Sinestesia Merupakan Makna Baru dari Penggabungan Kata

0
1500
Sinestesia Adalah Makna Baru dari Penggabungan Kata
Sinestesia Adalah Makna Baru dari Penggabungan Kata

PEMUNGUTAN SUARA aapabila kita definikan adalah perpaduan antara satu kata berbahasa Indonesia dengan satu kata lain yang pada akhirnya membentu satu kesatuan makna baru. Perpaduan dua kata ini akan banyak sekali kita temukan dalam berbahasa, baik secara formal ataupun pada bahasa pergaulan.

Suara Sama Dengan Pendapat?

Jika dicerna, kata suara pada frasa “pemungutan suara” ataupun voting artinya justru jauh dari yang sebenarnya. Karena jika merujuk pada KBBI, maka yang paling dominan adalah kata lain yang berhubungan dengan ‘bunyi.’ Sedangkan kata ‘suara’ pada ‘pemungutan suara’ lebih pada hasil dari pendapat seseorang.      Iya, pendapat memang bisa saja diasumsikan dalam bentuk suara, akan tetapi bukankah itu pun tak serta-merta memiliki keterhubungan secara kata?

Asal-usul

Namun apabila dirunut dari asal-usulnya, kata suara ini berasal dari bahasa Sankskerta “svara.” Selanjutnya penulisan svara pun disesuaikan dengan bunyi pengucapannya, suara, yang selanjutnya juga diserap ke dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pemaknaan kata suara ini menjadi semakin luas, yaitu tak sebatas pada seputar “bunyi.”

[Baca juga: Istilah ‘Aksara’ Berasal dari Bahasa Sanskerta yang Berarti Tidak Musnah]

Perluasan makna itu sebagaimana bisa kita amati pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008):

  • suara/su·a·ra/ n 1 bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia (seperti pada waktu bercakap-cakap, menyanyi, tertawa, dan menangis): penyanyi itu merdu — nya; 2 bunyi binatang, alat perkakas, dan sebagainya: kedengaran — harimau mengaum; — pesawat radio ini agak sember; 3 ucapan (perkataan): hanya — saja, tidak ada buktinya; 4 bunyi bahasa (bunyi ujar): fonem /w/ dalam bahasa Belanda tidak sama — nya dengan fonem /w/ dalam bahasa Indonesia; 5 sesuatu yang dianggap sebagai perkataan (untuk melahirkan pikiran, perasaan, dan sebagainya): majalah ini merupakan — kaum buruh, bukan — suatu partai; 6 ki pendapat: dalam rapat itu — saya tidak diindahkan sama sekali; 7 ki pernyataan (setuju atau tidak): usulnya diterima dengan — bulat, semuanya setuju; tidak satu pun yang memberi –; 8 ki dukungan (dalam pemilihan): banyak anggota memberi — kepada orang itu; ia kalah — dalam pemilihan calon ketua;

Merujuk pada penjelasan makna kata “suara” dalam KBBI (2008) di atas, maka kita akan bisa menemukan satu arti kata suara yang berkaitan dengan frasa “pemungutan suara,” misalnya pendapat ataupun perkataan.      Dan masih mengacu pada perpaduan dua kata tersebut, kita pun bisa mengkategorikan frasa tersebut dengan nama ‘sinestesia.’

Apa itu Sinestesia?

Pertanyaan yang bakal muncul selanjutnya adalah; apa itu sinestesia?     Jika mengamati dan menelaah bahasa Indonesia, bisa terjadi banyak arti-kata dari satu kata yang kesemuanya itu adalah akibat adanya pergeseran makna. Dan pergeseran yang terjadi akibat perpaduan makna –sebagaimana kata “pemungutan suara” di atas– itu masuk dalam jenis sinestesia.

Mengacu pada pendapat Abdul Chaer yang tercatat dalam Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (2002), sinestesia memiliki definisi sebagai ungkapan penggabungan tanggapan indera manusia yang satu dengan indra yang lainnya. Selain pemungutan suara, ada banyak contohnya; janji manis, hangat kuku, perang dingin. Semuanya memiliki talian dengan kepekaan indera manusia, bukan?    Nah, dari penggabungan kata itu, kemudian muncullah satu anggapan terdapatnya sifat sama pada sesuatu hal, yang berikutnya juga akan memunculkan makna baru darinya.    Ini bisa terjadi tentu tak bisa lepas dari kesepakatan-pemahaman dari banyak pihak. Entah karena memang karena acap dipublikasikan oleh media, ataupun diucapkan oleh banyak manusia lang.

Jadi dalam pemahaman kata pun kita akan bisa memahami kalimat yang diucapkan Jozef Goebbels (Menteri Propaganda Nazi) pada zaman Hitler, bukan? Bahwa “Kebenaran adalah kebohongan yang diucapkan berulang-ulang!”  Mau tahu buktinya? Coba cari tahu makna “anarki, anarkis, anarkisme” yang sejatinya jauh dari tindakan pengrusakan dan kekerasan sebagaimana banyak orang pahami saat ini. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Wisata bahasa: ‘Pemungutan Suara’, Iyan Sopian -Koran cetak Pikiran Rakyat hal. 23, 29 November 2015
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, 2 Desember 2015

Berbagi dan Diskusi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY