Sejarah Sate Klatak Yogyakarta

0
378
Gambar diambil dari Visitingjogja.com yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sate Klatak selama ini telah menjadi salah satu ikon kuliner Yogyakarta, selain gudeg dan bakpia yang juga telah dikenal luas. Bagi para pelancong yang tengah berlibur di Yogyakarta, sate klatak biasanya menjadi salah satu kuliner yang wajib dicicipi. Daging yang empuk, cita rasa yang khas, serta keunikan cara pembakaran dan penyajiannya, menjadikan sate klatak bak magnet yang selalu menarik wisatawan.

Salah satu keunikan dari sate klatak adalah cara pembakarannya yang menggunakan jeruji besi sebagai tusuk sate. Hal yang tak lazim tentunya, karena sate umumnya menggunakan tusuk berbahan dari bambu. Selain itu, sate klatak juga hanya menggunakan bumbu sederhana berupa garam, berbeda dengan sate biasanya yang dilumuri bumbu lengkap sebelum dibakar.

Warung-warung sate klatak mudah dijumpai di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Di lokasi ini, terdapat puluhan warung sate berjejer yang menyajikan menu utama sate klatak. Di antara deretan warung sate tersebut, terdapat satu warung sate yang menjadi tonggak sejarah sate klatak di Yogyakarta. Warung Sate Klatak Pak Jupaini, warung sate ini menggunakan nama sang pelopor sate klatak, yakni Jupaini.

Asal Usul Sate Klatak

Sate klatak pertama kali dibuat oleh Jupaini, kala itu Jupaini yang bekerja sebagai kusir andong memutuskan untuk beralih mata pencaharian menjadi penjual sate kambing. Berbeda dengan sate pada umumnya, Jupaini hanya menggunakan garam sebagai bumbu untuk melumuri daging kambing sebelum dibakar. Ketika dibakar, percikan bara api yang membakar garam menghasilkan suara “klatak klatak klatak”. Dari suara garam yang terbakar inilah nama sate klatak berasal.

Jupaini kemudian memiliki ide lain untuk menjual sate kambing dengan kemasan yang tidak biasa. Dia menggunakan jeruji sepeda untuk tusuk sate sebagai pengganti bambu. Siapa sangka, penggunaan jeruji sepeda sebagai tusuk sate ternyata menjadikan daging kambing matang lebih merata. Berbeda jika menggunakan tusuk sate berbahan dari bambu, tusuk sate bisa patah karena ikut terbakar sebelum daging matang sempurna. Penggunaan jeruji sepeda sebagai tusuk sate inilah yang menjadi salah satu keunikan dari sate klatak dan menjadikan sate klatak populer sebagai salah satu ikon kuliner Nusantara.

Baca : [ Apa yang Diperoleh dari Konsumsi Sate? ]

Penyajian Sate Klatak

Satu porsi sate klatak biasanya hanya berisi dua sampai tiga tusuk sate. Porsi ini sebetulnya bukan porsi yang sedikit, karena potongan daging kambing pada sate klatak memiliki ukuran yang cukup besar dan tebal. Penggunaan daging kambing muda sebagai bahan utamanya, menjadikan sate klatak memiliki tekstur yang empuk ketika digigit. Satu porsi sate klatak biasanya disajikan bersama dengan kuah kare yang mirip dengan kuah gulai. Bagi yang suka pedas, bisa meminta irisan cabai rawit untuk dicampurkan ke dalam kuah kare.

Penggunaan kuah kare sebagai menu pendamping sate klatak sudah dimulai sejak pertama kali sate klatak dibuat oleh Jupaini. Jupaini memadukan beragam bumbu dalam kuah kare yang disajikan dengan sate klatak yang hanya menggunakan bumbu sederhana berupa garam. Cara penyajian ini bertahan sampai dengan sekarang dan menjadi keunikan tersendiri dari cara penyajian sate klatak. Sate kambing pada umumnya disajikan menggunakan bumbu kecap.

Baca : [ Kotagede : Sudut Tenggara Kota Yogyakarta yang Terkenal dengan Kerajinan Perak ]

Menjadi Resep Warisan Keluarga

Dari puluhan warung sate klatak yang berjejer di sepanjang Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, terdapat sebagian warung sate klatak yang merupakan keturunan dari Jupaini, sang pelopor sate klatak. Warung Sate Pak Jupaini saat ini diteruskan dan dikelola oleh anak kandung Jupaini, yakni Kabul bersama dengan istrinya. Tiga dari sembilan anak Jupaini memiliki usaha warung sate klatak, yakni Maadi, Hawing dan Kabul.

Selain anak-anak Jupaini, dua cucu Jupaini, yakni Pak Nyong dan Pak Pong yang merupakan kakak beradik juga membuka usaha warung sate klatak. Warung Sate Klatak Pak Pong saat ini menjadi salah satu warung sate yang tersohor dan selalu menjadi “jujugan” para pelancong ketika berkunjung ke Yogyakarta.

Sumber Rujukan :

Asal Mula Penemuan Satai Klatak, Liputan6.com, diakses pada 23 Agustus 2019.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here