Apa Hubungan antara Trah, Dinasti, dan Wangsa itu?

0
8371
Apa Hubungan Antara Trah, Dinasti, dan Wangsa itu?
Apa Hubungan Antara Trah, Dinasti, dan Wangsa itu?

TRAH selain menjadi kata yang acap digunakan dalam pergaulan sehari-hari, belakangan ini juga acap dipakai oleh banyak media dalam menyebarkan pemberitaannya. Menyimak kata trah ini mungkin saja tak banyak orang yang bisa menjelaskan pada mereka yang masih gagap mengartikannya.

Mataram Kuno

Kata trah memang lebih dikenal di lingkungan masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan kota raja (keraton). Asalannya karena memang istilah ini sejak dari dahulu akrab digunakan oleh keluarga raja ataupun keluarga ningrat.

Hanya saja saat ini sudah menjadi meluas, bukan saja keluar dari lingkungan kraton, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

KBBI 1988

Jika mengacu pada halaman KBBI tahun 1988, kata trah memiliki “lema” yang kurang-lebih sama dengan ‘wangsa.’ Yaitu; [1] keturunan raja; keluarga raja. [2] bangsa.

[Baca juga: Inilah Ketentuan Penggunaan Tanda Koma Pada Sebuah Kalimat]

Seiring perkembangannya, yaitu yang berawal dari kerajaan Mataram Kuno dengan corak Hindu-Buddha, istilah wangsa itu sendiri digunakan untuk menyebut suatu dinasti, bukan lagi trah. Sebagai contoh adalah Wangsa Syailendra, ataupun Wangsa Sanjaya.

Pengaruh Budaya

Mau mengakui ataupun tidak kerajaan-kerajaan di nusantara ini memiliki pengaruh dari luar, entah dari bangsa-bangsa Arab –Gujarat, India, atau bahkan negeri-negeri barat.

[Baca juga: Beberapa Warisan Budaya Indonesia Yang Telah Diakui Dunia]

  • Budaya India

Pengaruh dari luar itu termasuk di dalamnya adalah kerajaan mataram Kuno ini.     Dan tak pelak, posisi Mataram Kuno yang ada sejak abad IX hingga abad XIV ini juga dipengaruhi oleh bangsa luar nusantara, yaitu bangsa India dengan budaya-budayanya.

  • Warisan Temurun

Dan menyimak sejarah pengaruh bangsa luar nusantara tersebut, bukan tidak mungkin istilah ‘wangsa‘ inipun dipengaruhi dan diwariskan dari budaya India. Sebagai salah satu bukti bisa kita temukan dari sisipan cerita Mahabharata, di mana dalam epos Mahabarata yang kemudian dilanggengkan melalui pertunjukan kesenian wayang itu, kita dapat mengejawantahkan sendiri arti dari kata ‘wangsa’ yang tak lain adalah kelompok besar dari satu keturunan pemegang kekuasaan. Serupa dengan dinasti.

Wangsa Barata ataupun Wangsa Kuru, tak lain adalah Dinasti Barata ataupun Dinasti Kuru. Dan seterusnya.

Mataram Islam

Ketika pemerintahan berubah, penguasa pun berganti, yang acap kita lihat tak lain adalah aturan dan ontran-ontran baru sesuai apa yang berkuasa itu. Hal ini bukan saja terjadi pada masa kini, namun sejatinya juga telah berabad-abad lalu ada.

[Baca juga: ‘Kipo’ Adalah Jenis Kuliner Jajanan Khas Kotagede Yogyakarta Warisan Kerajaan Mataram Islam]

  • Darimana Asal Ungkapan Trah?

Sebagai bukti adalah pada saat Mataram Kuno sebagai kerajaan Hindu-Buddha berganti menjadi Mataram Islam. Maka aturan mengenai terminologi ‘wangsa’ menjadi dimungkinkan sekali untuk berubah, yaitu menjadi trah.     Hal ini tergambar dalam sebuah ungkapan yang akrab pada amsa kerajaan Mataram Islam hingga kini, yaitu “Trahing kusuma, rembesing madu, wijining naratapa, tedhaking andana warih,” yang kurang-lebihnya memiliki arti “keturunan bunga rembesan madu, benih pertapa, dan turunan orang-orang besar.

Kalimat ungkapan di atas menjelaskan bahwa secara historis, awalnya penguasa Mataram Islam itu adalah keturunan orang-orang baik dan hebat.

[Baca juga: Diponegoro, Gelar Putra Raja Yang Sirna Pasca Perang Jawa]

  • Keluarga Besar

Pada perkembangannya, kata trah menjadi bisa lebih besar dan serupa dengan clan. Yaitu sebagai keluarga besar. Misalnya Trah Haryanto, serupa dengan clan Haryanto, memiliki definisi dari keluarga besarnya Haryanto, yaitu yang meliputi istri, anak, cucu, cicit, canggah, gantung-siwur, dan seterusnya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa trah juga memiliki arti sebagai “keluarga besar satu keturunan.” Sama sekali bukan keluarga kecil yang hanya terdiri dari satu kepala keluarga sendiri saja.

  • Makna Kebersamaan dan Solidaritas

Silsilah panjang dan jelas siapa moyangnya inilah yang menjadi dasar makna dari kata trah. Ini dilakukan bukan semata hendak menjaga eksistensi dari sebuah keluarga. Namun tetap ada nilai luhur yang termaktub di dalamnya. Sebagai contoh adalah agar sadar akan asal-usul sejarah keluarga, sehingga bisa membuat sadar diri akan kemampuan dan penghormatannya terhadap orang lain. Begitu pula dengan aspek kekeluargaan, gotong-royong, dan nilai solidaritas yang timbul darinya.

Artinya, di masa kini bisa kita petik makna bahwa kata “trah” memiliki maksud agar dalam masa modern dan dipenuhi dengan segala pernik kemajuan ini, jangan lantas kita hanya memikirkan diri sendiri saja, karena kita ini adalah makhluk dualisme, yaitu makhluk individu sekaligus makluk sosial. Mandiri akan tetapi tidak juga bisa berdiri sendiri  karena harus tetap selalu berdampingan dengan orang lain. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] “Trah” dan Wangsa; Artikel Heri Priyatmoko –Dosen Sanatata Dharma di Harian Cetak Pikiran rakyat, 25 Oktober 2015
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 30 Oktober 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here