Tahukah Anda, Menurut Michael Mann Demokrasi pun Memiliki Sisi Gelap?

0
2110
Sisi Gelap Demokrasi Menurut Michael Mann
Sisi Gelap Demokrasi Menurut Michael Mann

MICHAEL MANN merupakan sosiolog kelahiran Inggris tahun 1942 yang memiliki dua kewarganegaraan; Amerika dan Inggris. Gelar sarjana bidang sejarah diperoleh di universitas Oxford 1963, dan gelar doktornya di bidang sosiologi di universitas sama 1971. Karyanya merupakan pertemuan sejarah dengan sosiologi. Dari tahun 1977 sampai 1987 ia bekerja di LSE, London School of Economics, kemudian menjadi profesor di Universitas California, Los Angels, UCLA. Karyanya antara lain; The Social Cohesion of Liberal Democracy, 1970, The Sources of Social Power, 1986, The Dark Side of Democracy, Explaining Ethnic Cleansing, 2005.

Yang dikaji Michael Mann dalam sejarah kekuasaan, pertumbuhan negara modern, bukan sekedar ekonomi, perspektif domestik, tapi juga berkaitan dengan geopolitik kekerasan. Hal tersebut sebagaimana dinyatakannya bahwa masyarakat terdiri atas berbagai jaringan kekuasaan sosiospasial (ruang sosial) yang tumpang tindih dan saling berpotongan satu sama lain. Mann membedakan empat sumber kekuasan; ideologi, ekonomi, militer dan politik. Mann lebih perhatian pada ideologi.

Kajian Demokrasi dari Negara Demokratis

Sosiolog kelahiran Inggris ini mengkaji teori dan praktek demokrasi yang dilakukan oleh negara-negara yang mengaku demokrasi. Semua itu tertuang dalam karyanya berjudul, The Dark Side of Democracy, Explaining Ethnic Cleansing. Michael Mann menunjukan bagaimana praktek demokrasi semenjak perang dunia I dan II tidaklah mencerminkan nilai-nilai HAM (Hak Asasi Manusia), keadilan, melainkan terjadi pelanggaran HAM, pembantaian, aneksasi.

  • Mengaku Demokrasi Namun Membantai Etnis!

Michael Mann mencontohkan bagaimana semenjak perang dunia I negara-negara Eropa yang mengklaim dirinya negara demokratis itu ternyata berjalan dengan adanya pembantaian etnis. Hal itu berlanjut ketika mereka melakukan aneksasi ke wilayah Afrika, Asia, dengan atas nama pemberadaban, atas nama demokratisasi dunia, juga menularkan virusnya, dimana negara-negara baru merdeka dan mengklaim demokratis itu melakukan pelanggaran berat HAM, pembantaian etnis mayoritas terhadap etnis minoritas.

  • Demokrasi pun Memiliki Sisi Gelap

Sebagai kajian sosiologis, sosiologi politik, kajian Michael Mann tentang praktek demokrasi yang dijalankan negara-negara yang mengaku demokrasi, menggunakan pendekatan historis dari pasca perang dunia I sampai pasca perang dunia II, pendekatan komparatif dari negara maju ke negara berkembang. Dari kajianya itu Michael Mann menemukan bahwa demokrasi yang dianggap sebagai sistem pemerintahan paling adil, paling maju dan paling modern ternyata mempunyai bahaya, mempunyai sisi gelap.

Bahaya dan sisi gelap itu mulai dari pembantaian, pembunuhan dan pembersihan etnis. Negara dengan multi etniknya ternyata etnis mayoritas menindas luar biasa kepada etnis minoritas. Aturan demokrasi, aturan kerakyatan (demos) dan etnisitas (etnhos) direkayasa untuk etnis mayoritas menindas etnis minoritas.

Demokrasi adalah Kebersamaan

Dalam sebuah masyarakat tentu ada beragam perbedaan, mulai dari ekonomi, budaya, agama, apalagi sebuah negara, keragaman tentu lebih banyak lagi. Demokrasi adalah sebuah paham yang menekankan pada aspek kebersamaan, kerakyatan, sebuah pemerintahan untuk kepentingan keadilan, kebersamaan.

  • Negara sebagai Fasilitator Bukan Penindas!

Berkaitan dengan sistem demokrasi ini negara tentu seharusnya tampil sebagai fasilitator, menengahi, mendamaikan, berbagai kepentingan dan perbedaan tersebut untuk bisa rukun, hidup bersama, adil dan sejahtera. Namun nyatanya negara mengaku demokratis tersebut lebih memilih demokrasinya kepentingan dan etnis mayoritas, dan menindas dan membasmi kepentingan dan etnis minoritas.

Michael Mann mencontohkan pembersihan etnis di Eropa Barat, seperti, Scots, Welsh, Briton pada awal abad 19 dan awal abad ke 20. Hal itu terjadi pula pada negara mengaku demokratis lain seperti Inggris, Perancis, juga mengalami pembersihan etnis yang masif. Begitu halnya di negara yang disebut negara demokratis paling besar, Amerika Serikat, melakukan pembersihan etnis Indian dan etnis Negro.

  • Menempuh Jalan Demokrasi namun Bertindak Tiranik!

Semula etnik mayoritas berkuasa dengan jalan demokratis. Namun ketika berkuasa mereka bertindak tiranik dan despostik kepada etnis minoritas. Pembersihan etnis minoritas itu dengan beragam alasan, mulai dari pembangunan, pemberadaban, stabilisasi, nasionalisme maupun demokrasi.

Modernisasi dan demokrasi menghasilkan, kedaulatan rakyat dan penghargaan terhadap HAM. Realitanya negara demokrasi mengabaikan perbedaan etnik dan kepentingan minoritas atas nama kemajuan dan stabilitas negara demokrasi, perbedaan dianggap sebagai ancaman. Ini akhirnya berujung pada peperangan, pembentukan negara berdasarkan etnis homogen dan mayoritas. Ini yang terjadi sekarang di berbagai belahan negara dunia, ini realitas demokrasi sekarang, ini yang menjadi kelemahan dan sisi gelap dari demokrasi.***

Sumber Rujukan:
[1] Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2001
[2] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004
[3] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 5 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here