Menilik Falsafah Hidup Masyarakat Jawa dan Maknanya

0
310
Gambar ilustrasi pixabay.com

Masyarakat Jawa selama ini dikenal sebagai masyarakat yang kental dalam menjaga adat dan tradisi, serta kearifan lokalnya. Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari masyarakat Jawa adalah tentang cara pandang terhadap kehidupan, atau yang lebih dikenal dengan falsafah hidup masyarakat Jawa.

Meski falsafah hidup masyarakat Jawa berasal dari kearifan lokalnya, namun tidak menutup kemungkinan kita bisa mempelajarinya dan menerapkannya dalam kehidupan di mana pun kita tinggal. Berikut ini falsafah hidup masyarakat Jawa yang bisa Anda pelajari dan terapkan sebagai pedoman diri dalam menjalani kehidupan.

Sepi Ing Pamrih

Selain diciptakan sebagai makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk individu yang memiliki kehidupannya sendiri. Namun menjadi makhluk individu bukan berarti harus menjadi individualisme yang mengarah pada egoisme. Egoisme inilah yang oleh masyarakat jawa disebut sebagai pamrih.

Pamrih juga menjadikan seseorang acap mengambil keuntungan atas perbuatan-perbuatan yang dia lakukan demi kepentingannya sendiri. Sikap seperti inilah yang harus bisa dihilangkan oleh seseorang atau yang disebut dengan sepi ing pamrih.

Seseorang harus bisa ikhlas dalam melakukan setiap perbuatan dan menjalani kehidupan dengan cara yang sederhana. Apa pun perbuatan baik yang dilakukan tidak perlu dipamerkan pada orang lain. Tidak menganggap diri sendiri paling hebat dan tidak mengharap balas jasa pada perbuatan baik yang telah dilakukan.

Rame Ing Gawe

Rame ing gawe bisa diartikan sebagai bekerja keras. Kerja keras yang dimaksud bukan hanya kerja untuk memenuhi kewajiban sendiri dan keluarga, tapi juga bekerja keras untuk memenuhi kewajiban dan perannya dalam kehidupan sosial masyarakat.

Sikap rame ing gawe juga harus bisa dilandasi dengan sikap sepi ing pamrih, sehingga segala sesuatu yang dikerjakan, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun untuk kepentingan masyarakat, bisa dilakukan dengan ikhlas.

Baca : [ Jamjaneng, Kesenian yang Digunakan Sunan Kalijaga sebagai Media Dakwah ]

Narima Ing Pandum

Rezeki dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang pastinya berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu, kita harus bisa memiliki sikap narima ing pandum, atau memiliki sikap sadar atas perbedaan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang.

Sikap narima ing pandum akan menjadikan diri kita terhindar dari perasaan iri dan dengki yang bisa mengarahkan pada perbuatan-perbuatan tercela. Kita akan menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan memiliki pengendalian diri yang baik dalam menjalani kehidupan.

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Mikul dhuwur mendhem jero merupakan falsafah hidup bagi seorang anak. Mikul dhuwur memiliki arti memikul tinggi-tinggi, yang bermakna seorang anak harus bisa senantiasa meninggikan derajat orang tuanya, mengharumkan nama ayah dan ibu dan menjaga martabat keluarga.

Sementara mendhem jero memiliki arti mengubur dalam-dalam, yang bermakna seorang anak harus bisa mengubur dalam-dalam keburukan yang dimiliki oleh orang tuanya, serta mengubur aib yang mungkin dimiliki oleh keluarganya.

Baca : [ Mengenal Tradisi Begalan pada Masyarakat Banyumas ]

Wani Ngalah

Wani ngalah memiliki arti berani mengalah. Sikap wani ngalah berbeda dengan kalah, karena orang yang berani mengalah lebih mengedepankan untuk menjaga perasaan orang lain daripada menuruti egonya sendiri. Permusuhan, pertengkaran ataupun pertarungan dianggap hanya akan menimbulkan kerugian bagi kedua pihak yang bertentangan, sehingga tidak ada manfaat positifnya.

Orang yang memiliki sikap wani ngalah, akan memiliki prinsip menang ora kondhang kalah wirang yang memiliki arti kemenangan tidak menjadi sebuah kebanggaan dan kekalahan hanya akan memalukan. Orang yang berani mengalah akan bisa menempatkan diri pada situasi apa pun dan bijaksana dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

Falsafah hidup masyarakat Jawa seperti ini menjadi sebuah kearifan lokal yang tetap relevan untuk diterapkan oleh semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Bisa mempelajari dan menerapkannya dalam setiap perilaku, akan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang arif dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Simak video pilihan kami

Berbagi dan Diskusi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here