Wiechelroed; Batang Kayu untuk Menentukan Sumber Air dalam Tanah

0
1709
Wiechelroed; Batang Kayu Penentu Sumber Air dalam Tanah

WIECHELROED mungkin akan sangat asing bagi telinga dari kebanyakan orang. Akan tetapi hal itu akan menjadi sedikit berbeda bagi mereka –khususnya para orang tua– yang pernah tinggal dan menetap di wilayah Banyumas, Jawa Tengah.      Wiechelroede adalah istilah populer yang dikenal pada tahun 60-an (1960), yaitu satu batang peramal yang berasal dari sebuah kayu dan memiliki bentuk menyerupai huruf Y.

Lalu apa saja yang diramal dengan batang peramal itu?

Mencari Urat Air

Batang peramal ini oleh masyarakat masa 60-an yang lalu biasanya dimanfaatkan jasanya guna mencari urat air, agar diketahui lokasi yang tepat dan layak digali sebagai calon sumur.

[Baca juga: Andre Graff: Warga Prancis, Tukang Gali Sumur di Tanah Sumba]

Dikatakan populer pada tahun 1960an pasalnya harian Kompas sebagai media yang telah ada sejak zaman dahulu sempat memberitakan mengenai batang peramal itu. Yaitu terbit pada edisi 14 Februari 1966, dengan judul artikel ‘Wiechelroede’ Makin Populer”.Dua paragraf bawah ini  adalah teks aslinya;

“Usaha mentjari sumber mata air/uratair (water-ader) di dalam tanah dengan menggunakan “Wiechelroede”, dewasa ini makin populer didaerah Banjumas dan sekitarnja. Pentjarian uratair/mataair ini dimaksud untuk menentukan tempat jang akan digali untuk dibuat sumur. 

Dan ditempat jang telah diketemukan itu, didalamnja terdapat urat air (water-ader), dan bila digali dan dibuat sumur biasanja tidak akan kering pabila musim kemarau telah tiba.”

Ritual

Mengenai sumber asli kegiatan menentukan air dengan batang kayu ini belum diketahui, padahal hal ini sejatinya telah dikenal oleh banyak masyarakat barat dengan istilah dowsing. Akan tetapi jika menilik bahasanya, teknik ini juga dibawa oleh bangsa Belanda, pasalnya “wiechelroede” ini adalah istilah berbahasa Belanda yang artinya sama dengan dowsing juga.

Di desa-desa wilayah Banyumas dan sekitarnya, peramal air yang biasanya  memanfaatkan batang kayu berbentuk “Y” itu adalah juga salah seorang yang dituakan dikampungnya. Sehingga sebuah ritual pun tak lupa digelar sebelum melaksanakan tugasnya. Karena dengan ritual dan memanfaatkan batang berbentuk “Y” itu sang peramal yakin bahwa nantinya akan bisa mendeteksi gelombang air di bawah tanah.

[Baca juga: Brokohan: Ritual Syukuran Atas Bertambahnya Rezeki “Rajakaya”]

Wiechelroede untuk Menentukan Mineral

Mengacu pada kamus online Oxford Dictionaries, dowsing merupakan satu teknik mencari air di bawah permukaan tanah, mineral, ataupun sesuatu yang tak nampak oleh mata. Yaitu dengan cara melihat berubahnya pergerakan dari sebuah pendulum, atau bisa pula dengan mencermati pergerakan dari penunjuk, di mana penunjuk itu biasa diwakili oleh batang berbentuk “Y” ataupun “L”, atau bisa pula dengan kawat yang dibengkokkan.

Wiechelroede atau dowsing ini sejatinya sudah diterapkan dari abad ke-13, yaitu untuk menentukan kehendak dewa, memprediksi masa depan, dan bahkan menunjuk yang bersalah di pengadilan.   Namun seiring perkembangan zaman, dua abad berikutnya, yaitu pada abad ke-15, bangsa Jerman menerapkannya untuk menemukan bijih mineral.    Hal ini adalah penerapan pertama kali pada seluruh kegiatan penambang di Jerman pada saat itu.     Selain itu masih di Jerman pula, batang peramal ini dimanfaatkan untuk menentukan radiasi bumi serta ranjau. Sedangkan penerapan guna menentukan urat air di bawah tanah dilakukan oleh orang-orang Inggris.

Menentukan Vonis dan Keberuntungan

Jika oleh masyarakat barat, pada waktu itu batang kayu bentuk Y itu digunakan untuk dipercaya sebagai petunjuk dewa, maka pada tahun 1659 Jesuit Gaspar Schott menganggap hal itu sebagai pekerjaan setan. Begitu pula pada perekmbangannya, yaitu tahun 1701, penggunaan batang peramal ditolak sebagai alat untuk menentukan vonis di pengadilan.

Pun yang terjadi di negeri Cina, mereka ternyata juga memanfaatkan batang peramal dalam kaitannya menentukan fengshui sebuah rumah. Yaitu dengan memanfaatkan batang peramal untuk menentukan gangguan yang muncul dari tanah agar bisa dihindari.

Jika dinalar, mungkin hal-hal yang terpaparkan di atas ada hubungannya dengan aktivitas gelombang listrik ataupun medan magnet serta radiasi elektromagnetik. Akan tetapi secara ilmiah, teknik batang peramal ini masih dianggap belum teruji. [uth]

Rujukan:
[1] “Wiechelroede”, Batang Peramal Urat Air yang Pernah Populer di Banyumas 50 Tahun Lalu; Koran Kompas 14 Februari 2016
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 16 Februari 2016

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here