Apa itu Teori Interaksi Simbolik?

0
12368
Teori Interaksi Simbolik
Inilah Teori Interaksi Simbolik

TOKOH teori interaksi simbolik antara lain : George Herbert Mead, Herbert Blumer, Wiliam James, Charles Horton Cooley, John Dewey, William I. Thomas, dan George Herbert Mead. Akan tetapi kebanyakan menganggap G.H. Mead merupakan perintis dasar teori tersebut.
Hasil kuliah G.H. Mead sebagai profesor filsafat di Universitas Chicago tahun 1920-an dan 1930-an mengenai interaksionisme simbolik oleh mahasiswanya diterbitkan setelah dia meninggal, Mind, Self, and Society, 1934. Terutama muridnya Herbert Blumer yang menciptakan istilah interaksi simbolik tahun 1937 dan mempopulerkannya di kalangan akademis.

Definisi & Pengertian

Selama awal perkembangannya, teori interaksi simbolik tersembunyi di belakang dominasi teori fenomenologisme dan Fungsionalisme Talcott Parsons. Kemunduran fungsionalisme tahun 1950-an dan 1960-an mengakibatkan interaksionisme simbolik muncul kembali dan berkembang hingga kini. Selama tahun 1960-an tokoh-tokoh interaksionisme simbolik seperti Howard S. Becker dan Erving Goffman menghasilkan kajian-kajian interpretif menarik.

  • Berhubungan Simbol dan Interaksi

Teori interaksi simbolik adalah hubungan antara simbol dan interaksi. Menurut G.H. Mead, orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu. Sedangkan simbol adalah representasi dari sebuah fenomena, dimana simbol sebelumnya sudah disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan digunakan untuk mencapai sebuah kesamaan makna bersama. Simbol dibedakan menjadi dua, yakni: Simbol verbal, penggunaan kata-kata atau bahasa, seperti rumah sebagai tempat tinggal keluarga. Simbol nonverbal lebih menekankan pada bahasa tubuh atau bahasa isyarat, seperti: lambaian tangan, anggukan kepala.

[Baca juga: Fungsi Kokok Ayam Sebagai Penanda Waktu dan Bahasa Komunikasi]

  • Tiga Konsep

Karya G.H. Mead menawarkan tiga konsep yang dibutuhkan dalam menyusun sebuah teori interaksionisme simbolik. Tiga konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain. Yaitu, pikiran manusia (mind) dan interaksi sosial (diri/self dengan yang lain) digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) di mana kita hidup. Makna berasal dari interaksi dan tidak dari cara yang lain. Pada saat yang sama pikiran dan diri timbul dalam konteks sosial masyarakat. Pengaruh timbal balik antara masyarakat, pengalaman individu dan interaksi menjadi bahan bagi penelahaan dalam tradisi interaksionisme simbolik.

  • Kehidupan Sosial adalah Contoh Interaksi Simbolik

Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Premis-premis dasar interaksionisme simbolik sebagai berikut: pertama, individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

Teori interaksi simbolik penting bagi kajian sosiologi menurut Herbert Blumer dikarenakan baik behaviorisme maupun fungsionalisme struktural sama-sama cenderung memusatkan perhatian pada faktor yang melahirkan perilaku manusia. Menurut Blumer, kedua perspektif teori itu mengabaikan proses penting yang memberikan aktor kekuatan bertindak terhadapnya dan yang memberikan makna atas perilakunya sendiri. Teori Interaksi simbolik menurut Herbert Blumer mampu menjawab kelemahan behaviorisme dan fungsionalisme tersebut.

[Baca juga: Teori Pilihan Rasional]

Berkembang dalam Berbagai Aliran

Teori interaksi simbolik kemudian berkembang menjadi berbagai aliran. Aliran-aliran interaksionisme simbolik adalah mahzab Chicago, Mahzab Iowa, Pendekatan Dramaturgis, dan Etnometodologi. Interaksionisme simbolik Mazhab Iowa menggunakan metode saintifik (positivistik) dalam kajian-kajiannya, sementara Mazhab Chicago menggunakan pendekatan humanistik. Dan Mazhab yang populer digunakan adalah Mazhab Chicago.

Termasuk interaksionisme simbolik yang dikembangkan Herbert Blumer juga dikritisi generasi baru yang menilainya telah bergeser ke arah analisis mikro. Interaksionime simbolik telah memasuki era baru, yakni post-Blumerian, ada upaya terus-menerus untuk menyintesiskan interaksionisme simbolik dengan gagasan lain. Seperti teori pertukaran, etnometodologi, fenomenologi, fungsionalisme struktural. Teoritisi interaksionisme simbolik juga berupaya mengintegrasikan pemikiran dari post-strukturalisme, post-modernisme, studi kultural dan feminisme radikal. ***

Sumber Rujukan:
[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004
[2] I.B, Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma, Jakarta, Prenada Media, 2012
[3] Teori Interaksi Simbolik Mead; sosiologi.fisip.unair.ac.id, diakses 26 September 2015
[4] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 5 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here