Pemikiran, Biografi dan Kritik Thorstein Veblen Terhadap Perilaku Orang Kaya

0
4563
Pemikiran dan Biografi thorstein bunde veblen
Ilustrasi: Pixabay.com

Thorstein Veblen seorang sosiolog sekaligus ekonom Amerika bernama asli Thorsten Bunde Veblen. Dilahirkan sebagai anak petani Cato, Wisconsin, Norwegia ini lahir 30 Juli 1857. Orang tuanya berimigrasi dari Norwegia ke Amerika, Veblen menghabiskan masa mudanya di peternakan keluarganya. Ia meninggal 3 Agustus 1929.

Ia mempelajari banyak ilmu; sosiologi, politik, falsafah, sejarah, antropologi dan ekonomi. Pendidikan awal ditempuh bidang filsafat di John Hopkins University dan Yale University. Kemudian ia memperdalam ekonomi di Cornel University. Sebagai orang brilian, uniknya jabatanya sebatas dosen dan pembantu profesor.

Beberapa buku yang ditulisnya antara lain; The Theory of Leisure Class (1899), The Theory of Business Enterprise (1904); Absentee Ownership and Business Enterprise in Recent Times The Case of America (1923).

Sebagai ekonom bermazhab institusionalis ia kritis terhadap pemikiran ekonomi mazhab Klasik dan Neo-Klasik. Namanya terkenal berkat karya pertamanya berjudul The Theory of Leisure Class. Veblen menggabungkan sosiologi dengan ilmu ekonomi dalam karya tersebut. Veblen menyatakan perilaku individu dan masyarakat tidak hanya disebabkan oleh motivasi ekonomi tetapi juga motivasi sosial dan psikologi, pengkajian ilmu ekonomi perlu berbagai aspek ilmu sosial.

[Baca juga: Tes Psikologi: Pengertian, Macam dan Pemanfaatannya]

The Theory of The Leisure Class, ini sebuah karya sindiran atas perilaku kelas atas yang konsumtif, boros, dan suka pamer. Menurut Veblen, dulu perilaku orang terkait dengan masyarakat sekitarnya, peduli dan simpati. Namun sekarang, dalam masyarakat kapitalis di Amerika, orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Dengan harta melimpah orang berlomba-lomba membeli barang-barang yang digunakan untuk pamer, membuat orang kagum. Kecenderungan perilaku konsumsi seperti ini disebut Veblen dengan istilah conspicuous consumption, pamer, melagak.

Dalam bukunya yang lain; The Theory of Business Enterprise, Veblen menjelaskan kemiripan perilaku pengusaha Amerika dengan perilaku konsumsi yang diceritakan sebelumnya. Dulu para pengusaha menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan melalui kerja keras, produksi bernilai guna, production for use. Tetapi masa sekarang laba dan keuntungan tidak lagi diperoleh melalui kerja keras dengan menciptakan barang-barang yang disukai konsumen, tetapi lewat trik-trik bisnis, asal untung banyak dan kaya sendiri.

Para pengusaha yang memiliki modal besar dan menguasai sejumlah perusahaan (absentee ownership), tetapi tidak ikut terjun langsung dalam operasional perusahaan, tapi ia memperoleh keuntungan paling besar. Pengusaha predator yang tidak memperdulikan karyawan, konsumen, masyarakat lingkungan sekitarnya.

Para pengusaha yang hanya mementingkan laba biasanya melakukan berbagai cara, berkongkalingkong dengan kelompok pengusaha lain yang menguntungkan, dengan pejabat kehakiman untuk tidak mempersoalkan monopolinya, manipulasi pajak dan keuangan, maupun dengan militer demi mengamankan bisnis monopolinya. Pengusaha ini tidak segan-segan mematikan pengusaha sungguhan. Caranya mulai dari mengakuisasi, membanting harga, mengurangi pasokan barang-barang.

Veblem mengecam perilaku pengusaha kotor dan perilaku orang kaya yang suka pamer. Mereka berproduksi dan berkonsumsi bukan menilai asas manfaatnya, melainkan untuk pamer, membuat orang lain iri, kagum dan hanya mementingkan diri sendiri.

Pandangan Veblen awalnya sukar dipahami oleh ahli-ahli ekonomi. Namun kemudian pandangannya mendorong berkembangnya aliran ekonomi institusionalis di Amerika Serikat, yang dilanjutkan murid-muridnya. Pandangan ekonomi Veblen hampir sama anehnya dengan gaya hidupnya (kawin cerai, suka murung, pernah berselingkuh). Kebanyakan ahli ekonomi mempelajari perilaku manusia dari menara gading mereka, Veblen mempelajari perilaku manusia dalam konteks antropologi dan ilmu-ilmu sosial.

[Baca juga: Jejak Pemikiran Sosial Saint Simon]

Barangkali Veblen terlalu nyinyir dalam mengkritik kelas kapitalis dan orang kaya sehingga ia mengabaikan manfaat penciptaan kekayaan, ekspansi modal, teknologi baru, pendirian pendidikan tinggi dan sumbangan sukarela dari masyarakat bisnis. Terlepas masa kecilnya begitu pahit yang mungkin mendorong sikapnya tersebut, kritiknya tetap relevan sebagai pengingat bahwa hidup bersama harus dikelola dengan baik, penuh tenggang rasa.***

Sumber Rujukan:
[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004

[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diases pada 4 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here