Mengenal Soetedja, Komponis Legendaris Pelopor Musik Modern Indonesia

0
83
Foto Raden Soetedja. ( banyumascekakakan.blogspot.com )

Memiliki nama lengkap Raden Soetedja Purwodibroto, pria kelahiran Banyumas 15 Oktober 1909 ini merupakan komponis legendaris yang menjadi pelopor musik modern di Indonesia. Latar belakang Soetedja yang mengenyam pendidikan pada Conservatory of Music di Kota Roma, Italia, memengaruhi karakter musiknya. Komponis ini menghadirkan warna musik modern di Indonesia.

Sebagai komponis, Soetedja dikenal sebagai sosok yang romantis. Lirik dan aransemennya mampu meluluhkan hati setiap orang yang mendengar. Sederet lagu seperti Di Tepinya Sungai Serayu, Kopral Jono, Juwita Malam, Tidurlah Intan, Hamba Menyanyi dan Bunga Anggrek, adalah lagu-lagu yang tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia pada era 1950 an. Namun untuk lagu Kopral Jono dan Juwita Malam, masih menjadi perdebatan lantaran sejumlah referensi menyatakan lagu itu adalah ciptaan Ismail Marzuki.

Sebagian besar tembang gubahan Soetedja diciptakan semasa berada di Jakarta. Selepas perpindahan kantor pusat RRI dari Purwokerto ke Jakarta paska pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Soetedja yang menjabat Direktur Musik, turut boyongan ke Ibukota. Soetedja membentuk grup musik orkes Melati yang biasa tampil di RRI Jakarta. Kadangkala, tampil di sebuah club bernama Wisma Nusantara di pojok Istana Negara yang sekarang bangunannya sudah masuk dalam wilayah Istana Negara.

Masa Kecil Raden Soetedja

Masa kecil Raden Soetedja memiliki kebiasaan yang cukup berisik, dia gemar memainkan peralatan batik seolah sedang menabuh alat musik. Siapa sangka, kebiasaan inilah yang membawanya menjadi komponis legendaris yang menjadi pelopor musik modern di Indonesia.

Menurut Sugeng Wiyono, keponakan Soetedja, bakat bermusik Soetedja sudah nampak sejak diasuh oleh kakak kandung ayah Soetedja, Purwodibroto, yang bernama Sumandar. Sumandar adalah seorang pengusaha perkebunan tebu dan batik di Purworejo Klampok, Banjarnegara.

Sumandar sangat menyayangi Soetedja sebagai putra angkatnya. Pasalnya, Sumandar tak memiliki anak lelaki. Tingkah laku Soetedja yang berisik sering menabuh peralatan seperti wajan dan panci yang digunakan untuk membatik, mengganggu para perajin batik dan membuat Sumandar pusing tujuh keliling. Akhirnya, dia memutuskan membeli biola untuk sang anak ketika sedang berdagang di Eropa.

Inilah yang membuat Soetedja kecil sudah mulai memainkan alat musik legendaris buatan tangan Antonio Stradivari. Dari biola berjuluk “The Messiah” itu mengalir lagu ciptaannya yang dikenang sepanjang masa. Pada usia 10 tahun, biola Stradivarius Paganini buatan tahun 1834 sudah akrab dengannya. Pemberian berikutnya adalah sebuah piano. Hadiah itu diberikan agar Soetedja tidak mengganggu aktivitas para perajin batik di pabrik Sumandar.

Selepas lulus dari Algemeene Middelbare School (AMS) -setingkat Sekolah Menengah Atas- di Bandung, Soetedja memilih untuk melanjutkan pendidikan di bidang musik. Sementara ayah angkatnya, Sumandar, memintanya untuk meneruskan pendidikan bidang hukum atau kedokteran, seperti lazimnya anak bangsawan pada masa itu.

Soetedja tetap keras kepala dengan pilihannya. Karena keinginan ayahandanya diabaiakan, Sumandar berpura-pura menggertak akan mengusir Soetedja jika tidak mau memenuhi keinginannya. Tapi ternyata Soetedja memilih minggat. Entah angin mana yang membawa Soetedja pergi menemui Sultan Hamid di Kutai Borneo atau kini Kalimantan. Selama di Kalimantan, Soetedja mengasuh anak-anak Sultan Hamid dan melatih mereka bermain musik. Kepergian Soetedja ke Kalimantan membuat Sumandar jatuh sakit. Soetedja kemudian dibujuk untuk pulang ke rumah dengan jaminan Soetedja tetap melanjutkan studi musik di Eropa.

Soetedja menurut untuk pulang. Saking senangnya atas kepulangan Soetedja, Sumandar mengajak putra kesayangannya itu menyusuri Sungai Serayu dengan perahu. Dia menunjukkan hamparan tebu seluas 150 hektar, dari Klampok Banjarnegara hingga Kecamatan Somagede, Banyumas, yang kelak menjadi modal untuk biaya studi di Eropa.

Sewaktu menyusuri Sungai Serayu itulah, Soetedja terinspirasi untuk membuat lagu. Ada dua lagu, yakni lagu berjudul Sungai Serayu dan Ditepinya Sungai Serayu.

Baca : [ Bundengan, Alat Musik Etnik yang Aneh dan Ajaib dari Wonosobo ]

Karir Bermusik Soetedja

Soetedja pernah menjabat sebagai Direktur Musik di RRI Purwokerto lalu pindah tugas ke RRI Jakarta. Dia juga diminta untuk menjabat Direktur Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia. Beberapa musikus beken pun pernah berguru kepada Soetedja. Beberapa nama mentereng, seperti Ismail Marzuki dan Bing Slamet yang menjadi vokalis pada masa itu juga pernah berguru kepada Soetedja.

Soetedja dikenal sebagai pendiri Orkes Studio Jakarta, yang merupakan orkes simphony pertama di Indonesia. Tapi sayang, Orkes Simphony Jakarta ditinggalkan, karena Soetedja diangkat sebagai Direktur Korps Musik Angkatan Udara. Sedangkan untuk mengisi acara-acara di RRI, Soetedja menggunakan Orkes Melati yang melantunkan irama musik barat yang dikeroncongkan.

Kegemilangan karier Soetedja terlihat ketika dia bersahabat dengan Suyoso Karsono, seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia. Suyoso merupakan pendiri label rekaman pertama di Indonesia, dia meminta Soetedja untuk memimpin korps musik di AURI.

Beberapa tahun kemudian, sekitar 1968, Gubernur Jakarta Ali Sadikin memberikan penghargaan kepada Soetedja di bidang kesenian bersama WR Supratman, Chairil Anwar, Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Waktu itu Hari Ulang Tahun Jakarta ke 441.

Komponis legendaris putra Banyumas itu wafat pada usia yang ke 51 tahun pada tanggal 12 April 1960. Setelah beberapa bulan sebelumnya memimpin rombongan misi kesenian Indonesia ke India. Soetedja meninggalkan seorang istri dan sembilan putra. Soetedja dimakamkan di pemakaman Karet Jakarta.

Sebagai pengingat bahwa Soetedja pernah memimpin misi kesenian Indonesia ke India, putra bungsunya yang lahir pada saat Soetedja berada di India diberi nama Krisno Indiarto.

Baca : [ Lengger Lanang : Seni Lintas Gender yang Berkembang di Banyumas ]

Karya-karya Soetedja

Sebenarnya, lagu hasil gubahan Soetedja cukup banyak. Namun sebagian besar repertoir karya Soetedja yang tersimpan di RRI Pusat Jakarta musnah, karena dilanda musibah kebakaran pada tahun 1950-an. Maka, banyak lagu gubahan Soetedja dalam bentuk partitur note balok ikut musnah terbakar.

Beruntung, gitaris Jack Lesmana alias Jack Lamers sempat meminjam beberapa partitur lagu-lagu gubahan Soetedja untuk direkam. Berkat Jack Lesmana, sekitar 70 lagu sempat terselamatkan. Tapi, ratusan lagu lainnya binasa. Nahasnya, justru partitur lagu-lagu lagendaris itulah yang ikut binasa. Di antaranya lagu-lagu yang populer di Eropa seperti Als d’Orchide Bluijen (Ketika Anggrek Berbunga). Lagu tersebut diciptakan di negeri Belanda ketika beliau berjalan-jalan dengan pacar noni belandanya ke pasar lelang bunga. Dan lagu Waarom Huil Je tot Nona Manies (Mengapa Kau Menangis) diciptakan ketika Soetedja harus berpisah dengan pacarnya. Soetedja harus pulang ke Indonesia karena telah menyelesaikan studi di konservatori musik Roma Italia.

Masyarakat hanya mengenal sebagian lagu ciptaannya. Di antaranya Tidurlah Intan yang sempat menjadi closing song siaran bahasa Indonesia radio Australia. Lagu-lagu lainnya seperti Hamba Menyanyi, Mutiaraku, Di Tepinya Sungai Serayu dan Kopral Jono.

Lagu Kopral Jono digubah secara khusus untuk menyindir keponakan Soetedja yang berpangkat kopral tapi sangat playbloy. Sedangkan lagu Tidurlah Intan diciptakan untuk meninabobokan buah hatinya.

Sumber Rujukan :

Jejak Soetedja, Purwokertokita.com, diakses pada 20 Oktober 2018

Soetedja, Seabad (In-Memoriam), Sugeng Wijono, Blog Banyumas Cekakakan, diakses pada 20 Oktober 2018

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here