Fotografer Kuliner itu Seharusnya Tak Hanya Fokus pada Makanan

0
961
Tahukah Kamu, Fotografer Kuliner itu Tak Melulu Hanya Fokus pada Makanannya

Jika membicarakan tentang fotografi kita akan mengetahui banyak kategori yang menjadi ketertarikan banyak orang, di antaranya adalah fotografi dengan kategori human interest, photo product, nature, dan masih banyak lagi. Dan dari satu kategori saja, masih bisa dibagi lagi. Misalnya kategori photo product bukan saja hanya tentang kuliner.

Nah, mengenai fotografi makanan, tahukah Anda bahwa sejatinya dengan memahami fotografi makanan maka sudah selayaknya kita juga bisa menjelajahi dan merayakan budaya, sejarah dan kehidupan masyarakat? Di bawah ini adalah alasan-alasannya.

Memahami Kebiasaan Masyarakat

Bentuk jajanan kaki lima yang bisa kita temukan di berbagai tempat, bahkan berbagai negeri, acap kali menyuguhkan kesempatan bagi kita untuk menggambarkan daya tarik kuliner setempat dan juga kebiasaan masyarakat setempat.

[Baca juga: Memahami Konsep Aperture atau Bukaan Lensa pada Fotografi]

Dengan memahami kebiasaan itu, maka cobalah kreatif sedikit dengan menata ulang jajanan kaki lima yang kesannya berantakan agar nampak menawan di kamera. Bukan cuma sekedar diletakkan jenis makanannya di atas piring lantas dijepret, tetapi selain menatanya, usahakanlah juga untuk membubuhkan aneka bahan yang masih khas masyarakat setempat. Artinya, ada hal yang bisa diingat bahwa tujuan memotret makanan adalah agar mereka yang melihat hasil jepretan foto bisa kepengin bahkan sampai ngiler.

Mengenal Bahan Makanan

Masih banyak yang tak melihat dan mengamati tentang bahan-bahan dari sebuah makanan, bahkan termasuk mereka yang berprofesi sebagai fotografer kuliner. Tak sedikit dari mereka hanya mengamati dan membayangkan produk akhir di piring atau juga orang yang sedang menyantapnya. Padahal jika mau mengenali bahan-bahan makanan yang ia foto, ada kemungkinan ia akan mengetahui asal-muasal, sejarah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Antropolog Makanan

Sebagaimana pada keterangan sebelumnya, fotografer makanan seharusnya tak melulu hanya memelajari mengenai sajian yang hendak dibidik, namun sudah selayaknya ia juga mengamati segala sesuatu yang berkaitan dengannya, sebagai contoh adalah adegan, momen, kisah, hubungan, dan tempat. Menjelajahi mengenai keterkaitan antara bmanusia dengan satu makanan, adakah medium pun cerita lain yang mampu membuat keduanya bisa saling terhubung?

Jika sang fotografer sudah berlaku seperti itu, artinya secara tidak langsung ia sudah menjadi seorang antropolog makanan secara visual. Dan bukan tidak mungkin hasil foto yang dijepret akan sangat menarik karena telah memahami keterkaitan keduanya.

[Baca juga: Mengenal Fungsi ISO dan Cara Menggunakannya dalam Fotografi]

Tangkap Sebuah Momen

Silakan memerhatikan dengan jeli bukan saja tentang obyek/subyek makanannya, akan tetapi juga termasuk peristiwa yang menyertai, utamanya yang berhubungan dengan budaya. Ada banyak contoh-contoh momen ataupun peristiwa yang sering secara tak sengaja hadir, salah satunya adalah kilasan warna-warni cahaya.

Mengenali Tempat

Adakalanya butuh keberanian lebih untuk menjelajahi tempat di seputar makanan berada, tak melulu hanya di atas meja saji saja. Maka tiada salah jika seorang fotografer makanan juga sesekali menengok semua lokasi, misalnya tempat tempat yang tak banyak dikunjungi orang banyak, yaitu dapur. Dengan mengamati area dapur, tak eplak akan nampak pula proses di balik layar dalam memproduksi jenis kuliner.

Sampaikan Sebuah Cerita

Saat membuat foto lanskap produk kuliner, sila pikirkan pula mengenai cerita. Misalnya dengan menempatkanbahan-bahan kuliner itu di meja, kemudian mengatur sendok bekas makanan agar terlihat ada kesan gerakan, atau bisa pula menaburkan remah-remah makanan guna menyuguhkan emosi yang ada.

[Baca juga: Tips Membuat Tahan Lama Beberapa Makanan]

Tetap Jaga Elemen Utama

Angel ataupun sudut pandang merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari fotografi. Namun seyogyanya usahakan untuk tetap menjaga makanan yang hendak ditonjolkan sebagai elemen utama sebuah gambar. Artinya, jangan mudah tergoda dengan elemen-elemen sekunder yang adakalanya juga terlihat lebih menarik.

Hal itu tetap berlaku meskipun dalam mengeksplorasi gambar menggunakan banyak sudut pandang yang berbeda. Karenanya, usahakan untuk selalu berhati-hati dalam menambahkan elemen apa pun apalagi ia berkemungkinan bisa menyaingi, mengungguli, dan bahkan mengganggu subyek utama. [uth]

Sumber Rujukan:
[1] Sisi Lain Fotografi Makanan; nationalgeographic.co.id, diakses pada 9 September 2016
[2] Gambar ilustrasi; pixabay.com, diakses pada 9 September 2016

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here