Mengenal Macan Kumbang Penghuni Pulau Nusakambangan

0
102
Macan Kumbang di Pulau Nusakambangan. (Dok. BKSDA Jawa Tengah wilayah Konservasi II)

Pulau Nusakambangan, pulau yang terletak di wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini, bukan pulau yang asing bagi masyarakat Indonesia ketika mendengar namanya. Bagi sebagian orang, mungkin akan berpikir tentang pulau penjara yang menyeramkan, atau justru sebaliknya, Nusakambangan sebagai pulau yang eksotis dengan keberagaman destinasi wisatanya.

Pulau Nusakambangan memang menjadi pulau penjara yang terisolasi. Narapidana narkoba dan terorisme menjadi penghuni di penjara khusus pulau ini. Sedikitnya ada enam Lembaga Permasyarakatan (LP) dengan pengamanan khusus dan sudah berumur seratusan tahun berada di Pulau Nusakambangan.

Pulau yang dimiliki oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia ini, memiliki luas mencapai 121 kilometer persegi. Sebagian digunakan untuk Lembaga Permasyarakatan dan infrastruktur pendukung, sebagian lagi dibuka untuk wisata di sisi pulau timur.

Secara geografis, bagian utara Pulau Nusakambangan menghadap Cilacap dan terdapat perkampungan nelayan serta hutan bakau yang luas. Sedangkan di bagian selatan terdapat banyak karang dan menghadap langsung dengan Samudera Hindia. Pada sisi barat terdapat pantai eksotis berpasir putih, begitu juga di sisi timur yang merupakan hutan dan pantai, yakni Pantai Pasir Putih, Pantai Karang Pandan dan Benteng Karang Bolong.

Baca : [ Nusakambangan : Pulau Penjara yang Memiliki Potensi Wisata Tersembunyi ]

Keberadaan Macan Kumbang di Nusakambangan

Pulau Nusakambangan, nyatanya bukan hanya menjadi pulau penjara dan memiliki destinasi wisata yang menarik. Beragam satwa liar juga menjadi penghuni Pulau Nusakambangan. Satwa-satwa ini seperti buaya muara, ular piton, macan tutul (Panthera pardus) dan macan kumbang atau macan tutul Jawa (Panthera pardus melas). Beragam satwa liar ini menghuni hutan lindung dan menjadi penjaga alamiah Pulau Nusakambangan.

Menurut data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah wilayah Konservasi II, pada Oktober 2017, keberadaan macan tutul di Pulau Nusakambangan terdeteksi berjumlah 18 ekor. Dari 18 ekor ini, 12 di antaranya adalah jenis macan tutul (Panthera pardus). Sedangkan enam lainnya berjenis macan kumbang atau macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Data ini diperoleh dari hasil pemasangan kamera pengintai (trap camera) di sejumlah lokasi Pulau Nusakambangan. Namun pemasangan kamera pengintai ini tidak menangkap gambar keberadaan anak macan tutul.

Keberadaan beragam satwa seperti biawak, kera, babi hutan dan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, ular dan kancil yang merupakan makanan alamiah bagi macan tutul dan macan kumbang, menjadi pendukung keberlangsungan hidup macan tutul dan macan kumbang di Pulau Nusakambangan.

Mengenal Macan Kumbang

Macan kumbang atau macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), merupakan jenis macan yang memiliki tubuh berukuran paling kecil jika dibandingkan dengan jenis macan lainnya. Macan kumbang adalah subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa seperti di Pulau Nusakambangan.

Macan kumbang dikenal sebagai satwa yang soliter, yakni satwa yang hidup menyendiri atau berpasang-pasangan, tidak dengan berkelompok, kecuali pada musim berbiak. Macan kumbang lebih aktif berburu mangsa pada malam hari, karena itu tidak heran jika hasil tangkapan gambar kamera pengintai (trap camera) dari sejumlah pihak menangkap gambar macan kumbang pada situasi malam hari. Sebagai satwa yang aktif pada malam hari, macan kumbang memiliki indra penglihatan dan penciuman yang tajam.

Macan kumbang, umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengkilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam macan kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan kumbang betina memiliki ciri yang serupa, namun berukuran lebih kecil dari macan kumbang jantan.

Keberadaan macan kumbang dan beragam satwa liar yang menjadi pendukung keberlangsungan hidupnya di Pulau Nusakambangan, merupakan alasan penting bagi sejumlah pihak yang terus mengampanyekan pelestarian alam Pulau Nusakambangan. Nusakambangan adalah salah satu hutan lindung penting di kepulauan Jawa dan berfungsi sebagai benteng dari kemungkinan bencana tsunami. Seperti yang pernah terjadi pada tahun 2006, saat itu Kota Cilacap tak terdampak tsunami lantaran keberadaan pulau ini.

Sumber rujukan:

[1] Data dan foto Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah wilayah Konservasi II

[2] Macan tutul jawa id.wikipedia.org , diakses pada 31 Juli 2018

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here