Kisah Carl Alfred Bock yang Berjumpa Manusia Suku Kanibal namun Tetap Tahu Balas Budi

0
2781
Inilah Kisah Alfred Bock Ketemu Manusia Suku Kanibal Borneo
Inilah Kisah Alfred Bock Ketemu Manusia Suku Kanibal Borneo

KANIBAL adalah satu kata berbahasa Indonesia yang juga merupakan istilah yang hampir serupa dengan istilah lain lebih keren, yaitu karnivora. Merupakan kata untuk mengistilahkan satu makhluk hidup yang tega memakan (daging) sesamanya.    Apabila binatang ya tega memakan sesama binatang, misalnya harimau tega memakan sesama harimau, monyet tega memakan daging binatang monyet, dan seterusnya.

Tahukah Anda, ternyata bukan sebatas binatang saja yang memiliki tabiat “kanibal” itu, karena ada pula sebagian (kelompok) manusia yang juga mempunyai perilaku serupa. Tega dan doyan melahap daging sesama manusia.

Tindakan Mutilasi

Jika mengingat-ingat berita, mungkin telah beberapa kali kita mengetahui satu perbuatan bernama mutilasi, yaitu sebuah tindakan keji dari seorang manusia yang membelah-belah dan juga mencacah daging makhluk hidup lainnya, bahkan juga termasik daging sesama manusia.

Ada banyak motif dalam melakukan mutilasi itu, misalnya adalah pemenuhan upayanya dalam menjalankan syarat guna menempuh ilmu hitam ataupun mencari kekayaan secara instant. Atau bisa pual hal itu terjadi akibat sang pelaku memang sudah ada kelainan jiwa, sakit psikisnya, pun tak waras otaknya.

Kanibalisme

Nah, kembali pada bahasan kanibalisme di atas, tindakannya bisa pula disertai dan didahului oleh mutilasi. Akan tetapi tak bisa kita memukul rata, karena terdapat pula yang tak melakukan mutilasi.    Dan tahukan Anda, ternyata beberapa puluh tahun silam, tak jauh dari kita ada pula sekelompok orang yang berlaku kanibal. Yaitu satu kelompok suku yang ada di pedalaman Kalimantan.

Peristiwa kanibalisme itu sebagaimana diceritakan oleh Carl Alfred Bock dalam buku yang ditulisnya –berisi mengenai misi perjalananan pada usia 30 tahun di pedalaman Kalimantan.

[Baca juga: Carl Alfred Bock; Warga Eropa Penjelajah Borneo yang Menelisik Kisah Manusia Berekor]

The Head Hunters of Borneo

Dari perjalanan di sejumlah pedalaman pulau Borneo itu, Carl Alfred Bock membukukannya  dalam The Head Hunters of Borneo dan diterbitkan pada tahun 1881. Satu buku yang dihiasi dengan sejumlah 37 litografi dan ilustrasi, yaitu mengenai orang dan budaya Dayak.

  • Dayak Tring – Cabang Keluarga Suku Bahou

Dalam perjalanannya dari Kotta Bangoen menuju permukiman Tring, Alfred Bock menghabiskan waktu selama empat hari. Harapan dari perjalanan ini, sesampainya di Moeara Pahou ia bisa bertemu dengan suku Dayak Tring, yaitu cabang keluarga suku Bahou.     Namun ternyata harapan itu tinggal harapan, karena hingga hari ke-3 Bock sama sekali belum mencium gelagat ada penghuni daerah itu yang menampakkan diri. Yang pada akhirnya Bock berencana bisa memasuki kampung.

Keinginan Bock ini sejatinya tak dikehendaki oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman beserta pengikutnya (yang utrut membantunya), karena akan sangat membahayakan dirinya. Alasannya adalah latarbelakang suku itu yang kanibal, dibenci, namun sekaligus juga ditakuti oleh tetangga suku.    Sementara jika harus datang dengan banyak orang apalagi berombongan, Sultan khawatir niatnya itu justru disalah-artikan; mereka akan menduga rombongan sultan bersiap melakukan penyerangan.

  • Kekeuh Menjalankan Misi

Berlawanan dengan Sultan, kekhawatiran banyak orang itu tak digubris lagi oleh Bock. Ia kekeuh berniat melakukan perjalanan ke sana dengan alasan tuntutan tugas, yaitu hendak membuktikan kebenaran dari kabar kekanibalan itu. Karena jika hal itu tak dilakukan tentu pemerintah kolonial akan sangat marah dan kecewa pada Bock.

Sebagaimana diketahui, ternyata pemerintah Hindia-Belanda juga hendak mendapatkan laporan aktual dari tindak keji dan kebiadaban itu. Bock kekeuh berniat menyaksikan dan mebuktikannya. Selain rasa penasaran, adalah juga akibat yang bakal diterima apabila misi itu tak dilaksanakan.

  • Mengirimkan Perahu

Pada akhirnya Sultan luluh, beliau meloloskan permintaan Bock tersebut dengan langkah mengirimkan satu perahu yang disertai dengan seseorang guna meminta suku Dayak Tring menampakkan diri.          Setelah seminggu belum ada kabar, tentu rasa gusar menghinggapi Sultan dan para pengikutnya. Bahkan ada yang menduga-duga bahwa perahu dan satu orang di dalamnya telah tewas dibunuh.     Akibatnya, Sultan kembali mengirimkan perahu besar dengan beberapa penumpang yang dipimpin oleh seorang Kapitan Bugis.

[Baca juga: Suku (Orang) Laut Kepulauan Riau Telah Eksis di Atas Perahu Sejak Abad Ke-7]

Ketika perahu kedua itu telah diberangkatkan, secara mengejutkan namun juga menggembirakan perahu yang datang awal telah kembali. Bukan perahu dan satu orang saja yang ada di dalamnya, melainkan terdapat pula sekitar 40-an warga suku Dayak Tring, yang di dalamnya ada empat berjenis kelamin wanita.

  • Menggambar Sosok Perempuan Dayak

Ketika telah berkumpul, kemudian Bock menggali keterangan dari mereka. Seorang pendeta perempuan memberikan kesempatan Bock guna mengambil gambar sosoknya, dan memerdekakan untuk dicermati setiap sudut dari tubuhnya tersebut.    Dari sanalah Bock bisa menemukan hal yang menakjubkannya, yaitu terdapatnya lubang telinga yang memanjang disertai bandul cincin logam, juga ketiadaannya alis di bagian atas mata itu.

Di samping diperkenankan mencermati pemandangan menarik lain berupa gambar tubuh mirip rajah yang sejatinya adalah tato, Bock juga mengamati warna kulit yang lebih cerah serta jenis rambut pendek sebagai pembeda dari para perempuan suku Dayak lainnya.

  • Bagian Tubuh Terbaik Disantap

Dalam pertemuan itu, Bock sepertinya cukup puas karena mendapatkan banyak keterangan langsung dari kelompok suku pelaku kanibal. Pengakuan demi pengakuan muncul, di antaranta adalah ungkapan yang menyatakan bahwa bagian telapak tangan manusia merupakan bagian ternikmat. Mereka mengatakannya dengan bahasa Melayu “bai, bai,” yang maksudnya adalah “baik, baik.”    Selain itu mereka juga menunjuk lutut dan dahi yang menjadi bagian lain yang tak kalah enaknya.

  • “Sibau Mobang” Bertandang ke Rumah Bock

Selanjutnya di kesempatan lain seorang lelaki kepala suku Dayak kanibal yang bernama “Sibau Mobang” juga menyambangi tempat tinggal Bock didampingi seorang perempuan dan dua laki-laki.

Bock menuturkan bahwa ketika memasuki rumah, sang kepala suku itu berdiri mematung untuk beberapa saat lamanya. Tak bergerak tak juga mengucapkan kata. Hanya memandangi sosok Bock dengan tatapan mendalam. Sedangkan Bock sendiri meskipun mengikuti gerak-gerik itu, namun ia berpura-pura tidak mengamati. Setelah itu baru sang kepala suku tersebut bergeser pelan, lalu duduk dengan jarak kurang-lebih dua meter dari tempat Bock. Sebagaimana digambarkan Bock, Sibau Mobang ini memiliki mata yang ekspresi tatapannya menyerupai mata binatang buas, namun di sekitar matanya nampak ada garis-garis gelap seperti bayang-bayang kejahatan.

Dari perjumpaannya itu Bock menyimpulkan bahwa Sibau memiliki usia sekitar 50 tahunan, dengan gigi ompong dan pipi kempot, sedangkan kulitnya yang berwarna coklat kekuningan juga mulai menunjukkan kerutan. Dengan penampakan yang sepertinya sakit-sakitan, terdapat pula rambut kaku yang menghiasi kumis dan dagunya. Mengenai daun kuping, bentuknya adalah menjuntai dengan bekas tindikan berlubang besar.

Semua penampilan lelaki itu tak pelak membuat Bock menyimpulkan kesan angker pada dirinya.

  • Menyantap Nasi Juga

Dari percakapannya, Bock memperoleh keterangan bahwa suku yang dipimpin Sibau ini sejatinya tak melulu hanya makan orang setiap hari. Pasalnya selain melahap daging yang berasal dari berbagai satwa, mereka juga memakan nasi dan juga buah-buahan liar di sekitar tempat tinggalnya. Hanya saja pada waktu bertemu dengan Bock itu, mereka tak bisa memakan nasi akibat tiadanya padi yang bisa dipanen.

Masih dari percakapan yang ada, Bock juga mengamati tangan & lengan kanan Sibau yang berhias gelang logam, ternyata kondisinya lumpuh. Oleh karenanya Sibau menempatkan senjata mandau pada sisi sebelah kanan itu. Mandau yang telah bertahun-tahun banyak memakan korban akibat tebasan tangan kirinya.

  • Barter Kenang-kenangan
"Penyeberangan sungai Benangan", litografi C. F. Kelley berdasarkan gambar oleh Carl Bock (1887)
“Penyeberangan sungai Benangan”, litografi C. F. Kelley berdasarkan gambar oleh Carl Bock (1887)

Mendengar pemaparan sang kepala suku yang mengaku telah lama tak makan nasi, maka Bock buru-buru meletakkan lukisannya kemudian beranjak menuju dapur untuk kemudian menyajikan seketel nasi yang baru saja ia tanak kepada mereka. Dengan taburan garamlah nasi itu mereka santap.

Setelah semuanya usai, Bock pun akhirnya tak enggan memberikan bingkisan kenang-kenangan kepada mereka yaitu berupa uang dua dolar untuk setiap orang yang telah dilukisnya. Kepada semua anggota suku kanibal yang datang itu, Bock juga memberikan untaian tasbih manik-manik, sepikul beras, kain blacu yang panjangnya sekitar 22 meter, yang kesemuanya ditujukan agar dibagi bersama.

Dan meskipun terlihat keji serta biadab, namun bukan berarti suku kanibal serta merta termasuk manusia yang tak tahu diri. Pasalnya kebaikan Bock juga mereka balas, yaitu dengan memberikan kenang-kenangan. Yang pertama adalah sebuah harta istimewa berujud perisai kayu dengan pola warna semarak dan berhiaskan helai-helai rambut yang diambil dari korban manusia. Ini memang memang indah walau tampak mengerikan. Namun kenang-kenangan kedua justru terlihat lebih mengerikan, yaitu dua wujud tengkorak—lelaki dan perempuan dengan tanpa rahang bawah— sebagai trofi dari pesiar berburu kepala. Semuanya dikemas dengan bungkusan daun pisang. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Carl Bock Berjumpa dengan Suku Dayak Pemakan Manusia!; nationalgeographic.co.id, diakses pada 5 November 2015
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com & wikimedia.org, diakses pada 5 November 2015

Berbagi dan Diskusi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY