Festival Teater Jogja: Antara Hilang Kemaluan dan Hilang Rasa Malu

0
1967
Dalimin Kehilangan Kemaluan- Teater Suto - Festival Teater Jogja 2015
Teater Suto - Festival Teater Jogja 2015

DALAM tataran masyarakat yang sakit, sekelompok orang tanpa kemaluan, yaitu mereka yang “berujud buruk” ataupun ‘bertindak buruk’ sehingga memunculkan rasa malu (jika dinilai oleh pihak lain), boleh saja tertawa dan berkehendak sesuka hati. Sebaliknya, tertawa dan berkehendak sesuka hati itu ternyata tak mudah dijumpai pada satu individu yang tak memiliki kemaluan (alat kelamin), karena meskipun ‘merasa lemah’ kenyataannya ia masih tetap memiliki rasa malu.

Bagaimana Anda mengeja kalimat di atas dan lalu memahaminya? Apakah cukup sulit untuk dimengerti?

Jika cukup sulit, ternyata Teater Suto tidak. Karena dalam empiris tema mengenai kemaluan ia mengangkatnya ke dalam sebuah pertunjukan sebagai salah satu peserta Festival Teater Jogja 2015 yang dihelat pada Sabtu malam, 26 September 2015, berlokasi di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, “Dalimin Atawa Losing Control” merupakan sebuah pertunjukan satire selama kurang lebih 1,5 jam, dengan ide apik namun eksekusinya sedikit keteteran.

[Baca juga: Tangis – Teater Gandrik 2015: Menghadirkan Dalang Dalam Pementasan]

Kelamin Dalimin Hilang

Sepulang dari menonton pentas dangdut di lapangan desa, Dalimin kehilangan kemaluannya! Ia tak sadar dan mengira-ngira tentang waktu jatuh atau hilangnya kelamin itu. Dengan tak dapat dijelaskan menggunakan logika dan nalar, alat kelamin Dalimin lenyap begitu saja.

Sugiah, istri Dalimin, meminta suaminya mencari kemaluannya yang hilang sampai ketemu. Sampai ketemu, ya, karena ia tak ingin keluarganya menanggung rasa malu hanya karena kelamin Dalimin yang tiba-tiba saja tak lagi berada di tempat semula.

Pencarian kelamin dimulai Dalimin dari lapangan tempat ia berjoget berdesak-desakan dengan para penikmat pentas dangdut lainnya. Tak kunjung ketemu, ia malah berhalusinasi mengenai hal yang tidak-tidak. Kemudian ia melanjutkan pencarian ke stasiun. Kepada banyak orang yang berlalu lalang, Dalimin menanyakan ikhwal keberadaan kemaluannya. Hasilnya Nihil!

Dalimin tak patah arang. Ia mendatangi kantor kelurahan dan mencurahkan keluhannya atas hilangnyak kelamin itu, dengan harapan akan segera menemukannya.  Bukan bantuan dan jalan keluar yang ia dapatkan, tapi cercaan dan hinaan dari lurah dan juga orang-orang di sekitarnya.

Ketika hansip hendak memeriksa kemaluan Dalimin (atas perintah Pak Lurah), laki-laki itu menolak dengan alasan malu. Pak Lurah pun tidak mengerti sikap Dalimin; bagaimana bisa seorang tanpa kelamin seperti Dalimin masih memiliki rasa dan sikap malu..?

“Saya memang kehilangan kemaluan, namun bukan berarti rasa malu saya juga turut hilang, Pak!” jawab Dalimin.

Hingga kemudian Dalimin mencari kemaluannya yang hilang sampai pada tataran aparat negara. Sekali lagi, bukan bantuan yang ia dapatkan, melainkan hanya hinaan dan cercaan tanpa sedikit pun rasa kemanusiaan dihadirkan. Pada akhirnya, Dalimin yang nelangsa  memanjat Tugu Pal Putih dan selanjutnya terjatuh hingga mati.

[Baca juga: Butet Kertaredjasa: Monolog Sebagai Bentuk Kemandirian Pelaku Seni Peran]

Malu – Kemaluan

Menurut KBBI, kemaluan memiliki dua arti, yakni (1) perihal yang menyebabkan rasa malu dan (2) alat kelamin laki-laki atau perempuan. Sementara, kata malu sendiri memiliki arti tidak enak hati karena perasan hina atau rendah karena telah melakukan tindakan yang kurang baik atau kurang benar.

Bermain-main dengan kata ‘malu’ inilah Java Al Fatih menulis cerita pertunjukan teater “Dalimin Atawa Losing Control”. Mengangkat tema tentang “kemaluan” ini menjadi satu ide yang apik, terlebih bila melihat kondisi masyarakat sekarang. Kebanyakan orang-orangnya bertindak dan berbicara se-mau gue, seenaknya sendiri tanpa sedikit pun menimbang perasaan orang lain.

Orang-orang yang bersikap dan bertingkah seenaknya sendiri (atau losing control) ini tak sadar bahwa mereka telah kehilangan ‘kemaluan.’  Padahal ketidaksadaran bahwa mereka sedang bertingkah memalukan ini merupakan perihal buruk. Sangat buruk. Hanya saja, ketika dilakukan oleh banyak orang, sikap tak tahu malu ini seolah-olah benar dan sah-sah saja untuk dilakukan dan dibiarkan terus berlangsung.

Sementara, orang yang masih mempertahankan rasa malu meski telah kehilangan kemaluannya (dalam konteks ini diksi ‘kemaluan’ tentu berarti kelamin), seolah-olah merupakan pihak yang salah dan kalah. Terlebih bila dihadapkan pada ‘jamaah’ tak tahu malu. Kelompok masyarakat sakit yang tak punya malu ini sudah dapat ditemui mulai dari tataran rendah (yakni orang-orang kelurahan dalam pertunjukan) hingga tataran tinggi aparatur negara.

Selain perihal malu sebagai perilaku, pertunjukan teater “Dalimin” ini juga sempat menyinggung mengenai rasa malu dalam diksi atau pilihan kata. Malu di sini lebih menjurus ke arah saru atau vulgar. Kesepakatan semena-mena yang telah tercipta dalam masyarakat, secara sepihak (karena, toh, tetap ada sekelompok masyarakat yang tidak setuju, bukan?) melarang penyebutan kosa kata kemaluan secara lantang.      Bahwa nama alat kelamin (dalam pertunjukan ini tentu saja alat kelamin pria—kelamin milik Dalimin) tak boleh disebutkan lengkap, apa adanya, dan dengan lantang—bahkan dalam percakapan pribadi dengan Tuhan.

Dalimin berseru nestapa, “Tuhan, di manakah aku harus mencari kont—“

Sekelompok masyarakat dari balik tirai/panggung sontak keluar sembari berteriak tak kalah seru; melarang Dalimin mengucapkan nama alat kelamin miliknya. Adegan tersebut berulang sampai beberapa kali. “Tidak boleh bilang kont— Tidak boleh menyebut itu!”

“Lalu, bolehnya bilang kont – titik – titik – titik?”

“Ya! Kont – titik – titik – titik!”

Dalimin mengeluh, “Bagaimana aku bisa meminta bantuan Tuhan, sementara menyebut nama alat kelaminku sendiri saja tidak bisa.”

Ide Berani, Keteteran Eksekusi

Alih-alih hendak menarik perhatian para penonton (dan mungkin juga tim juri) Festival Teater Jogja 2015, kelompok Teater Suto menampilkan beberapa adegan yang sejatinya bisa dibilang “muspra” karena kurang pas. Pasalnya banyak adegan dibangun dengan potensi nggeladrah atau bertele-tele. Mise-en-scene dan dialog muspra yang apabila dihilangkan dalam pertunjukan pun toh sebenarnya juga tak akan memberi pengaruh besar dalam jalannya cerita.

Sebuah cerita (baik dalam buku maupun sebuah pertunjukan teater) akan bergulir ketika tokoh-tokoh di dalamnya memiliki motivasi. Tujuan atau kehendak tersebut di dalam sebuah pertunjukan teater tentu harus bisa ditampakkan oleh para aktor yang bermain. Namun, sayangnya malam itu motivasi peran tokoh-tokoh yang tampil di panggung minim sekali. Kebanyakan dialog keluar hanya sebagai hapalan, (dipaksa) mengejar kelucuan, tanpa ada alasan kuat mengapa seorang tokoh mengucapkan dialognya.

Namun, tentu saja sebagai salah satu peserta dan penampil dalam Festival Teater Jogja 2015 yang tahun ini masuk tahun ketujuh, Teater Suto patut diapreasi atas idenya yang berani dan memikat langsung pada kesan pertama. Tak sia-sia, di akhir festival kelompok teater ini menyabet beberapa penghargaan sekaligus, yaitu sebagai kelompok teater penyaji terbaik nomor tiga, aktor terbaik dalam peran pak Lurah oleh Iman, aktris terbaik dalam peran Sugiah – istri Dalimin oleh Sekar, dan Java al Fatih sebagai penulis naskah terbaik.

Sumber Rujukan:
[1] Dilaporkan oleh Puspitadesi  usai acara; Festival Teater Jogja 2015 – Taman Budaya Yogyakarta, 26 September 2015
[2] Gambar ilustrasi; pic.ikanmasteri.com, diakses pada 29 Agustus 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here