Bagaimana Teori Kelas Penguasa Menurut Gaetano Mosca?

0
3852
Teori Kelas Penguasa Menurut Gaetano Mosca
Teori Kelas Penguasa Menurut Gaetano Mosca

GAETANO MOSCA selain sebagai seorang sosiolog adalah seorang pemikir politik, pejabat publik di parlemen, dan juga orang yang berprofesi sebagai jurnalis di Itali. Mosca yang terlahir pada 1 April 1858  dan meninggal dunia 8 November 1941 ini meraih gelar sarjana hukum dari universitas Palermo pada tahun 1881. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1887 ia pindah ke Roma dan menjadi editor catatan sidang Chamber Of Deputies Itali.

Sebagai tenaga pengajar, dia merupakan seorang profesor hukum tatanegara (Constitutional Law) di berbagai universitas Itali.     Di antaranya pada tahun 1896 dia mengajar Hukum Konstitusi di Universitas Turin, tahun 1924 sebagai pengajar Hukum Publik di Universitas Roma, dan masih banyak lagi.  Masa pensiun Mosca sebagai tenaga pengajar dan peneliti adalah selama pemerintahan diktaktor fasis di Itali.

[Baca juga: Apa itu anarkisme? Anarkis bukanlah tindak kekerasan pun perusakan]

Kepopuleran Mosca adalah latar-belakang teori yang dimilikinya, yaitu mengenai kelas penguasa (the ruling class).   Karya-karyanya yang terkenal adalah Sulla Teorica dei Governi e sul Governo Parlamentare, 1884; Elementi di Scienza Politica (The Ruling Class), 1896; dan Storia delle dottrine politiche, 1936.

Pembagian Kelas Masyarakat

Sesuai pemaparannya, perkembangan dan perubahan masyarakat tak lain karena berbagai hal yang saling mempengaruhi, seperti iklim, geografi, biologi, tehnik, ekonomi, intelektual dan faktor-faktor lain.       Dan berdasar kajian sejarahnya, Mosca mendapati bahwa semua masyarakat dapat dibagi kedalam kelas atau kelompok penguasa dan kelas yang dikuasai.

  • Kelas Penguasa

Meski ia memiliki jumlah yang lebih sedikit, namun ia dapat memegang semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan-keuntungan yang didapatnya, tentu dari kekuasaannya itu.

  • Kelas yang Dikuasai

Jumlah dari kelas yang dikuasai ini memang lebih besar, namun ia justru lebih berposisi pada “yang diatur dan dikontrol,” dan pengatur pun pengontrolnya tak lain adalah kelas pertama, penguasa.     Dilihat dari sini, dapat disimpulkan bahwa orang yang menduduki posisi sebagai elite penguasa tentu mempunyai kemampuan lebih dari pada massa yang dikuasai itu.

Empat Dasar Sosial Kekuasaan

Dan berdasarkan kesimpulan di atas, maka menurut Mosca ada empat faktor yang menjadi dasar sosial kekuasaan suatu kelas, yaitu kekayaan, kelahiran, kemampuan militer, dan pengetahuan.

  • Kekayaan

Kekayaan telah menjadi alat untuk memasuki kelas penguasa baik di dalam sistem pemerintahan klasik (kerajaan, monarki) ataupun sistem pemerintahan modern (nasionalis, kapitalis, sosialis).

  • Kelahiran

Kelahiran disini memiliki definisi sebagai status yang diwarisi memberi akses pada lingkaran kelas penguasa, masyarakat hierarkis tertutup, aristokrat turun-temurun, termasuk pada lingkaran kelas penguasa pada masyarakat yang demokratis sekalipun.

  • Kemampuan Militer

Kemampuan militer merupakan sumber berharga ketika kondisi sebuah negara dalam bahaya, penuh konflik, berperang. Siapa yang memiliki pasukan banyak, strategi militer dan peralatan senjata canggih tentu akan lebih mendapatkan kuasa.

  • Pengetahuan

Sebagaimana banyak orang ketahui, kebodohan tentu adalah keterbelengguan. Jadi, pengetahuan adalah hal yang tak bisa diabaikan, dan ia pun menjadi salah satu faktor dasar dari sosial kekuasaan. Pasalnya pengetahuan adalah sumber kekuasaan yang bisa diartikan sebagai pemilikan beberapa tehnik, keunggulan pengetahuan adat dan pengetahuan moral, keagamaan. Semua keunggulan itu dapat juga menjadi pengesah dari posisi sebagai kelas penguasa.

Mosca sadar bahwa faktor kekayaan, kelahiran, kekuatan militer, dan pengetahuan tidaklah eksklusif. Kekayaan kadang-kadang dapat membeli kekuatan militer, dan masuk kedalam aristokrasi penguasa, atau orang kaya bisa saja tidak bekerja dan menggunakan waktu luangnya untuk memperoleh pengetahuan yang demikian dihargai di dalam masyarakat tertentu.     Masih menurut Mosca, kelas penguasa membutuhkan formula politik untuk menjalankan kekuasaanya. Formula ini, secara fundamental sesungguhnya irrasional, namun disajikan dengan bentuk logis. Formula tersebut berfungsi untuk membenarkan kekuasaan dari elit dan struktur masyarakat yang dia kuasai. Contoh adalah raja dengan keagungan Tuhan, kedaulatan rakyat.

[Baca juga: Apa itu Teori Interaksi Simbolik?]

Teori Pergantian Elit ala Mosca

Dan Mosca juga percaya pada teori pergantian elit, bahwa ketika mereka kehilangan kecakapannya dan orang-orang di luar kelas tersebut menunjukkan kecakapan yang lebih baik, maka ada kemungkinan kelas yang berkuasa akan digantikan oleh kelas penguasa yang baru.     Mosca menambahkan bahwa sirkulasi elit dapat terjadi melalui asimilasi, kooptasi dan perubahan-perubahan moderat lainnya, atau melalui pemberontakan, revolusi, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

[Baca juga: Inilah Burung-Burung Manyar Sebagai Refleksi Kisah Cinta Pada Masa Revolusi Indonesia]

Mosca memperkenalkan pula konsep sub elit yang pada prakteknya berisikan seluruh kelas menengah baru dan para pegawai sipil, para manajer industri, ilmuwan dan mahasiswa serta menganggapnya sebagai elemen vital dalam mengatur masyarakat. Stabilitas organisme politik apapun, bagi Mosca, tergantung pada moralitas, kepandaian dan aktivitas lapisan kedua ini.

Menyimak Mosca, memang pengaruhnya sebagai sosiolog bisa dikatakan kalah tenar dibanding dengan Vilfredo Pareto. Hal ini bisa dipahami, lantaran karya-karya Mosca memang bisa dibilang jarang dibaca dan dijadikan rujukan untuk penelitian sosiologis saat ini. ***

Sumber Rujukan:
[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992
[2] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004
[3] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 16 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here