Teori Fungsionalisme Struktur

0
11118
Moai Easter Island Statue - Teori Fungsionalisme Struktur
Moai Easter Island Statue - Teori Fungsionalisme Struktur

TOKOH-TOKOH yang pertama kali mencetuskan fungsional di antaranya ada tiga, yaitu Auguste Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Mengenai pemikiran structural fungsional, ia dipengaruhi oleh pemikiran biologi; menganggap masyarakat sebagai organisme, terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, sementara ketergantungan tersebut merupakan konsekuensi agar organismenya tetap dapat bertahan hidup.

Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang membuat sistem seimbang. Selain itu, bagian tersebut juga saling interdependensi antara satu sama lain dan fungsional, oleh karenanya jika ada yang tidak berfungsi cenderung akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional.

[Baca juga: Inilah Teori Neofungsionalisme]

Teori Integrasi atau Teori Konsensus

Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Teori fungsional juga populer disebut teori integrasi atau teori konsensus. Tujuan utama teori ini adalah memahami masyarakat secara integral.

Pendekatan fungsional menganggap masyarakat terintegrasi berdasarkan kesepakatan anggota-anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Kesepakatan umum ini memiliki kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.

Bentuk Ekuilibrium

Masyarakat sebagai suatu sistem sosial, secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk ekuilibrium. Oleh sebab itu, aliran pemikiran tersebut disebut integration-approach, equilibrium approach, atau structural-functional approach (fungsional struktural/fungsionalisme struktural).

Teori ini menekankan keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat dengan beberapa konsep utama, di antaranya adalah; fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifes, dan keseimbangan.

Para penganut fungsional melihat masyarakat dan lembaga-lembaga sosial sebagai suatu sistem yang seluruh bagiannya saling bergantung satu sama lain dan bekerja sama menciptakan keseimbangan. Mereka memang tidak menolak keberadaan konflik di dalam masyarakat, akan tetapi mereka percaya dalam masyarakat terdapat mekanisme yang dapat mengontrol konflik.

[Baca juga: Fungsionalisme Konflik Menurut Lewis Alfred Coser]

Paradigma Fakta Sosial

Bila ditelaah dari paradigma yang digunakan, maka teori ini dikembangkan dari paradigma fakta sosial. Fakta sosial yang menjadi pusat perhatian sosiologi terdiri atas dua tipe yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Menurut teori fungsional structural, struktur sosial dan pranata sosial tersebut berada dalam suatu sistem sosial yang berdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbangan.

Masih menurut teori struktural fungsionalis, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri atas banyak lembaga. Masing-masing lembaga memiliki fungsi sendiri-sendiri. Struktur dan fungsi dengan kompleksitas berbeda-beda pada setiap masyarakat, baik masyarakat modern maupun masyarakat primitif. Misalnya, lembaga sekolah mempunyai fungsi mewariskan nilai-nilai yang ada kepada generasi baru.

Semua lembaga tersebut akan saling berinteraksi dan saling menyesuaikan yang mengarah pada keseimbangan. Bila terjadi penyimpangan dari satu lembaga masyarakat, maka lembaga yang lainnya membantu dengan langkah penyesuaian.

[Baca juga: Apa itu Teori Interaksi Simbolik?]

Pola-pola pelembagaan tersebut akan menjadi sistem sosial. Untuk menjaga kelangsungan hidup suatu masyarakat, setiap masyarakat perlu melaksanakan sosialisasi sistem sosial yang dimiliki. Caranya dengan mekanisme sosialisasi dan mekanisme kontrol sosial.

Teori fungsionalisme struktural memang berlebihan, namun begitu teori ini cenderung menekankan aspek keseimbangan dan keteraturan, sehingga cenderung meremehkan konflik, atau menutupi ketidakseimbangan pun keteraturan yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat. Teori ini juga hanya memerhatikan pada kelompok konkret, kekuasaan, dan perubahan sosial, mengabaikan peran individu.***

Sumber Rujukan:
[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media, 2004
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, 1992
[3] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 20 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here