktor, listrik, mobil, komputer, hp. Sementara kebudayaan immaterial berwujud, norma, sangsi, adat-istiadat.

[Baca Juga: Ideologi Menurut Althusser]

Bagi Ogburn kebudayaan materiil adalah sumber utama kemajuan, penggerak perubahan sosial. Sementara aspek kebudayaan non-materiil harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan materiil yang memerlukan waktu tersendiri, dan jurang pemisah antara keduanya akan menjadi masalah sosial.

Kebudayaan material selalu berkaitan dengan penciptaan atau penemuan baru, Ogburn lebih khususnya menyebut teknologi sebagai satu variabel berubah lebih cepat daripada variabel lain. Bila laju perubahan material dan imaterial yang saling tergantung tidak sama, maka kita berhadapan dengan kondisi ketertinggalan kebudayaan, dan itu membutuhkan penyesuaian yang seringnya kemudian kurang memuaskan dengan tujuan yang dicapai mula-mula.

Ketika manusia atau kelompok masyarakat tidak mampu menyesuaikan diri pada perubahan itu memberikan konsekuensi kualitas hidupnya. Tanda-tanda ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial menjadi masalah sosial, ketegangan sosial, perampasan hak, kejahatan, pelacuran, dan berbagai masalah sosial lain.

[Baca Juga: Pengantar Sosiologi Kesehatan]

Bagi Ogburn perubahan teknologi akan lebih cepat dibanding dengan perubahan pada perubahan budaya, pemikiran, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma yang menjadi alat untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, perubahan seringkali menghasilkan kejutan sosial yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku baru, terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.

Kita bisa mencontohkan bagaimana teknologi memberikan pengaruh signifikan dalam masyarakat. Mulai dari perang dunia, penemuan bom atom, menjadikan ada negara yang menang dengan cepat, dan ada negara yang kalah telak. Contoh lain konsumsi listrik, BBM dan kendaran bermotor, yang menyebabkan kita kekurangan sumber daya alam, minyak tanah diganti gas, polusi udara, kebisingan dan kemacetan.

Kemudian penemuan radio, mengubah pola hidup masyarakat. Kita tentu ingat bagaimana ketika radio menjadi idola sampai tingkat pedesaan, radio dibawa hampir setiap orang, dalam kerjanya baik di kantor maupun di sawah, dalam kamar tidur sampai kamar mandi. Dan sekarang muncul hp yang selalu dibawa orang, dalam ruang paling privat maupun paling publik, komunikasi dan emosi terwadahi segengam hp. Dengan hp manusia merasa telah gaul dan maju, merasa menggenggam dunia. Hp seakan telah menjadi teman terdekat, mengganti pola komunikasi secara langsung menjadi via hp yang katanya lebih asyik.

[Baca Juga: Pemikiran Wright Millis]

 

William F. Ogburn menyatakan unsur utama perubahan sosial di masyarakat adalah teknologi. Menurutnya teknologi mengubah masyarakat melalui lima proses, yaitu:

  1. Penciptaan (Invensi), suatu kombinasi unsur dan bahan yang ada untuk membentuk unsur dan bahan yang baru, seperti komputer, kapitalisme, birokrasi. 2. Penemuan (Discovery), penemuan Amerika Utara oleh Columbus, yang membawa konsekuensi besar mengubah perjalanan sejarah manusia. 3. Difusi (Diffusion), penyebaran ide kewarganegaraan mengubah struktur politik di seluruh dunia. 4. Akumulasi, dihasilkan dari lebih banyaknya unsur baru yang ditambahkan kepada satu kebudayaan dibanding dengan unsur-unsur lama yang lenyap. 5. Penyesuaian, penemuan di bidang ekonomi akan mempengaruhi pemerintah terpaksa menyesuaikan diri terhadap situasi yang dihadapkan oleh perubahan ekonomi.***

 

Sumber tulisan;

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here