Mengenal Stratifikasi Sosial

0
1628
teori stratifikasi sosial
Ilustrasi; Pixabay.com

 

Stratifikasi sosial berasal dari kata bahasa latin strata (jamak) yang berarti lapisan. Stratifikasi sosial diartikan sebagai pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Setiap masyarakat senantiasa mempunyai sesuatu bernilai apakah itu kekayaan, kekuasaan atau kehormatan, yang itu dijadikan tolak ukur stratifikasi sosial. Sejak dulu stratifikasi sosial telah ada.

Beberapa ahli sosial mendefinisikan stratifikasi sosial, sebagai berikut;

Pitirim A. Sorokin; Barangsiapa memiliki sesuatu berharga dalam jumlah banyak, dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atasan. Max Weber; Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.

Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan elite dan golongan non elite. Itu terjadi karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.

Terdapat perbedaan stratifikasi sosial dengan kelas sosial. Stratifikasi sosial lebih merujuk pada pengelompokan orang kedalam tingkatan dalam hirarki secara vertikal, mengkaji posisi orang atau kelompok dalam keadaan yang tidak sederajat. Sementara kelas sosial ruang lingkupnya lebih sempit, lebih merujuk pada satu lapisan tertentu dalam sebuah stratifikasi sosial, berkaitan orientasi politik, nilai budaya, sikap dan prilaku sosial yang secara umum sama.

Ada tiga pendekatan dalam mempelajari stratifikasi sosial: Metode obyektif, penilaian obyektif terhadap orang lain dengan melihat dari sisi pendapatannya, lama atau tingginya pendidikan dan jenis pekerjaan. Metode subyektif, strata sosial dapat dirumuskan menurut pandangan anggota masyarakat yang menilai dirinya dalam hirarki kedudukan dalam masyarakat. Metode reputasi, golongan sosial dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu.

Bentuk stratifikasi sosial terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu stratifikasi tertutup, terbuka dan campuran. Stratifikasi tertutup yaitu seseorang ketika sudah tergolong menjadi kelas tinggi, dia tidak akan menjadi kelas bawah dan sebaliknya. Stratifikasi terbuka yaitu seseorang yang berada dikelas bawah bisa naik ke kelas atas dengan daya usahanya. Sedangkan stratifikasi campuran yaitu seseorang awalnya dihormati karena terdapat didalam kelas atas, namun tiba-tiba berbalik arah karena harus menyesuaikan tempat ia tinggal.

Terjadinya stratifikasi sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. Tetapi ada pula bentukan, rekayasa, yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama, maupun kepentingan golongan.

Stratifikasi sosial dapat terjadi karena pengaruh berbagai kriteria, antara lain ekonomi, politik, sosial. Stratifikasi ekonomi, dapat dilihat dari segi pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan, orang kaya akan menduduki lapisan atas. Stratifikasi sosial, berhubungan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat, berkaitan dengan kasta, pendidikan, dan jenis pekerjaan. Stratifikasi politik, indikator pembeda dalam masyarakat berdasarkan dimensi politik adalah kekuasaan, yang memiliki kekuasaan terbesar akan menduduki lapisan sosial atas.

Ukuran atau kriteria yang bisa dipakai untuk menggolong-golongkan dalam stratifikasi sosial adalah sebagai berikut:

Ukuran Kekayaan. Siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya, rumah, mobil pribadinya, pakaian. Ukuran Kekuasaan. Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan atasan.

Ukuran Kehormatan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini, banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional. Ukuran Ilmu Pengetahuan. Orang yag berpendidikan lebih tinggi biasanya lebih dihargai dan dihormati.

Unsur-unsur yang menjadikan sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat dalam kacamata sosiologi, ada dua, yaitu kedudukan (status, posisi) dan peranan. Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan. Keduanya tak dapat dipisah-pisahkan, karena tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan.***

Referensi

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here