Jauhkan Anak dari Pelecehan Seksual Pengidap Pedofilia

0
1017
Mendidik EQ Anak Sama Pentingnya dengan Mendidik IQ-nya
Mendidik EQ Anak Sama Pentingnya dengan Mendidik IQ-nya

Kejahatan seksual dapat menimpa siapa, kapan dan di mana saja. Korban kejahatan satu ini juga tidak sebatas pada usia atau jenis kelamin tertentu. Perempuan dan laki-laki, usia muda dan usia tua kesemuanya tetap berpeluang menjadi korban kejahatan seksual. Kejahatan seksual pun tidak semata dilakukan oleh orang dewasa. Mengacu pada pemberitaan media masa akhir-akhir ini, pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak usia sekolah menengah pertama (SMP) pun cukup marak.

Kejahatan sesksual terhadap anak merupakan gejala kelainan seksual. Kejahatan ini dapat dilakukan oleh remaja maupun orang dewasa. Pedofilia adalah sebutan umum bagi tindakan seksual yang orientasinya terarah pada anak di bawah umur. Pedofilia bukan semata kelainan orientasi seksual melainkan kelainan kejiwaan. Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorder mengklasifikasikan pedofilia sebagai salah satu bentuk dari parafilia. Parafilia adalah dorongan imajinasi dan praktek seksual yang kuat dan menghadirkan ancaman bagi orang lain. Parafilia sendiri terdiri dari beberapa gejala gangguan kejiwaan yang terkait aktivitas seks, yaitu pedofilia, sadisme seksual, masokisme, veyourisme, eksibisionisme [1] [2]. Pedofilia adalah salah satu kelainan seksual yang sering terjadi. 

Pedofilia adalah kelainan jiwa yang dialami oleh orang usia di atas 16 tahun, laki-laki maupun perempuan. Orientasi seksual pengidap penyakit jiwa ini terarah pada anak pra-pubertas (maksimal berusia 13 tahun). Kecenderungan pedofilia ditandai dengan fantasi dan impuls seksual terhadap anak. Penyakit ini sering merupakan implikasi dari ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan seksual dengan sesama orang dewasa.

Terbongkarnya kejahatan seksual yang dilakukan oleh pengidap pedofilia di Jakarta International School (JIS) yang sempat mencuat ke publik menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orangtua [3]. Kekhawatiran ini perlu dan wajar sebagai bagian kepedulian orangtua untuk menjaga anak agar tidak menjadi korban kejahatan seksual. Upaya pencegahan perlu dilakukan oleh orangtua agar anak tidak terjerumus menjadi salah satu korban kejahatan seksual ini. Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual.

Perkenalkan Anak Fungsi Organ Kelamin

Orangtua sedini mungkin sudah mengajarkan kepada anak tentang fungsi organ seksual atau alat kelamin. Pendidikan seks sudah saatnya diberikan secara terbuka kepada anak. Anak mulai diajarkan untuk bertanggungjawab menjaga alat kelamin tersebut dari orang lain. Tegaskan bahwa alat kelamin adalah hal yang pribadi (privasi) bagi siapa pun. Jika memungkinkan, gunakan istilah asli untuk menjelaskan nama organ kelamin: vagina untuk perempuan dan penis untuk laki-laki. Anak perlu memahami bahwa tidak seorang pun diizinkan melihat dan menyentuh organ tersebut. Anak perlu mengetahui bahwa hanya sedikit orang yang boleh melihatnya untuk kepentingan tertentu, seperti orangtua saat memandikan atau dokter saat memeriksa dan megobati.

Ajarkan Anak membedakan Jenis Sentuhan Orang lain

Saat berinteraksi dengan orang lain, persentuhan fisik nyaris tidak bisa dihindari. Orantua perlu mengajarkan anak tentang beberapa jenis sentuhan. Anak perlu tahu mana yang boleh dan tidak. Sentuhan dari orang lain yang umum, seperti menepuk bahu dan jabat tangan adalah hal umum. Sentuhan ini masuk dalam ketegori aman. Sentuhan di kepala dan pipi hanya boleh dilakukan oleh orang terdekat atau keluarga, seperti orangtua dan keluarga. Sentuhan yang harus diwaspadai adalah sentuhan di wilayah antara bahu dan lutuh. Anak mulai harus diajarkan untuk waspada pada sentuhan orang lain pada bagian ini. Sentuhan yang terlarang menyasar bagian yang tertutupi pakaian. Anak perlu diajarkan untuk memberitahu orangtua apabila terdapat orang lain yang menyentuh bagian tersebut, apalagi jika disertai dengan ancaman. Anak juga perlu diajari untuk menolak secara tegas dan keras, seperti dengan berteriak.

Bersikap Hati-hati terhadap Orang Lain, terutama Orang Asing

Anak perlu mengetahui dengan siapa dia dapat berinteraksi, terutama dengan orang dewasa. Kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila anak sedang tidak dalam pengawasan orangtua, seperti di sekolah dan jalan. Mereka perlu tahu untuk tidak mudah percaya ajakan orang lain, selain keluarga. Bahkan, ajakan dari tetangga juga perlu atas seizin orangtua. Anak perlu pula memahami bahwa mereka tidak boleh mudah tergiur dengan iming-iming hadiah, seperti permen dan uang jajan dari orang lain. Mereka perlu tahu bahwa hal itu adalah salah satu cara orang jahat untuk merayu mereka.

 

Sumber Rujukan

[1]. DSM edisi kelima. DSM Online, diakses pada 17 Agutus 2014.

[2] Pedofilia Ancam Tumbuh Kembang Anak. Okezone, Diakses pada 17 Agustus 2014.

[3] Guru JIS menjadi tersangka kasus pelecehan seksual terhadap anak. Kompas.com 12 Agustus 2014, diakses pada 17 Agustus 2014.

[4] Ilustrasi Gambar, Anak bermain dengan Anjing. Gambar berlisensi CC0. Pixabay.com.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here