Tahukah Anda, Beras Terbaik Bukanlah yang Bening dan Bersih?

0
1907
Beras Terbaik Bukanlah yang Bening dan Bersih
Beras Terbaik Bukanlah yang Bening dan Bersih

BERAS merupakan bahan makanan yang sangat penting bagi sebagian besar rakyat nusantara, alasannya karena setiap manusia hampir dipastikan mengonsumsi beras sebagai makanan pokok setiap hari.

Sejatinya memang nusantara ini kaya akan khasanahnya, termasuk dalam hal makanan pokok keseharian, oleh karenanya pada zaman dulu kita mengenal makanan pokok pada masing-masing daerah. Ada sagu, ada jagung, dan masih banyak lagi.   Namun itu dulu. Karena kini, hal itu seolah telah diseragamkan dan seperti sudah menjadi kekompakan bahwa setiap orang di Indonesia ini berkewajiban memakan nasi, bahkan 3 kali dalam sehari, dengan porsi minimal 3 piring tentunya.

Penyeragaman Atas Nama Kesejahteraan

Jauh pada masa pra kemerdekaan, dan juga pasca kemerdekaan, sebenarnya masih bisa ditemukan beragam jenis makanan pokok pada tiap daerah. Namun kebijakan penguasa seolah telah menyirnakannya. Alih-alih mengatasi krisis pangan yang mengakibatkan jutaan warga kelaparan, maka para penguasa membuat keputusan agar banyak-banyak menanam padi sebagai cikal bakal beras yang apabila dimasak akan menjadi nasi. Atau kalau mau diproses lebih lanjut, bisa pula menjadi tepung.

[Baca juga: Tahukah Anda, Konsumsi Kentang Tak Selalu Lebih Bagus Dari Nasi?]

  • Makanan Pokok

Memang bukan sebuah kekeliruan penguasa mengupayakan kesejahteraan warganya, sehingga segala cara akan ditempuh. Namun sungguh amat disayangkan apabila dengan dalih ‘kesejahteraan dan kemakmuran’ itu lantas hal yang berbeda menjadi disamakan. hal yang beragam menjadi diseragamkan. Bukankah perbedaan dan keberagaman itulah nilai lebih bagi nusantara ini?

  • Bentuk Kedaulatan Terkecil

Bagaimana tidak, bukan saja sebatas penyeragaman makanan pokok berujud beras yang disamakan di wilayah nusantara ini, akan tetapi kenyataannya juga sistem tata kelola pemerintahan, khususnya wilayah yang paling kecil, dusun pun desa. Nama nagari, dukuh, desa adat, dan masih banyak lagi, seolah ditiadakan demi kekompakan dari sebuah rezim.

Padahal kalau kita mau kembali merunut ulang dari awal, justru nagari, dukuh, desa adat, dan semacamnya itu justru telah ada jauh sebelum republik ini berdiri, bukan?

[Baca juga: UU Desa: Pengejawantahan Wewenang Tentang Transparansi & Akuntabilitas demi Kesejahteraan]

Melebihi Rata-rata Orang Asia

Kembali pada keberadaan beras, sesuai catatan dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan juga Kementerian Perdagangan, konsumsi beras warga Indonesia, baik yang ada di rumah tangga dan juga yang ada di warung makan pun restoran, telah melebihi rata-rata konsumsi nasi di Asia. 114 kilogram berbanding 90 kilogram. Selisih 24 kilogram.

Jangan Salah Memilih Beras

Walau begitu, ternyata masih banyak orang-orang di seputar kita, warga Indonesia, yang masih salah dalam memilih beras berkualitas baik, yaitu selalu memilih yang ‘ningsih’ alias bening dan bersih.

  • Beras Putih

Lho kenapa memilih yang bening dan bersih malah dikatakan keliru? Salah?

Alasan yang musti dipahami adalah bahwa kenyataannya beras yang warnanya sangat putih itu merupakan beras yang telah dipoles beberapa kali, sehingga justru nutrisi terbaiknya menjadi sirna.     Sebaliknya, beras pecah kulit yang warnanya buteg dan dekil sebenarnya adalah jenis beras yang paling bagus, ialah the best rice.

  • Beras Krayan & Beras Merah (Hitam)

Selain beras putih bening itu, ada pula pilihan beras yang baik dikonsumsi, di antaranya adalah beras merah dan juga beras hitam. Bahkan karena rendah gula, ia menjadi beras yang banyak dipilih orang yang peduli dengan gaya hidup sehat.

Atau kalau memang masih kekeuh hendak mengonsumsi beras putih, kita bisa memilih pula jenis beras yang memang sudah berwarna putih-bersih sejak dari asalnya, beras organik –karena langsung bersentuhan dengan alam, termasuk pupuknya yang bukan pupuk kimia. Sebagai contoh adalah beras krayan yang merupakan beras dari padi hasil tanam di dataran tinggi Krayan, Kalimantan Timur, ia memiliki warna putih, beraroma harum, dan juga sangat pulen.

Sesuaikan Airnya

Setiap jenis beras pastinya memiliki ciri yang berbeda, sehingga dalam memasaknya kita dituntut memahami jenis suatu beras. Sebagai contoh adalah mengenai kadar air yang dibutuhkan ketika menanak.

Alangkah baiknya pada saat menanak nasi dari jenis beras baru, sekaligus menjadikannya sebagai media percobaan. Apakah terlalu lembek, ataukah terlalu keras. Sehingga untuk proses menanak selanjutnya bisa menyesuaikan selera kita. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Ingat, Beras Terbaik Itu Bukan Beras yang Paling Putih!; intisari-online.com, diakses pada 24 Oktober 2015
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 24 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here