Inilah Teori Neofungsionalisme

0
4598
Inilah Teori Neofungsionalisme
Inilah Teori Neofungsionalisme

Struktural-fungsionalisme mengalami kemerosotan semenjak tahun 1960-an hingga 1980-an. Namun, pada tahun 1980-an ada upaya besar untuk menghidupkan kembali teori itu dengan judul baru neo-fungsionalisme. Istilah tersebut tidak hanya mencerminkan keinginan untuk memelihara kelangsungan paradigma struktural-fungsionalisme yang banyak menuai kritik itu, tapi juga upaya untuk menemukan jalan keluar dari kelemahan yang menjadi sasaran kritik tersebut. Jeffrey C. Alexander merupakan seorang tokoh neo-fungsionalisme.

Apa itu Neofungsionalisme?

Neofungsionalisme merupakan istilah yang digunakan untuk menandai kelangsungan hidup dan sekaligus untuk memperluas teori fungsionalisme struktural. Jeffrey Alexander dan Paul Colomy mendefinisikan neofungsionalisme sebagai rangkaian kritik-diri teori fungsional yang mencoba memperluas cakupan intelektual fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya.

Neofungsionalisme merupakan rekonstruksi dari teori fungsionalisme struktural. Alexander dan Colomy menawarkan teori yang lebih terbatas dan sintesis namun tetap holistik, berbeda dengan teori fungsional struktural dari Parson yang melihat fungsional struktural sebagai teori yang besar.

[Baca juga: Mengenali Teori Perubahan Sosial]

Kelemahan Pendekatan Parsons

Alexander mengidentifikasi beberapa kelemahan pendekatan Parsons yang diasosiasikan dengan struktural fungsionalisme, yang perlu diatasi oleh neo-fungsionalisme. Kelemahan-kelemahan tersebut ; (a) anti-individu (b) antagonisme terhadap perubahan (c) konservatisme (d) idealisme dan (e) anti-empiris. Mengidentifikasi lima kelemahan tersebut, Alexander berupaya memformulasikan solusi ke dalam teorinya, yakni: (a) memasukkan faktor individu (b) memerhatikan perubahan sebagai isu penting (c) mengembangkan pemikiran nonkonsevatif (d) memerhatikan aspek praktis dan (e) kajian empiris sangat penting.

Teori ini juga dipengaruhi oleh arus pemikiran intelektual saat itu. Pemikiran filsafat yang mempengaruhi teori Jeffrey C. Alexander adalah perdebatan klasik antara empirisme dan rasionalisme dalam bentuk materialisme dan idealisme. Beberapa pemikir sosial seperti Durkheim dan Marx juga sangat mewarnai pemikiran Jeffrey C. Alexander.

Teori ini juga dipengaruh oleh biografi pencetusnya Jeffrey C. Alexander. Seorang warga negara Amerika Serikat, lulusan Harvard dan Barkeley University California, dia dikenal sebagai new left marxisme. Teori dan orientasi politiknya beralih sekitar tahun 1970 menuju fungsionalisme dan pluralisme. Ia merupakan profesor sosiologi di Universitas California, Los Angeles, pendiri neofungsionalisme dan salah seorang ahli teori kontemporer.

Uraian Dasar Neofungsionalisme

Alexander menguraikan beberapa orientasi dasar neofungsionalisme:

  • Neofungsionalisme bekerja dengan model masyarakat deskriptif.
  • Neofungsionalisme memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan dan keteraturan.
  • Neofungsionalisme tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai kemungkinan sosial.
  • Neofungsionalisme tetap menerima penekanan Parsionsian tradisional atas kepribadian, kultur, dan sistem sosial.
  • Neofungsionalisme memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi di dalam sistem sosial.
  • Neofungsionalisme secara tak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam mengonseptualisasikan dan menyusun teori berdasarkan analisis sosiologi pada tingkat lain.

Riset fungsional awal dipandu oleh skema konseptual tunggal yang serba meliputi yang mengikat area-area riset khusus ke dalam satu paket ketat. Sebaliknya, karya empiris neofungsionalis diorganisasikan secara longgar, yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah cabang dan variasi agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang berbeda-beda.

Bias Kekuasaan

Akan tetapi, masa depan neofungsionalisme diragukan karena fakta bahwa pendiri dan eksponen utamanya, Jeffrey Alexander, menjelaskan bahwa dia telah keluar dari orientasi neofungsionalisme. Pergeseran pemikiran ini tampak dalam judul dari bukunya yang akan segera terbit, Neofunctionalisme and After (1998). Alexander dalam karya itu dia ingin melampaui fungsionalisme Parsons, melampaui neofungsionalisme.

Teori neofungsionalisme cenderung bias kekuasaan, nilai dan kepentingan. Fokus perhatian pada perubahan sosial dalam bentuk proses yang bertentangan dengan masyarakat, budaya, dan sistem kepribadian. Turner dan Maryanski (1988) menentang neofungsionalisme dengan mengatakan bahwa orientasinya tak sepenuhnya fungsional, karena dia mengabaikan berbagai prinsip dasar fungsionalisme struktural.***

Sumber Rujukan;
[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004
[2] I.B, Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma, Jakarta, Prenada Media, 2012
[3] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 5 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here