Ikebana: Seni Kuno Merangkai Bunga di Jepang

0
2929
Inilah Ikebana: Seni Kuno Merangkai Bunga di Jepang

IKEBANA adalah kata yang tak akan asing bagi mereka yang menggeluti seni merangkai bunga dan juga merawat tanaman. Karena ikebana ini merupakan salah satu bentuk seni kuno berasal dari negeri sakura yang tetap masih banyak digandrungi dan digemari meski telah banyak gaya lain yang bermunculan.

Bahkan bukan saja pada seni merangkai bunga dan yang berhubungan dengan profesi florist, namun para pecinta seni bonzai dan juga mereka yang memiliki profesi sebagai gradenner juga acap melirik gaya snei ikebana ini.

Apa itu Ikebana?

Lebih lanjut bisa dideskripsikan bahwa ikebana adalah seni merangkai bunga kuno dari Jepang yang memanfaatkan berbagai jenis bunga, rerumputan, dan juga ranting-ranting lain demi mendapatkan keindahan.Dan meski berasal dari negeri Sakura, namun kini seni ikebana ini telah dikenal luas ke seluruh dunia.

Dalam bahasa Jepang, ikebana adalah juga merupakan istilah lain “kado” yang mengandung sinonim bahwa KA merupakan bunga, DO adalah jalan kehidupan.  Sehingga ikebana bisa dikatakan merupakan aspek seni guna mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga.

Asal-Usul

Awalnya, ikebana adalah satu tradisi di Jepang dalam mempersembahkan bunga di kuil Buddha, yang seiring dengan berkembangnya agama Buddha di Jepang, yaitu pada abad ke-6, tradisi itu meluas dan mulai merebak di seluruh masyarakatnya.

[Baca juga: Seikerei adalah Penghormatan dengan Cara Membungkukkan Badan kearah Matahari Terbit]

  • Tradisi Animisme

Namun di sisi lain ada pula yang mengatakan bahwa Ikebana merupakan tradisi animisme orang-orang zaman kuno, yaitu perlakuan menyusun kembali tanaman yang telah dipetik dari alam sesuai dengan keinginannya.      Pada zaman itu, manusia merasakan keanehan pada tanaman yang selanjutnya mengganggapnya sebagai suatu misteri.

Ini menjadi berbeda dengan para binatang yang langsung dimatikan pasca diburu, bunga ataupun bagian tanaman yang sudah dipetik dari alam apabila diperlakukan secara tepat maka ia pun akan mempertahankan pula kesegaran yang serupa dengan saat masih berada di alam.   Berdasar pada fenomena tersebut, manusia yang gemar mengamati “keunikan” itu kemudian memasukkannya ke dalam vas bunga.

  • Kepercayaan pada Dewa

Dengan perlakuan di atas, manusia zaman dahulu pada akhirnya bisa merasa terpuaskan  karena menganggap dirinya sudah berhasil mengendalikan peristiwa alam yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan.  Ketakjuban terhadap tanaman berkekuatan unik dan aneh itu tentu tak bisa lepas dari pemujaan tanaman yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun (evergreen).        Warga Jepang zaman dulu yang tinggal di negeri empat musim tersebut memiliki keyakinan bahwa kekuatan misterius dari para dewalah yang memengaruhi tanaman itu selalu berdaun hijau sepanjang tahun, dan tak akan merontokkan daunnya pada musim dingin.

Sejarah Seni Ikebana

Mengacu pada literatur klasik seperti Makura no soshi, diceritakan mengenai adat-istiadat di negeri Jepang, bahwa tradisi mengagumi bunga yang akhirnya menimbulkan keinginan untuk memotong tangkai dan lalu merawat bunga potong telah dimulai sejak zaman Heian.    Pada awalnya, bunga potong tersebut ditempatkan pada sembarang wadah, namun pada perkembangannya mereka pun peduli untuk membuatkan tempat khusus berujud vas.

Bentuk ikebana sebagaimana yang banyak kita saksikan saat ini sejatinya baru dimulai pada pertengahan zaman Muromachi, yaitu oleh para biksu di kuil Chohoji Kyoto.  Para biksu kuil Chohoji itu bisa intensuf dan turun-temurun mewawat bunga ala ikebana lantaran mereka bertempat-tinggal pada sebuah kamar yang letaknya berada di pinggir kolam. Dengan latar belakang kata “kamar” memiliki definisi “bo” dan kata kolam mempunyai persamaan “obo,” maka istilah awal yang sering muncul adalah “Ikenobo.”

Kemudian pada pertengahan zaman Edo, ada banyak kepala aliran (Iemoto) dan juga  guru besar kepala (Soke) beramai-ramai menciptakan seni merangkai bunga gaya Tachibana atau Rikka, sehingga gaya-gaya itulah yang lebih populer.      Dan seiring perkembangannya, yaitu pada pertengahan zaman Edo sampai dengan pada akhir zaman Edo, Ikebana yang awalnya hanya bisa dinikmati oleh mereka para bangsawan ataupun kaum samurai secara berangsur-angsur mulai disukai pula oleh masyarakat kelas bawah. Dan ikebana gaya Shoka (seika) yang menjadi primadona di kalangan rakyat.

Selanjutnya guru besar dan ahli Ikebana bermunculan dengan kemampuan teknik tingkat tinggi dengan berbagai gaya aliran yang terpisah-pisah. Di antaranya adalah aliran Mishoryu, Koryu, aliran Enshuryu, dan Senkeiryu.

Masyarakat Eropa mulai mengenal Ikebana pada akhir zaman Edo sampai dengan masa awal era Meiji, yaitu bersamaan puncak kebudayaan Jepang dinikmati orang-orang Eropa. Seiring dengan itu, Ikebana pun memengaruhi seni merangkai bunga di belahan bumi Eropa yang menirunya dalam line arrangement.

[Baca juga: Elkebana adalah Penghias Dinding Estetis yang Idenya dari Ikebana]

Aliran Ikebana

Dari zaman Edo, perkembangan aliran seni kuno Jepang semakin banyak diminati, bahkan pada Maret 2005 sejumlah 392 aliran Ikebana telah masuk dalam daftar Asosiasi Seni Ikebana Jepang.    Berbagai macam aliran seni ikebana itu masing-masing memiliki cara dalam merangkai beragam bunga. Sebagai salah satu contoh perbedaannya adalah jika pada satu aliran mengharuskan orang melihat rangkaian bunga hanya nampak dari bagian depan, maka ada aliran lain yang mewajibkan rangkaian bunga tersebut bisa dilihat dari tiga dimensi, dua dimensi, dan lain sebagainya.

[Baca juga: Inilah Beberapa Jenis Bunga Mawar]

Biasanya rangkaian bunga gaya barat sangat dekoratif, yaitu akan nampak sama indah dipandnag dari berbagai sudut.  Artinya, rangkaian gaya Eropa ini tidak perlu dicermati dari sisi depan.    Hal ini menjadi berbeda tatkala mencermati hasil seni merangkai bunga ala ikebana, karena ia lebih cenderung menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme dan warna. Dengan kata lain, ikebana tak begitu mengambil pusing warna dan keindahan bunga, akan tetapi ia lebih mementingkan pada aspek pengaturan yang sesuai dengan garis linier.    Ini dilakukan tak lain karena terbentuknya Ikebana didasarkan pada tiga titik sebagai perwujudan langit, bumi, dan manusia.

Tiga Gaya Ikebana

Di bawah ini adalah tiga gaya dalam Ikebana

  • Gaya Rikka

Rikka ataupun bunga berdiri alias Standing Flower merupakan gaya ikebana tradisional yang banyak diterapkan pada perayaan keagamaan. Rikka adalah gaya ikebana yang mengedepankan keindahan landscape tanaman yang berkembang pada awal abad 16.

  • Gaya Shoka

Jika Rikka merupakan gaya ikebana tradisional dan bernuansa resmi, maka shoka yang juga masih merupakan gaya ikebana tradisional bukan merupakan rangkaian ikebana yang terlalu formal. Yaitu merupakan gaya yang fokusnya pada bentuk asli tumbuhan.

[Baca juga: Ragam Tanaman Hias Ruangan Rumah]

Dan karena tak begitu formal itu, justru gaya Shoka ini perkembangannya bisa lebih diterima, pasalnya pengaruh eropa bisa masuk di dalamnya.   Pasca Restorasi Meiji pada tahun 1868, muncul perkembangan gaya Eropa Nageire, yaitu rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas, dan juga Moribana yang merupakan rangkaian berwadah rendah dan mulut lebar.       Tahun 1977 muncul gaya lain yang lebih modern bernama Shoka Shimputai.

  • Gaya Jiyuka

Jiyuka merupakan gaya ikebana yang lebih bebas lagi, karena rangkaian jenis ini lebih didasarkan pada kreativitas serta imaginasi. Bahkan dalam gaya rangkaian ikebana yang  berkembang setelah perang dunia ke-2 ini kita pun bisa memanfaatkan kawat, logam dan batu secara kentara.

Sumber Rujukan:
[1] Ikebana; id.wikipedia.org, diakses pada 27 November 2015
[2] Buku Modul Panduan Merangkai Bunga Hotel Borobudur Jakarta, tahun 2008
[3] Gambar ilustrasi; shutterstock.com, diakses pada 27 November 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here