Hegemoni Sosial Menurut Gramsci

0
2428
teori hegemoni sosial
Ilustrasi: Pixabay.com

Antonio Gramsci seorang Marxis, lahir di Ales, Sardinia, Italia, 22 Januari 1891. Gramsci lahir dari keluarga kelas bawah. Gramsci memasuki perguruan tinggi setelah memenangkan perolehan beasiswa di Universitas Turin, tahun 1911. Sejak mahasiswa minatnya dalam bidang politik dan aktivis gerakan sosial mulai tumbuh. Ia menjalani kehidupan seorang aktivis, bekerja pada koran sosialis, di kota itu. Ia terkesan pada gerakan kaum buruh di kota Turin, kemudian mendorongnya berpolitik.

Semula Pemikiran Gramsci dipengaruhi oleh filosof Italia Benedetto Croce. Dari Croce, Gramsci belajar menghargai ilmu sejarah dan membuatnya memahami keterbatasan positivisme. Namun kemudian Gramsci mengkritik Croce sebagai teoritis demokrat-liberal yang tidak berani menarik konsekuensi untuk praxis revolusioner. Dari sinilah ia menjadi Marxis.

Tahun 1922, Gramsci ke Rusia selain belajar juga memperjuangkan penerapan watak demokratis paham sosialisme. Tahun 1924, kembali ke Italia dan melakukan berbagai usaha menciptakan perubahan dan transformasi partai komunis, mengembangkan partai komunis berakar pada gerakan massa.

Tahun 1928, Gramsci dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh pemerintah fasis, Mussolini. Di penjara itulah Gramsci menuliskan pemikirannya, tentang peran intelektual, hegemoni, hingga masyarakat sipil, yang kemudian dikenal dengan The Prison Notebooks. Gramsci tidak menyelesaikan masa hukumannya selama 20 tahun, sebab, 27 April 1937 ia meninggal dunia di dalam kamar penjaranya di Turin pada umur 46 tahun.

Gramsci hidup pada masa kehancuran revolusi sosial di Eropa Barat dan menyaksikan organisaasi buruh, gerakan sosialis dihancurkan oleh fasisme pada 1922-1937. Ia menyaksikan rakyat petani di tengah menghadapi krisis, lebih memilih fasisme bukan sosialisme. Keprihatinanya sebagai aktifis sosial tercurahkan dalam tulisanya tentang konsep hegemoni.

Istilah Hegemoni berasal dari bahasa Yunani, Hegeishtai, artinya memimpin, kepemimpinan, penguasaan atau kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Gramsci memakai dan mengartikan Hegemoni sebagai; Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Konsep hegemoni Gramsci tak bisa dilepaskan dari bahwa dirinya aktifis dan Marxis. Sebagai aktifis dan Marxis, Gramsci melakukan perjuangan melawan kekuasaan yang feodalis, kapitalis dan fasis. Gramsci mengolah bacaanya pada karya Marx, mengkritisi keberhasilan revolusi Rusia dan memahami pengalamanya sendiri atas kegagalan revolusi di Itali, di mana rakyat ternyata lebih memilih fasis ketimbang sosialis.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah. Gramsci menunjukan bagaimana teknik penguasa dalam mengekekalkan kekuasaanya tidak hanya lewat kekerasan, politik dan ekonomi, melainkan juga moral, budaya dan intelektual, melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.

Kelas berkuasa tersebut menjaga hegemoninya dilakukan dengan menciptakan suatu konsensus kultural dan politik, melalui serikat pekerja, partai politik, sekolah, media, tempat ibadah dan berbagai organisasi. Sehingga pada akhirnya kelas yang terhegemoni akan mengikuti cara pandang yang dilakukan oleh kelas berkuasa sebagai sesuatu yang biasa.

Praktik hegemoni dilakukan secara terus-menerus terhadap kekuatan oposisi agar mau memilih sikap konformistik, sehingga menimbulkan disiplin diri untuk menyesuaikan dengan yang diputuskan oleh Negara dengan keyakinan bahwa apa yang telah diputuskan Negara tersebut merupakan cara terbaik untuk bertahan dan meraih kesejahteraan.

Setelah tahu hegemoni penguasa, Gramsci mengajak kita untuk melakukan perlawanan dengan counter hegemoni, yang ini menjadi tugas intelektual organik melakukan pendidikan dan menyebarkan kesadaran perjuangan. Dari sinilah muncul istilah perang posisi (perjuangan panjang, membangun aliansi dan melakukan penetrasi) dan perang gerakan (perang frontal, ketika dukungan massa sudah terpenuhi).***

Referensi

George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here