Kecerdasan Emosi pada Anak Sama Penting dengan Kecerdasan Intelektualnya

0
1230
Mendidik EQ Anak Sama Pentingnya dengan Mendidik IQ-nya
Mendidik EQ Anak Sama Pentingnya dengan Mendidik IQ-nya

KECERDASAN manusia dikategorikan dalam dua hal yang meliputi kecerdasan intelektual atau sering disebut dengan IQ dan juga kecerdasan emosional yang dikenal pula dengan sebutan EQ. Namun di era yang serba instant ini tak banyak yang memahami dua kategori kecerdasan tersebut, utamanya tentang kecerdasan emosional.     Pemahaman yang kurang imbang antara kecerdasan intelektual berbanding emosional tersebut sudah semestinya dihadapi dengan bijak. Pasalnya tak sedikit orantua dalam mendidik anak-anaknya terkadang hanya mementingkan IQ alias kecerdasan intelektual dan lantas mengabaikan kecerdasan emosional atau EQ.

[Baca juga: Inilah 8 Jenis Kecerdasan Anak Menurut Thomas Armstrong]

Memilah Efek Positif dan Negatif

Berimbangnya perhatian orangtua akan IQ dan EQ ini tak bisa lepas dari tuntutan kebutuhan yang mengharuskan orangtua bekerja dan juga perkembangan teknologi yang tak bisa tidak harus kita ikuti. Di mana pada satu sisi ia bisa membawa keuntungan, akan tetapi pada sisi lain tak sedikit pula efek negatifnya.

Kesibukan orangtua bekerja tentu akan menghasilkan upah yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk anak. Namun, kesibukan itu pula yang menyebabkan waktu kebersamaan dengan si kecil juga menjadi berkurang, akibatnya anak menjadi kurang dekat dengan orangtua, bahkan kurang didikan pula. Pun begitu dengan teknologi, sebut saja penggunaan gadget dan internet, dari sana setiap orang —baik orangtua ataupun anak-anak— bisa bebas mengakses apa yang dikehendakinya, karena mau yang negatif ataupun positif semuanya tersedia.

Luangkan Waktu untuk Si Kecil

Memahami kenyataan di atas, maka sudah selayaknya orangtua meluangkan waktu khusus dalam kesehariannya untuk menikmati momen-momen bersama si kecil.

  • Memberikan Bantuan

Dan bersamaan dengan itu, selain mendidik kecerdasan intelektual pada anak, rangsangan-rangsangan emosional juga musti disinggungkan. Contohnya adalah dengan mengajarinya sikap empati padanya, yaitu dengan laku membantu orang lain yang memang sedang membutuhkan bantuan. Baik membantu tenaga ataupun membantu dana apabila memang diperlukan. Pergi ke panti asuhan, lembaga sosial, dan tempat yang semacam dengannya adalah pilihan yang juga bisa dilakukan.

Hal sepele mengenai ajaran empati ini, contoh nyatanya adalah membantu teman sepermainan sekiranya ada jatuh tersandung. Maka ajari untuk segera membantu dan peduli untuk menolongnya.

  • Sopan & Menghormati Orang Lain

Bersamaan dengan mendidik empati, oranngtua juga dituntut untuk bisa mengajak anak belajar mengenal orang lain, baik yang seumuran dengannya ataupun yang usianya terpaut jauh. Hanya saja jangan pula lantas memaksakan kepadanya, karena tak setiap anak memiliki keberanian serupa. Ada yang rasa malunya dominan, ada yang takut, ada yang sangat berani, dan banyak sifat lain pada anak.

Yang terpenting adalah tetap ajari pelan-pelan agar anak juga mampu dan terbiasa bersosialisasi. Tidak takut, tidak malu, dan jauh dari sikap gengsi dan sombong.

  • Didik Rasa Tanggungjawab

Mendidik anak untuk bisa bertanggungjawab memang tak mudah, akan tetapi tak bisa pula lantas kita mengabaikannya. Oleh karenanya, mulai dari hal kecil. Sebagai contoh ketika menumpahkan makanan ataupun minuman, maka tuntun si kecil dan ajak dia untuk membereskan serta membersihkannya.   Ingat, jangan malah meluapkan amarah kepadanya! Namun katakan dengan pelan bahwa hal itu merupakan satu kesalahan, oleh karenanya jika bersalah ya segera minta maaf, kemudian mengakui kesalahannya, dan bertanggungjawab untuk menyelesaikan kesalahan yang telah diperbuat.

[Baca juga: Salahkah Orangtua Memaksakan Kehendak Pada Anaknya?]

Hal itu berlaku pada banyak hal, bukan saja mengenai makanan, akan tetapi juga mainannya, buku-bukunya, dan lain sebagainya.

  • Mengembangkan Motovasi

Ajaran pengembangan motivasi acap terlupakan oleh orangtua. Sebagai contoh ketika anak tak bisa membuka bungkus makanan, dan ia meminta tolong dibukakan, namun banyak orangtua justru meledek ketidakbisaannya, dan bahkan juga uring-uringan dalam menyikapinya.     Hal terbaik adalah membantu dan mengajarinya pad ahal-hal yang ia tak bisa itu. Tuntun guna mengetahui solusi yang ada. Begitupun tatkala anak bermalas-malasan tak mau usaha sendiri, silakan kasih support agar ia bisa semangat, jangan  diomelin.

Begitulah beberapa langkah yang bisa kita lakukan apabila kita bersedia menyediakan waktu bersama anak, buah hati kita. Dengan begitu secara tidak langsung terjadi pula komunikasi dua arah dan tiada jarak membentang antara anak dan orangtua. Beri juga ruang ia berbicara pun mengeluarkan pendapat, lalu tanggapi dengan bijak menyertakan kecerdasan emosi sekaligus kecerdasan intelektual. Niscaya akan mendapatkan hasil yang jauh dari menyimpang. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Kecerdasan Emosional Anak Perlu Diasah; Koran cetak Kompas hal. 39, 30 November 2015
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, 3 Desember 2015

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here