Lengger Lanang : Seni Lintas Gender yang Berkembang di Banyumas

0
297
foto dokumentasi Purwokertokita.com

Kesenian lengger menjadi salah satu kesenian khas yang berkembang di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sempat dilarang pada masa Orde Baru, lengger bertahan hingga saat ini dan bahkan telah berkembang sampai ke luar negeri.

Sederet nama seperti Rianto dan Otniel Tasman, merupakan aktor yang berperan penting dalam mengangkat pamor lengger sampai ke luar negeri. Rianto menjadi dosen tari dan membentuk komunitas lengger di Jepang, sementara Otniel Tasman memilih tinggal di Solo dan sering pentas di luar negeri.

Pada masa lalu, penari lengger identik dengan laki-laki yang berdandan sebagai sosok perempuan. Lengger merupakan seni lintas gender yang menjadi ritus sakral yang kemudian berkembang di tengah para petani yang memuja Dewi Kesuburan.

Mengenal Lengger Lanang Banyumas

Lengger, dalam katalog Seni Budaya Banyumas yang diterbitkan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas tahun 2015 menyebutkan, istilah ini diambil dari kata “diarani leng jebule jengger”. Leng dalam bahasa Jawa memiliki arti lubang, merujuk pada simbol kelamin perempuan, sementara jengger atau mahkota kepala ayam jantan merupakan simbol lelaki. Lengger memiliki arti “dikira perempuan ternyata laki-laki”.

Dalam beberapa versi cerita, istilah lengger muncul setelah Orde Baru memberangus pertunjukan ronggeng lantaran adanya stigma negatif, yaitu tari erotis yang ditampilkan perempuan. Hal ini dianggap sebagai prostitusi terselubung. Kebijakan penguasa ini membuat istilah lengger dipakai sebagai sebutan penari tanpa memandang jenis kelamin laki-laki atau perempuan hingga saat ini. Sebagai pembeda, pelaku kesenian lengger menghidupkan istilah baru “Lengger Lanang”. Namun sampai saat ini, masih terjadi simpang siur membedakan istilah lengger dan ronggeng.

Versi lainnya, kesenian lintas gender ini sudah ada sejak masa Majapahit. Dalam Serat Centhini, Jilid V pupuh 321-356, karya Adipati Anom (1814-1823), dikisahkan tentang sosok Nurwitri, seorang tledhek (penari wanita) di Wirasaba (sekarang masuk wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah) yang membuat Mas Cebolang mabuk kepayang. Dalam pengaruh minuman keras, mereka saling memadu kasih.

Baca : [ Jathilan : Seni Pertunjukan yang Menyajikan Cerita Sejarah ]

Lengger Lanang dan Budaya Masyarakat Agraris

Menurut budayawan Banyumas, Ahmad Tohari dalam sejumlah tulisan di media massa menyebutkan, lengger merupakan tradisi masyarakat Banyumas yang agraris. Lengger juga digunakan sebagai simbol Dewi Kesuburan. Hal ini juga tercatat oleh Stamford Raffles dalam bukunya History of Java yang diterbitkan pertama kali tahun 1817.

Kearifan lokal masyarakat agraris di wilayah Kabupaten Banyumas telah melahirkan lengger sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakatnya. Pada awalnya, lengger adalah sebuah ritus yang sakral yang kemudian berkembang di tengah para petani yang memuja Dewi Kesuburan.

Para petani biasa menggelar pertunjukan lengger saat musim panen. Bagi masyarakat Banyumas, lengger lanang tidak hanya berfungsi sebagai simbol kesuburan. Lengger lanang merupakan potret dari sisi kelembutan dan feminitas budaya masyarakat.

Baca : [ Dongkrek : Kesenian Asli Daerah Madiun ]

Dariah, Maestro Lengger Lanang Banyumas

Kabupaten Banyumas patut berbangga memiliki sosok Dariah, Maestro Lengger Lanang yang memiliki nama asli Sadam. Perjalanan Dariah atau Sadam sebagai lengger dimulai sejak kecil. Sadam yang lahir di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, gemar berlenggak-lenggok seperti penari dan suka nyindhen atau menyanyikan tembang-tembang Jawa.

Sebelum menjadi penari lengger, Dariah kecil merasa seperti kerasukan indhang lengger. Seperti dituntun oleh alam bawah sadar, dia pergi dari rumah menuju Panembahan Ronggeng, Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Di tempat inilah, Dariah mendapatkan wangsit untuk menjadi lengger. Semenjak itu, Dariah kerap tampil dari desa ke desa, panggung ke panggung.

Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat pertunjukan lengger dilarang, Dariah memilih menjadi perias pengantin atau sering disebut “Dukun Manten”. Baru sekitar tahun 2000, dia kembali aktif sebagai lengger di Sanggar Banyu Biru, Desa Plana, Kecamatan Somagede, Banyumas.

Di usianya yang ke 91 tahun, Presiden Republik Indonesia ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Namun, Sang Maestro Lengger Lanang Banyumas ini telah tutup usia pada 12 Februari 2018 lalu.

Kini, sepeninggal Sang Maestro, para pelaku kesenian lintas gender di Banyumas ini tetap bertahan menghidupkan kesenian lengger.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here