Jamjaneng, Kesenian yang Digunakan Sunan Kalijaga sebagai Media Dakwah

0
85
Grup seni Jamjaneng yang berada di Desa Purwosari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Sejumlah laki-laki terlihat memainkan alat musik berbentuk lingkaran berlapis kulit, suara mereka terdengar melagukan kisah-kisah dan pesan melalui tembang selawat. Ketika dilihat, bentuk alat-alat musiknya mirip dengan rebana, namun cara memainkan dan bentuk pertunjukannya berbeda.

Mereka adalah grup seni Jamjaneng yang berada di Desa Purwosari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Salah satu sesepuh grup, Kyai Sobirin menuturkan, seni Jamjaneng di Desa Purwosari mulai aktif kembali sekitar tahun 1989. Setelah sebelumnya sempat tidak aktif hampir sepuluh tahun. Kyai Sobirin bersama sejumlah pemuda mencoba menghidupkan kembali kesenian tersebut. Jamjaneng, di kalangan masyarakat juga dikenal dengan sebutan “Bersholawat”.

Sobirin bersama rekan-rekanya menjadi generasi kedua dari grup yang sebenarnya sudah eksis di Cipari sebelum tahun 1965. Kesenian Jamjaneng dijadikan media dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan budaya Islam pada masa itu. Menurut Sobirin, kesenian Jamjaneng ini lebih ditekankan kepada pesan-pesan kehidupan, mengingatkan manusia akan kematian, agar dalam setiap lini kehidupan di dunia selalu berbuat baik.

Grup seni Jamjaneng di Desa Purwosari, Cilacap ini merupakan salah satu potret wujud nyata masyarakat dalam upaya melestarikan Jamjaneng. Sebuah kesenian bernapaskan Islam yang berasal dari wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Baca : [ Mengenal Tradisi Ujungan di Banjarnegara untuk Memohon Hujan ]

Awal Mula Kesenian Jamjaneng

Jamjaneng mulai ada ketika masa Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam dan memasukan unsur seni sebagai salah satu metode dakwahnya. Pada zaman kesultanan Demak, agama Islam tersebar di berbagai penjuru Jawa Tengah, termasuk juga wilayah Kabupaten Kebumen dan salah satu penyebarnya adalah Sunan Kalijaga.

Di Demak, Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit dengan musik gamelan sebagai media dakwah. Ketika ingin melakukan hal serupa di wilayah Kebumen, Sunan Kalijaga kesulitan mendapatkan gamelan lantaran jauh dari perajin pada saat itu dan harganya mahal. Sunan Kalijaga kemudian menyuruh orang untuk membuat alat kesenian dari potongan kayu yang dilubangi dan salah satu bagian permukaannya ditutup dengan kulit binatang. Sedangkan untuk gendang, ditutup kedua bagian permukaannya.

Pembuat alat tersebut adalah seorang tukang yang berasal dari daerah Kebumen bernama Ki Jamjani. Di sela-sela Sunan Kalijaga memberikan pengajian, alat musik dari kayu tersebut dimainkan dengan melantunkan syair selawat. Namun sampai Ki Jamjani meninggal, kesenian tersebut belum memiliki nama, hasil kesepakatan masyarakat dan atas saran Sunan Kalijaga, kesenian tersebut kemudian diberi nama Jamjaneng, karena alatnya adalah hasil karya Ki Jamjani. Sepeninggal Sunan Kalijaga, kesenian Jamjaneng kemudian berkembang luas di wilayah Kebumen, hingga ke daerah-daerah di sekitar Kebumen, salah satunya Cilacap.

Baca : [ Makna Filosofi Pacul, Wejangan Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela ]

Alat Musik Jamjaneng

Alat musik yang dimainkan dalam kesenian Jamjaneng terbuat dari kayu dan kulit yang dibuat menjadi lima macam bentuk. Lima bentuk tersebut adalah Gong, Petengah, Kenong, Gendang dan Ketipung.

  • Gong : Bentuknya seperti rebana besar dengan garis tengah kurang lebih 60 cm sampai dengan 70 cm.
  • Petengah : Bentuknya seperti Gong, namun berukuran lebih kecil dengan garis tengah kurang lebih 30 cm sampai dengan 40 cm.
  • Kenong : Rebana paling kecil dengan ukuran garis tengah 25 cm sampai dengan 35 cm.
  • Gendang : Bentuknya sama dengan alat musik gendang yang digunakan dalam kesenian karawitan.
  • Ketipung : Sama dengan gendang, namun memiliki ukuran yang lebih kecil.

Syair Jamjaneng

Syair-syair yang dilantunkan dalam kesenian Jamjaneng merupakan syair selawatan yang diambil dari kitab Al Barzanji atau syair-syair lain bernapaskan Islam yang menyampikan pesan tentang kebaikan dalam Islam. Sebagian besar syair dalam kesenian Jamjaneng dituliskan dalam bentuk Pegon, aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa. Dalam penulisannya, Pegon tidak diberi tanda-tanda bunyi (diakritik), atau lebih dikenal di kalangan masyarakat dengan istilah tulisan Arab gundul.

Sumber Rujukan :

Jamjaneng, Website Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen, diakses pada 27 Agustus 2019.

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here