Bagaimana Cara Menguji Beras Layak Konsumsi?

1
1885

Beras telah menjadi bahan makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal ini menciptakan peluang ekonomi besar dari produksi, distribusi hingga penjualannya. Beras pun menjadi komoditas yang diperebutkan dalam persaingan pasar, hingga kadang memunculkan persaingan yang tidak sehat.

Persaingan yang tidak sehat sering kali menggiring petani, distributor hingga penjual beras melakukan hal yang tidak semestinya. Misalnya, kualitas beras yang kurang baik diperbarui dengan cara yang tidak sehat agar menjadi lebih putih dan wangi dengan menggunakan bahan kimia. Hal ini dilakukan untuk menarik minat konsumen yang akan menjadikan beras laris manis di pasaran.

Pada tingkatan distributor dan penjual beras, ada cara lain yang biasa dilakukan agar beras terlihat lebih bersih dan putih. Caranya dengan menggiling beras berulang kali agar kulit ari yang berwarna kekuningan terkikis. Namun hal ini sebenarnya sangat merugikan, karena kulit ari yang terkikis akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kadar protein dan vitamin yang terkandung pada beras.

Beras bersih, putih dan wangi yang kita beli di pasaran belum tentu adalah beras yang sehat dan layak untuk dikonsumsi. Lalu bagaimana cara mengenali beras yang kita beli di pasaran adalah beras yang sehat dan layak konsumsi?

Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian, ada dua cara pengujian yang bisa dilakukan untuk mengetahui beras dalam keadaan layak untuk dikonsumsi.

Pengujian Sederhana

Pengujian sederhana bisa dilakukan dengan mengamati secara inderawi. Silakan ambil beberapa atau segenggam contoh beras ( ± 100 gr), untuk selanjutnya dapat ditentukan :

  • Penentuan Warna

Penentuan warna beras dilakukan secara sederhana dan cepat dengan indera penglihatan. Ditandai dengan warna dan kilap beras normal, putih normal untuk beras giling sempurna dan merah kecokelatan sampai hitam untuk beras berpigmen merah atau hitam. Bentuk beras harus utuh. Apabila sudah banyak yang patah, hancur dan banyak remah (menepung) menempel di telapak tangan, menunjukkan bahwa beras telah disimpan dalam waktu yang lama dan sebaiknya tidak dikonsumsi.

  • Penentuan Tekstur

Penentuan tekstur beras dilakukan dengan indera perasa (kinestetik). Tekstur beras yang baik adalah masih keras, tidak mudah patah. Beras yang baik masih terasa khas beras. Apabila sudah mulai terasa pahit maka beras tersebut sudah terindikasi tidak layak konsumsi.

  • Penentuan Aroma

Penentuan adanya bau apek, asam, tengik atau bau lainnya dilakukan dengan indera penciuman yang ditandai bau yang khas.

  • Penentuan Terkontaminasi

Penentuan adanya bekatul, dedak atau campuran benda asing lainnya ( kerikil, logam, tangkai padi) dilakukan dengan pengamatan visual.

  • Penentuan Hama

Penentuan adanya hama dan penyakit dilakukan secara visual dan cepat dengan indera penglihatan. Ditandai adanya hama hidup/bagian tubuh hama yang mati atau adanya busuk kering oleh jamur dan busuk basah oleh bakteri. Bila dicurigai beras menunjukkan tanda-tanda adanya hama dan penyakit yang berbahaya dilakukan analisis secara laboratorium

  • Penentuan Bahan Kimia

Penentuan adanya bahan kimia yang membahayakan dan merugikan konsumen dilakukan secara visual dan cepat menggunakan indera penciuman yang ditandai bau bahan kimia. Bila dicurigai beras menunjukkan tanda-tanda adanya bahan kimia yang berbahaya dilakukan analisis secara laboratorium.

Pengujian Skala Laboratorium

Pengujian dengan skala laboratorium dapat dilakukan untuk menentukan apakah beras tersebut layak konsumsi apabila dilihat dari segi kimiawi, yaitu untuk penentuan adanya cemaran kimia, toksin, pestisida dan logam berat).

Identifikasi beras yang mengandung zat pemutih, pelicin, atau pewangi dapat dilakukan dengan menggunakan indra sensori. Berikut cara identifikasi sederhana menurut Prof. Dr. Ir. Tien R. Muchtadi, MS (Guru Besar Institut Pertanian Bogor) :

1. Tampilan fisik beras sangat prima.

2. Beras yang tidak mirip pandan wangi secara fisik, namun mengeluarkan aroma layaknya beras pandan wangi, maka beras tersebut dipastikan mengandung zat pewangi.  Beras pandan wangi memiliki struktur fisik bulat dan tidak lonjong.

3. Beras dengan kandungan zat pelicin biasanya akan licin ketika diremas, namun pada tangan akan banyak sekali beras yang menempel.

4. Jika putihnya terlalu putih dan tidak ada warna alami beras sama sekali (bening kekuningan), maka beras tersebut diduga mengandung zat pemutih, jika diraba, beras ini terasa sangat licin di telapak tangan.

5. Beras yang mengandung pemutih akan mengeluarkan bau yang tidak lazim seperti bau bahan kimia atau parfum, dan setelah disimpan selama beberapa hari, beras justru akan mengeluarkan bau yang kurang sedap dan saat dikonsumsi akan berasa sedikit asam.  Pada saat dicuci pun, airnya tidak akan mengeluarkan warna keruh.

6. Butiran beras yang mengandung klorin berwarna pekat dan tidak terlihat bening.

7. Setelah dimasak, beras yang mengandung klorin tidak akan seputih semula dan ketika dikonsumsi rasanya kurang enak.

Identifikasi beras yang mengandung residu pestisida dan logam berat di atas ambang batas tidak dapat dilakukan dengan inderawi saja, melainkan diperlukan analisis laboratorium untuk menentukan jumlah kandungan residu pestisida dan logam berat di dalam beras.

Analisis residu pestisida dilakukan menggunakan HPLC (High-Performance Liquid Chromatography). Prinsip kerja HPLC adalah pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan kepolarannya. HPLC terdiri dari kolom sebagai fasa diam dan larutan tertentu sebagai fasa gerak.

Campuran senyawa yang dianalisis akan terpisah berdasarkan kepolarannya dan kecepatannya untuk sampai ke detektor sehingga memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk analisis residu pestisida digunakan larutan standar sebagai pembanding yang jenisnya tergantung pada residu pestisida yang ingin diketahui.

Sebagai konsumen, tentu kita menginginkan beras yang kita beli untuk dikonsumsi adalah beras yang sehat dan layak konsumsi. Pengujian sederhana bisa dilakukan untuk memastikannya dan jangan mudah tergiur pada beras yang bersih, putih dan wangi tanpa kita mengujinya terlebih dahulu.

Sumber Rujukan:
[1] Informasi ini diambil dari badan publik yang merupakan informasi publik sebagaimana diatur dalam undang-undang hak cipta. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian diakses pada 3 februari 2016.
[2] Gambar ilustrasi : Pixabay.com diakses pada 3 februari 2016

Berbagi dan Diskusi

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here